Anak Kita Korban dan Penonton Kekerasan

bullyingAndai itu anak perempuan saya, saya tak tahu harus berkata apa. Kemungkinan besar air mata saya sudah menetes. Ternyata bukan cuma saya, tapi banyak orang tua berperasaan sama. Syok menyaksikan video kekerasan yang dilakukan anak-anak SD di Bukit Tinggi, Sumatera Selatan.
Anak perempuan itu hanya bisa berdiri ketakutan di pojok ruang kelas, lalu satu persatu kawan-kawannya melayangkan tendangan, pukulan, jitakan dan bogem ke tangan, badan dan kepalanya. Ia sudah menjerit dan menangis, tapi kawan-kawannya dengan riang dan bersemangat terus mem-bully-nya. “Taruah, taruah – terus, terus!” teriak sebagian yang lain memberi semangat.
Dalam video itu, sebagian kawan-kawan yang lain duduk di tengah ruang kelas seperti tanpa ekspresi. Walaupun saya berharap saya salah melihat, salah menduga.
Ayah bunda, jangan salah. Bukan anak perempuan itu saja yang telah menjadi korban. Teman-teman yang membully-nya, juga yang diam saja menyaksikan kekerasan itu, sebenarnya adalah korban juga. Karena kekerasan bukanlah tabiat asal setiap anak, bukankah setiap anak lahir dalam keadaan fitrah? Ketika perilaku mereka keluar dari fitrahnya berarti ada sesuatu yang salah telah mengubah kesucian jiwa mereka.
Di masa sekarang anak-anak kita dibesarkan bukan dalam fitrahnya. Apa yang mereka lihat, dengar dan rasakan telah merampas dan merusak fitrah itu. Banyak orang tua yang membesarkan anak bukan dalam buaian cinta dan naungan syariatNya, tapi sekehendak hati dan kejahilan kita. Hitunglah dengan jujur berapa jam waktu yang dihabiskan anak-anak kita di depan televisi? Bermain game?
Menurut Komisioner Bidang Isi Siaran Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) lamanya waktu menonton tayangan televisi anak-anak di Indonesia ternyata melebihi waktu untuk belajarnya. “Jumlah jam anak menonton, naik dari 35 sampai 46 jam dalam seminggu, bahkan kalau dikalkulasikan sampai 1.600 jam setahunnya. Ini kalau dibandingkan dengan jam belajar dia disekolah hanya 800 jam,” kata Agatha Lily, di Kantor KPAI Jakarta Pusat, Jumat (26/9).
Anak kita adalah produk peradaban. Maka simaklah berapa jumlah kekerasan terhadap anak di tanah air. Pada tahun 2014 saja sudah terjadi 622 tindak kekerasan dengan sebagian pelakunya adalah anak-anak juga. Ini belum termasuk cyberbully, anak-anak yang menjadi korban bully di dunia maya.bullying
Apa yang sekarang dialami dan dilakukan anak-anak kita nyaris sama dengan apa yang terjadi di AS. 20-28 persen pelajar kelas 6-12 di AS pernah dibully atau merasa dibully di sekolah. Lalu 83 persen pelajar putri dan 79 persen pelajar putra menjadi korban bully di sekolah maupun di jejaring sosial (link: http://nobullying.com/bullying-statistics-2014/).
Anak-anak kita sudah diperkenalkan dengan budaya saling menindas dan menjadikan kekerasan sebagai solusi. Karena itu yang mereka lihat, dengar dan dan rasakan dalam keseharian. Anak mendapatkan kekerasan secara verbal maupun fisik dari orang tua. Banyak orang tua senang menggunakan cara kekerasan semisal mencaci bahkan memukul anak untuk mendisplinkan anak.
Di sisi lain tayangan kekerasan pun begitu dominan di layar kaca maupun di bioskop, atau video game. Masyarakat pun sudah menjadikan kekerasan sebagai hiburan. Sama seperti di AS. Tahun 1999 keluarlah buku berjudul Mayhem: Violence As Public Entertainment yang meneliti dampak jangka panjang tayangan kekerasan kepada pemirsa. Muncullah ‘monster-monster’ kecil berupa pelajar yang melakukan penembakan terhadap kawan-kawannya dan guru-gurunya di sekolah.
Negeri kita makin kering kasih sayang, tapi subur kekerasan. Ketika film The Raid 1 & 2 ditayangkan, pujian demi pujian untuk adegan laga dan kekerasan di film itu bertaburan. Anak-anak dan remaja pun berebut menonton film tersebut. Inilah yang disebut violence as public entertainment. Semakin brutal, semakin berdarah-darah, publik semakin bersorak kegirangan.kinopoisk.ru

Tapi banyak orang kemudian ramai-ramai menyangkal bila film dan video game kekerasan adalah inspirator kekerasan pada anak-anak. Padahal mereka tak bisa menyertakan bukti ilmiah untuk menyanggah realitas ini. Hingga akhirnya anak mereka mungkin menjadi korban dari kekerasan tersebut.
Maka tak bisa sekedar menyalahkan anak-anak polos yang mem-bully kawannya yang lemah. Atau menyalahkan gurunya yang abai mengawasi perilaku anak didiknya. Ini adalah kekerasan yang terbentuk secara sistematis, bukan kasuistik. Ini sudah terjadi berulang-ulang dan menjadi epidemi, bukan lagi oleh oknum.
Tak usahlah kita menyangkal bahwa peradaban di negeri ini telah rusak. Agama (Islam) telah dijauhkan dari peradaban digantikan sekulerisme-liberalisme yang membebaskan syahwat manusia. Termasuk menjadikan kekerasan sebagai hiburan. Kitalah yang harus disalahkan, yang berdiam diri atau miskin usaha untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Ke jalan Islam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.