Baik Saja Tak Cukup

thumb downSeringkah Anda dinasihati orang agar menjadi orang ‘baik’? Banyak orang yang sering meminta kita jadi orang baik. Maksud mereka kita tidak usah ngoyo alias ngotot memperjuangkan Islam hingga tuntas. Warnai saja keadaan yang ada dengan nilai Islam. That’s enough. Cukup.

Tapi benarkah cukup bagi kita menjadi orang baik? Bisakah menjadi orang baik ‘sendirian’ tanpa didukung dan mendukung lingkungan?

Nasihat di atas sepertinya indah tapi mengandung banyak kesalahan. Mereka sudah terperangkap pada simplifikasi persoalan. Logika mereka, dengan setiap orang menjadi ‘baik’ maka kebaikan akan datang. Mereka juga berpendapat kerusakan yang sekarang ini terjadi hanyalah pada individu, bukan pada sistem yang berlaku. Sistemnya sudah oke, orangnya yang tidak oke. Benarkah begitu?

Sayangnya tidak demikian. Masyarakat itu bukan hanya kumpulan orang. Masyarakat itu adalah kumpulan individu yang saling berinteraksi. Dimana mereka juga bersepakat untuk membuat aturan bersama dan menciptakan perasaan bersama. Sehingga satu sama lain dapat saling mempengaruhi dan terpengaruhi.

Misalnya banyak orang Indonesia yang berkunjung ke luar negeri seperti ke Jepang atau Singapura mendadak jadi ‘sopan’; tak buang sampah sembarangan, tak merokok di sembarang tempat, tepat waktu karena takut ketinggalan bus, dsb. Padahal di tanah air kita mau buang sampah ke mana saja tak ada yang peduli. Di tanah air kita tak pernah takut ketinggalan angkutan umum seperti Mikrolet atau angkot karena jumlahnya banyak dan bisa berangkat kapan saja. Bukti, bahwa orang menjadi baik karena ‘dipaksa’ oleh aturan dan nilai budaya yang baik.

Menjadi orang baik ‘sendirian’ di alam ini juga sungguh tak aman dan nyaman. Perempuan yang baik-baik bisa kapan saja dilecehkan dimana saja; di kendaraan umum, di tempat kerja bahkan di madrasah.

Kenapa banyak pelecehan seksual terjadi? Karena stimulan atau rangsangannya kelewat banyak. Film porno, majalah porno, pakaian minim, dsb. gampang dicari dimana-mana. Pornografi bisa begitu banyak karena tak ada regulasinya apalagi aturan yang melarangnya. Predator anak-anak bermunculan dimana-mana di antaranya juga karena persoalan pornografi selain juga tak ada larangan orang berperilaku gay atau lesbian.

Orang baik juga bisa menjadi korban perampokan dan pembunuhan. Kenapa banyak orang berani melakukan pembunuhan dan perampokan? Bisa karena persoalan ekonomi dan juga karena tak ada hukum pidana yang cukup keras untuk menakut-nakuti mereka. Hukum yang ada kelewat ringan untuk membuat calon pelaku kriminal takut.

Orang baik memang bisa tidak minum minuman keras, bisa tidak melacur, bisa tidak menyakiti orang lain, tapi tak bisa menghentikan distribusi dan penjualan miras, lokalisasi pelacuran dan kejahatan. Itu semua sudah banyak masuk di ranah “peraturan” dan “hukum”. Karenanya orang baik dan bila ingin terus baik itu membutuhkan peraturan hidup yang baik. Sistem yang baik.

Logis bila banyak orang yang berjuang ingin menegakkan syariat Islam dalam kehidupan sekarang. Karena Islam aturannya komplit; menata orang agar menjadi pribadi yang baik sekaligus menata masyarakat agar memiliki aturan yang baik.

Berusaha menjadi baik tanpa mengubah sistem kehidupan agar menjadi baik adalah utopia. Sama dengan menambal baju yang lapuk agar layak pakai. Sia-sia. Sudah seharusnya baju lapuk itu diganti dengan yang baru, bersih, kuat bahannya dan indah warnanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.