Antara Tel Aviv, Gaza dan Suriah

hamasIsrael dan Hamas akhirnya memilih untuk melakukan gencatan senjata. Ini bukan kemenangan bagi Palestina dan juga bukan akhir serangan dari Israel. Keputusan gencatan senjata yang dilakukan Israel hakikatnya hanyalah menunda serangan demi serangan berikutnya. Syahwat Israel untuk terus melakukan ethnic cleansing muslim dan warga Palestina tidak akan pernah surut. Dokumen rahasia militer Israel yang bocor menyebutkan rencana pemerintah Israel untuk membersihkan  kota Latakia dan Jabal Hanon dari warga Palestina. Agresi militer Israel berikutnya hanya soal waktu.

Selain itu, Israel juga berkepentingan untuk menjaga negaranya dari kemungkinan munculnya pemimpin Arab atau penguasa dunia Islam pasca revolusi Arab yang menempatkan Israel sebagai musuh dan melakukan operasi militer. Sejauh ini, Tel Aviv masih merasa ‘aman’ karena nyaris tiada ancaman serius dari negara-negara tetangganya. Iran yang sering mengumandangkan permusuhan terhadap Israel dan AS tidak pernah melakukan pergerakan militer yang berarti, selain milisi Hizbullah yang terkadang saja merepotkan. Itupun tatkala Israel melakukan serangan ke kantong-kantong kekuasaan mereka seperti pada tahun 2006.

Sebab itulah operasi militer Israel yang dilakukan kemarin juga bertujuan sebagai test-case terhadap nyali para pemimpin dunia Arab pasca Arab-Spring; akankah mereka bereaksi beda dengan para pemimpin yang telah ditumbangkan sebelumnya – yang notabene adalah sekutu Israel dan AS –, ataukah konstan? Hasilnya Israel masih merasa aman karena dunia Arab yang baru tidak beranjak dari politik retorika, bukan sebagai negara yang memiliki spirit keislaman.

Terbukti dari pertemuan para menteri luar negeri di Doha, Qatar, semua pemimpin Arab bersepakat untuk tidak menggerakkan militernya untuk menghentikan kekerasan di Gaza. Bahkan Presiden Mursi dari Mesir yang diharapkan banyak pihak bisa memberikan tekanan lebih keras terhadap Israel, juga ikutan bersikap lunak. Ia pun tidak menggerakkan pasukan Mesir meski pesawat terbang Israel sudah masuk sejauh 40 km dari perbatasan negaranya.

2-0 untuk Israel. Mereka berhasil meluluhlantakkan sebagian besar kekuatan Hamas dan membunuhi warga sipil, juga sukses mendapatkan kembali rasa aman dari kemungkinan ancaman negara-negara Arab tetangganya. Ternyata tidak ada yang berubah dari hasil Arab Spring lalu. Semua pemimpin Arab tetap menjaga hubungan ‘baik’ dengan Israel. Tak seorang pun berinisiatif menggerakkan tentaranya untuk menggempur Israel.

Menunggu Suriah

Tinggal satu tanda tanya yang tersisa dari Arab Spring; Suriah. Apakah Bashir Assad mampu mempertahankan tahtanya atau tumbang di tangan kaum oposisi. Keluarga rezim Assad meski disokong oleh Rusia dan Cina akan tetapi menjalin persahabatan erat dengan Israel dan AS. Tahun lalu perwakilan Yahudi Amerika Serikat  Malcolm Hoenlein melakukan kunjungan ke Suriah untuk bertemu dengan Bashir Assad. Meski kunjungan itu disebut sebagai ‘misi kemanusiaan’ akan tetapi patut diduga berisi dukungan kepada Assad dalam menghadapi pergolakan dalam negerinya.

Israel masih terus mengamati perkembangan politik di Suriah. Apalagi kejatuhan rezim Bashir Assad sudah mendekati keniscayaan. Kekuatannya mulai melemah. Negara-negara yang dianggap sebagai sekutunya seperti Cina dan Rusia ternyata tidak memberikan sokongan seperti yang diharapkan.

