Bangsa Bodoh Atau Senang Dibodohi?

Figure Drinking From Dollar FaucetMalam itu saya berkesempatan melakukan kunjungan ke seorang relasi dakwah. Beliau pernah menjabat di perusahaan perminyakan nasional yang sekarang sudah memasuki masa pensiun. Menariknya, sebagai pensiunan pejabat perusahaan minyak rumahnya kelewat bersahaja bila dibandingkan dengan mantan-mantan pejabat negeri ini. Terletak di dalam gang di pinggir kota Hujan, tidak besar dan tidak ada kendaraan mewah parkir di garasinya.

Saya menyengaja membawa tabloid Media Umat yang mengusung tema Asing Menjarah Sumberdaya Alam. Dengan harapan ada pembicaraan yang bisa ‘satu frekuensi’ dengan beliau. Dugaan saya benar, malam itu beliau bercerita cukup panjang lebar dan sedikit emosional soal kondisi perminyakan di negeri ini. Terutama saat beliau bercerita betapa para pejabat di negeri ini amat mendewa-dewakan tenaga kerja ekspatriat yang dikontrak oleh perusahaan perminyakan nasional. Seperti ada keharusan menyewa tenaga kerja asing terutama asal Amerika Serikat sebagai tenaga ahli. Ada kesan penguasa dan pejabat terkait meremehkan kemampuan para insinyur putra Indonesia.

Bule-bule yang disewa negara itu sudah pasti mendapat perlakukan istimewa dan upah yang besar. Jauh dibandingkan tenaga ahli asal negeri sendiri. Tapi yang membuat beliau emosional adalah banyak tenaga asing yang ternyata tidak becus bekerja. Ia pernah marah pada seorang bule yang bekerja sama dengannya. “You mau nyedot air sumur atau minyak bumi?” hardiknya. Beliau lalu memberitahu kesalahan-kesalahan metode kerja si bule tersebut. “Darimana kamu tahu?” tanya si bule keheranan. Kenalan saya ini langsung menyodorkan buku pegangan kerjanya yang berbahasa Indonesia. “Kalau you tidak percaya translate saja buku ini!” ujarnya kesal.

Beliau makin kesal setelah belakangan diketahui kalau si bule itu tidak punya latar belakang bekerja di dunia perminyakan. Profesi asli si bule itu ternyata koki di sebuah kapal pesiar. Relasi saya ini bercerita bahwa banyak kongkalikong yang dilakukan para pekerja asing di negeri ini yang merugikan bangsa. Misalnya seorang ekspatriat yang disewa oleh negara ini lalu membawa timnya untuk bekerja di tanah air. Padahal personil timnya itu tidak semua ahli di bidang perminyakan. Mereka adalah konco-konco si bule yang diajak bancakan sumberdaya alam di negeri ini. Untuk mengelabui para pejabat di sini dibuatlah informasi palsu, atau mereka diberikan pelatihan singkat soal perminyakan, dsb. Pantas saja seorang koki pun bisa bekerja di ladang minyak. “Banyak di antara mereka itu luntang lantung gak ada kerjaan di kilang minyak,” tutur beliau.

Bapak ini bercerita lagi, suatu ketika ada seorang tenaga ahli warga Amerika keturunan Israel yang bekerjasama dengannya. Si bule ini heran kenapa pemerintah Indonesia selalu menyewa tenaga ekspatriat untuk pekerjaan yang sebenarnya bisa dilakukan tenaga lokal. Ia menyarankan agar sebaiknya pemerintah Indonesia mengirimkan saja tenaga ahli asli negeri sendiri untuk belajar ke luar negeri selama beberapa tahun, lalu setelah itu pulang dan menggarap sendiri tambang-tambang minyak di dalam negeri. Tidak perlu menyewa tenaga kerja asing.

Perasaan saya bercampur aduk mendengar cerita tersebut. Muncul pertanyaan apakah bangsa kita sebodoh itu sehingga mau dibodoh-bodohi? Atau jangan-jangan menjadi bangsa yang senang dibodohi? Tapi semua berpulang kepada penguasa negeri. Merekalah yang menentukan hitam-putih dan maju-hancurnya negeri ini. Bila para penguasanya bermental jongos, lebih senang tunduk pada kaum imperialis, maka rakyat sendiri akan dibuat menangis.

Para penguasa itu tidak takut bahwa jabatan adalah amanah yang suatu saat akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah. Membodohi rakyat apalagi bekerjasama dengan para penjajah adalah pengkhianatan besar bagi amanah negeri ini. Padahal Nabi saw. sudah mengancam mereka:

مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيهِ اللَّهُ رَعِيَّةً يَمُوتُ يَوْمَ يَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ إِلاَّ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ

“Tidaklah seorang hamba diangkat oleh Allah untuk mengurus rakyatnya lalu dia mati dan ketika mati dia menipu rakyatnya melainkan Allah haramkan baginya surga.”(HR. Bukhari, Muslim).

Incoming search terms:

  • pejabat pejabat bodoh dari negara islam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *