Tarian Telanjang; Kemesuman Berkedok Seni

tolak pornografiSebagian orang Indonesia kini mulai berani menampilkan ketelanjangan di muka publik. Pada tanggal 17 Oktober lalu satu grup penari telanjang arahan koreografer asal Kanada Daniele Leveille Danse tampil di Teater Salihara, Jakarta. Kelompok penari itu terdiri dari tiga penari pria dan satu wanita tampil telanjang di atas panggung. Mereka melompat, berguling bahkan nungging di atas panggung.

Penari sekaligus koreografer, seorang penarinya mengatakan, “Bagi kami tubuh telanjang adalah bagian dari kostum. Ketelanjangan adalah  kostum itu sendiri.”

Dalam situsnya, Komunitas Salihara menuliskan, “Tubuh telanjang tidakselalu menjadikan pelihatnya terangsang. Tari telanjang pun tidak selalu berkutat dalam bingkai erotis pemancing syahwat.”

*********

Pembaca yang dimuliakan Allah, kita sudah sering mendengar orang yang menyebut dirinya budayawan dan seniman berdalih ketelanjangan adalah bagian dari seni selama tidak menimbulkan rangsangan atau syahwat. Beda dengan pornografi yang memancing syahwat, ketelanjangan dalam seni bernilai artistik. Salah satunya adalah pentas tari telanjang yang digelar Komunitas Salihara tersebut.

Beberapa tahun silam kasus ini pernah muncul dan akan terus bermunculan. Dulu artis Sophia Latjuba juga pernah diperkarakan karena pose seronoknya di sebuah majalah lelaki. Akan tetapi ia lolos dari jerat hukum dengan dalih seni. Begitupula Anjasmara pernah tampil hampir bugil dalam berbagai pose pada sebuah pameran fotografi bertema Adam dan Hawa. Lagi-lagi ia lolos dengan alasan seni. Kalangan yang membela dan menayangkan hal seperti ini selalu berdalih semua adalah seni, bukan erotisme, sehingga tidak memancing syahwat atau birahi.

Tentu saja hal ini mengundang keheranan dan kebingungan kita sebagai umat Islam; bagaimana bisa ketelanjangan dipandang sebagai seni?

Bila begitu semua ketelanjangan akan menjadi boleh dengan alasan seni. Lalu ketelanjangan seperti apa yang bukan seni? Apa bedanya ketelanjangan yang tidak menimbulkan syahwat dan yang menimbulkan syahwat bagi orang yang melihatnya? Lalu siapa yang berhak menentukan sesuatu itu menimbulkan syahwat atau tidak? Bukankah bagi lelaki yang terbiasa melihat perempuan telanjang maka tidak akan muncul syahwatnya bila melihat ketelanjangan? Bukankah lelaki homo juga tidak akan terangsang bila melihat perempuan telanjang?

Kehidupan masyarakat sekuler memang penuh absurditas, atau ketidakjelasan dan kekacauan. Tidak ada batasan yang jelas antara moral dan amoral. Meski tabiat dasarnya sama; manusia sekuler selalu mencari keuntungan untuk diri sendiri. Kita bertanya, apakah para seniman yang sering mengatakan bahwa ketelanjangan adalah seni, bukan pornografi, berani menampilkan ibunya, istrinya, anak perempuannya telanjang di atas panggung dan disaksikan banyak penonton?

Mereka mau saja menampilkan ketelanjangan bila pelakunya orang lain, bukan diri mereka sendiri atau keluarganya. Mereka sendiri dipertanyakan konsistensinya dalam soal ini.

Bagi kita, umat Islam, batasan pornografi dan pornoaksi sudah amat jelas. Pria dan wanita diperintahkan menjaga pandangan (ghadhdhul bashar) dari aurat lawan jenisnya.  Bahkan sesama pria atau sesama wanita pun dilarang melihat aurat kawannya.

Ini adalah aturan agung yang menjaga dan memuliakan umat manusia. Allah Mahatahu bahwa pandangan yang tak terkendali akan bisa merusak hubungan sosial antara pria dan wanita. Nabi saw. bersabda:

النَّظْرَةُسَهْمٌمَسْمُومٌمِنْسِهَامِإبْلِيسَ،مَنْتَرَكَهَامِنْمَخَافَتِيأَبْدَلْتهإيمَانًايَجِدُحَلَاوَتَهُفِيقَلْبِهِ

 

“Pandangan itu adalah panah beracun dari panah-panah iblis. Maka barangsiapa yang memalingkan pandangannya dari kecantikan seorang wanita, ikhlas karena Allah, maka Allah akan memberikan di hatinya kelezatan sampai pada hari Kiamat.”(HR. Ahmad).

 

Kita umat Islam, berbeda dengan kaum sekuler atau bangsa-bangsa lain di dunia seperti bangsa Yunani atau beberapa negara lain di Eropa yang kerap memajang patung-patung atau lukisan pria dan wanita telanjang di tempat-tempat umum. Atau agama lain yang memajang relief hubungan seksual di rumah-rumah ibadah mereka.

Dalam Islam persoalan aurat dan hubungan seks diatur agar tetap berada dalam sektor privat, antara suami dan istri, bukan untuk diumbar di domain publik. Tanpa memandang kekhawatiran apakah akan mendatangkan syahwat atau tidak bila diletakkan di tempat umum. Batasannya ya hukum syara itu sendiri, bukan syahwat atau tidak syahwat menurut seniman atau budayawan.

Ada juga yang mengatakan bahwa seandainya pornografi dibebaskan di tanah air, maka tindak kejahatan seksual justru akan menurun. Lagi-lagi ini adalah logika syahwat, bukan akal sehat. Karena di AS yang peredaran pornografi dan pornoaksinya marak tindak perkosaan terhadap kaum wanitanya justru paling tinggi.

Organisasi anti pemerkosaan dan pelecehan seksual di AS, RAINN (Rape, Abuse, Incest National Network) mencatat jumlah korban pemerkosaan di AS setiap tahunnya mencapai 207,754 perempuan dengan usia 12 tahun ke atas. Itu sama dengan menimpa seorang wanita di AS setiap 2 menit. Amerika Serikat adalah negara dengan tingkat perkosaan terhadap wanita tertinggi di dunia, 4 kali lebih banyak ketimbang Jerman, 13 kali dari Inggris dan 20 kali dibandingkan Jepang.

Dengan dalih seni, banyak lelaki tidak bertanggung jawab yang mengeksploitasi banyak wanita muda yang ingin segera terkenal di dunia hiburan. Para gadis belia itu mau saja disuruh tampil porno oleh sindikat pornografi ini karena mereka memiliki jaringan media cetak dan elektronik. Tragisnya ada juga yang kemudian menjadi wanita panggilan kelas atas. Ini adalah efek dari pornografi yang berdalih seni.

Seni dan budaya seharusnya membuat manusia semakin menghargai statusnya sebagai mahluk Allah, sehingga dia semakin taat kepadaNya. Ketika dia kian taat maka semakin mulia kedudukannya di hadapan semua mahluk dan Sang Maha Penciptanya.

Aneh bila ada orang yang menyebut seni kepada aktifitas yang justru membuat manusia sama derajatnya dengan kambing, sapi atau kera. Bertelanjang dan tidak merasa malu. Seharusnya orang-orang yang mengaku seniman dan budayawan itu belajar dari saudara-saudara kita di Papua. Ketika mereka sudah mengenal pendidikan, apalagi memeluk Islam, sebagian besar dari mereka menanggalkan pakaian adat koteka-nya. Seperti yang diceritakan ustadz Fadlan, dai sukses di Papua, warga Papua yang telah memeluk Islam justru memilih dengan sadar kewajiban menutup aurat. Para muslimahnya pun tidak sungkan mengenakan kerudung dan jilbab. Jadi mana yang lebih beradab; mereka yang mengaku berpendidikan tapi suka bertelanjang dan ketelanjangan, atau kaum muslimin yang sadar akan kewajiban menutup aurat? Anda bisa menjawabnya sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.