Sementara itu sejumlah kelompok oposisi utama kelompok Islam di propinsi Aleppo, termasuk Front Al-Nusra, telah menolak blok oposisi baru di Suriah, dengan mengatakan bahwa mereka menginginkan sebuah Negara Islam/Khilafah. Mereka menolak campur tangan asing, menolak pemerintahan bentukan asing dengan apa yang disebut Koalisi Nasional, dan bersikukuh hanya ingin mendirikan negara Islam.

Hal ini diperkuat dengan pernyataan PM Israel Benjamin Netanyahu sebagaimana dilansir almasryalyoum, rabu (14/11) di mana PM Israel Netanyahu mengatakan negaranya sedang menghadapi tantangan baru di Suriah dengan menguatnya jihad global di Suriah yang anti Israel.

Pernyataan ini disampaikan setelah ia melakukan inspeksi ke Dataran Tinggi Golan, didampingi menteri pertahanan Ehud Barak dan wakil kepala staff Mayjen Yair Nave

Sebelumnya seperti yang dilansir almasryalyoum, rabu (14/11) PM Israel Netanyahu mengatakan negaranya sedang menghadapi tantangan baru di Suriah dengan menguatnya jihad global di Suriah yang anti Israel.

Amerika serikat yang semula ingin memanfaatkan kelompok oposisi untuk ikut menjatuhkan Bashir Assad dalam rangka menguasai Suriah juga menampakkan kecemasannya akan perkembangan pergolakan politik di Suriah. AS nampaknya tidak berhasil mendekati dan menguasai para pemberontak, terutama kelompok-kelompok Islam. sebagai ganti taktiknya, AS mulai melakukan kampanye murahan untuk mendeskriditkan para pejuang Islam di Suriah. Menlu AS Hillary Clinton misalnya menuding kelompok Islam yang beroposisi di Suriah sebagai kelompok pembajak dan ekstrimis. “Strongly resist the efforts by the extremists to hijack the Syrian revolution”, tuding Hillary.

Karenanya gencatan senjata yang dilakukan oleh Israel dan penguasa Gaza sebenarnya mengikuti skenario Tel Aviv, agar mereka dapat mengamankan front Selatan – Mesir dsb. –, sehingga mereka dapat berkonsentrasi untuk mewaspadai front Utara dari kemungkinan jatuhnya Suriah ke tangan kelompok Islam ‘garis keras’ yang menghendaki berdirinya negara Islam. Bila Bashir Assad jatuh lalu kekuasaan berada di tangan kelompok mujahidin, maka hal ini bisa menjadi ancaman serius bagi Israel.

Tapi dengan gencatan senjata kemarin, Israel telah mengunci semua negara di front Selatan, termasuk Gaza, Mesir, Yordan, agar tidak mengganggu stabilitas negara Yahudi tersebut. Untuk wilayah Selatan, Israel sebenarnya sudah merasa tenang karena dari serangan militer kemarin yang menjadi test-case bagi sikap para penguasa Arab terhadap Israel, nampak kesetiaan para pemimpin Arab terhadap hubungan baik dengan Israel.

Para pemimpin Arab yang notabene muslim dan memiliki kekuatan militer yang besar, hanya menjadi macan kertas yang berkoar-koar mengutuk Israel, tapi tidak melakukan aksi nyata untuk menghajar negara zionis tersebut. Mereka merasa sudah cukup dengan melumuri mulut mereka dengan sumpah serapah, mengirimkan bantuan medis, uang, atau membuka perbatasan. Padahal mereka bisa – dan seharusnya – melakukan lebih dari itu. Tapi tak ada satupun yang berjiwa ksatria untuk menolong si lemah Gaza dari kezaliman Israel.

Mengharap para pemimpin Arab mau menghajar Israel dengan kekuatan militer seperti menegakkan benang basah. Suatu hal yang mustahil. Siapa yang sanggup? Hanya kekuatan tentara Islam dalam kepemimpinan Khilafah Islamiyyah yang bisa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.