Antara Toxic Positivity & Berempati

“Semangat, bro!”

“Jangan menyerah. Banyak orang masalahnya lebih berat dari elu!”

“Pelaut ulung tak lahir di laut yang tenang!”

Itu sekelumit kata-kata motivasi yang bisa kita berikan saat seseorang mengeluhkan masalah hidupnya. Sudah menjadi resep umum, bila ada orang tertimpa musibah maka orang terdekat harus menyemangatinya dengan kata-kata positif.

Namun belakangan sedang populer bahasan toxic positivity. Beberapa pakar psikologi mengungkapkan bila tidak selamanya ungkapan-ungkapan penyemangat baik bagi individu yang sedang tertimpa musibah. Ungkapan-ungkapan macam itu malah bisa menjadi ‘racun’ bagi orang yang tengah dirundung masalah.

Kata-kata yang biasanya bisa menjadi toxic positivity misalnya ‘berpikir positif ajalah!’, ‘ambil hikmahnya…’, atau ‘udah lah biasa aja kali!’. Menurut Psikolog klinis dari Personal Growth Veronica Adesla, kata-kata tersebut bisa memperburuk kesejahteraan psikologis orang tersebut.

“Pada kondisi seperti tersebut, ia dapat merasa bahwa: 1) persoalannya diremehkan; 2) perasaannya tidak diterima; 3) tidak seharusnya ia merasakan emosi yang saat itu dirasakan; 4) tidak harusnya ia mengeluh; 5) merasa bersalah karena telah mengungkapkan keluh kesah dan gundah gulana hatinya,” paparnya. Dengan begitu, orang yang sedang terkena masalah justru merasa makin bersalah saat mendengar kalimat-kalimat penyemangat. Inilah yang disebut ‘racun penyemangat’ alias toxic positivity.

Bila dicermati dengan seksama, terjadinya racun penyemangat itu datang dari ketidakcermatan orang-orang di sekitarnya dalam menyikapi kondisi saudaranya. Mereka yang tertimpa musibah lebih dulu membutuhkan empati dan didengarkan ketimbang motivasi atau bahkan bantuan. Orang yang terkena musibah ingin mencari tempat untuk berbagi kesedihan dan bisa leluasa menumpahkan perasaan dukanya. Ia ingin dimengerti dan ingin orang lain bisa merasakan apa yang ia rasakan.

Lihatlah bagaimana al-Qur’an menegaskan pada kita bahwa sebagian hidup ini memang berisi ujian berupa musibah. Dengan ayat-ayat itu Allah SWT. bermaksud meneguhkan hati insan yang tertimpa musibah bahwa kejadian itu memang sunnatullah. Barulah pada ayat-ayat yang lain Allah memberikan berbagai motivasi bagi hamba-hambaNya.

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.(TQS. al-Baqarah: 155)

Dalam ayat lain Allah berfirman:

Dialah Allah yang menjadikan seorang tertawa dan menangis (TQS. An-Najm: 43).

Ketika seorang kawan kehilangan dompet berisi surat-surat penting, maka yang ia butuhkan tepukan di bahu sebagai tanda empati, dan sikap empati seperti mendengarkan dan duduk menemaninya. Akhirkan ungkapan-ungkapan penyemangat atau tawaran memberikan bantuan.

Orang yang baru saja kehilangan sanak saudara, tempat tinggal atau usaha, yang memukul hatinya, membutuhkan teman untuk berbagi kenangan indah bersama mendiang keluarganya. Ia butuh teman menyimak ceritanya dan teman untuk berbagi kesedihan. Ia butuh waktu untuk bisa menguasai dirinya lagi. Dalam keadaan seperti itu menangis adalah salah satu cara biologis untuk menenangkan dirinya. Ketika menangis maka badan manusia memproduksi hormon endorfin yang dapat menenangkan pikiran.

Kapan saat yang tepat kalimat motivasi diberikan? Biasanya setelah seseorang merasa tenang, perlahan semangatnya bisa dibangkitkan lagi. Tentu dengan tidak mengecilkan nilai musibah yang menimpanya, atau membuatnya merasa bersalah karena telah curhat atau bersedih karena kejadian tersebut. Peran keluarga dan teman-teman di sekitar amat penting untuk membangkitkan semangat dan tentu saja mau mendengarkan curhatnya.

Tentu saja bukan berarti terus menerus berduka adalah baik. Sedari awal setiap muslim harus memahami bahwa hidup ini adalah ladang ujian; kebaikan atau keburukan. Saat musibah datang ia telah memiliki pemahaman akan makna musibah, cara menyikapinya, dan ganjaran kesabaran saat mendapat musibah.

Seorang muslim pun berkeyakinan bahwa Allah Ta’ala tak akan menzalimi hambaNya. Hatinya selalu berprasangka baik pada Allah meskipun berat ia rasakan. Untuk itu penting baginya untuk selalu melihat pada musibah yang lebih besar yang menimpa orang lain. Kemudian ia selalu mencari hikmah dari setiap kejadian yang datang padanya. Dengan begitu jiwanya akan mantap dan bisa lekas bangkit saat tertimpa musibah.

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji´uun” Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk (TQS. al-Baqarah: 155-157)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.