Adakah Memberhalakan Khilafah?

islamphobiaAda-ada saja komentar sebagian orang terhadap langkah dakwah menegakkan syariat Islam dan khilafah. Bila dulu mereka gencar mengatakan penegakkan khilafah itu utopia, sekarang sering dimunculkan pernyataan; hati-hati jangan sampai memberhalakan khilafah! Tentu saja pernyataan aneh ini ditujukan kepada kelompok pejuang yang tengah berusaha melanjutkan kembali kehidupan Islam.

Pernyataan ini jelas sumir dan menyesatkan, khas orientalis. Sumir karena tidak jelas; apa sih yang dimaksud dengan ‘memberhalakan’? Apakah kalau ada seseorang yang sedang fokus mengembangkan bisnis dagang bakso maka ia bisa dikatakan ‘memberhalakan bakso’? Atau Ustadz Arifin Ilham yang gemar mengajak umat berzikir maka beliau lalu dicap ‘memberhalakan zikir’?

Memberhalakan itu identik dengan menyembah atau menuhankan sehingga menghilangkan peran atau unsur yang lain. Seperti kaum paganis yang menuhankan berbagai patung, mereka meyakini bahwa hidup-mati adalah ditentukan oleh patung sesembahan mereka. Aturan hidup juga ditentukan oleh berhala-berhala itu. Lalu apa kaitannya dengan khilafah sehingga dikatakan para pejuang khilafah itu ‘memberhalakan khilafah’? Sama sekali tidak ada kaitannya dengan penyembahan terhadap khilafah, karena toh faktanya khilafah itu adalah perintah dien untuk ditegakkan untuk bisa melaksanakan hukum-hukum Allah.

Menyesatkan karena istilah itu dimaksudkan agar umat Islam meninggalkan perintah Allah SWT.. Sebagaimana kita ketahui para orientalis dan pengikutnya gerah dengan kebangkitan Islam. maka mereka membuat berbagai pemikiran dan istilah untuk menyesatkan umat dari kebenaran. Kita sering dengar istilah ‘Islam moderat’, ‘Islam radikal’, ‘Islam kultural’, ‘jihad nafsu’, tujuannya untuk membingungkan dan mengacaukan.

Bila yang dimaksudkan adalah teguran agar para pejuang khilafah itu jangan gampang mengatakan ‘ada khilafah semua masalah beres’, maka orang tadi sudah salah menggunakan diksi. Sebuah kesalahan amat fatal. Ia menggunakan sebuah istilah yang sudah khusus untuk topik yang khusus pula. Istilah ‘berhala’, ‘tuhan’, ‘sesembahan’, adalah sesuatu yang sudah ada pada tempatnya, tidak bisa digunakan sembarangan. Al-Quran menyebut sesembahan selain Allah dengan lafadz ‘andada’ atau ‘arbab’, yang dimaksud adalah berhala yang disembah atau manusia yang aturannya lebih ditaati sehingga mengalahkan aturan Allah.

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آَمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ

“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah.”[al-Baqarah: 165].

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah.”[at-Taubah 31]

Beberapa tahun silam saya juga membaca sebuah surat pembaca yang berisi himbauan kepada umat Islam agar jangan ‘memberhalakan al-Quran’, maksudnya nurut begitu saja pada al-Quran tanpa mengkritisinya terlebih dahulu. Si penulis nampaknya sudah terpengaruh ajaran liberalisme yang merasa lebih pintar dari Allah, lebih alim dari Rasulullah, lebih teliti dari para sahabat radliallahu anhum, sehingga tidak mau percaya kepada perintah dan larangan yang tercantum dalam al-Quran. Tentu saja pernyataan ini menyesatkan karena justru umat Islam diminta untuk berprinsip sami’na wa a’tho’na kepada perintah dan larangan Allah, termasuk apa yang tercantum dalam al-Quran.

Sekarang istilah ini digunakan oleh sesama rekan gerakan Islam kepada para pejuang syariah dan khilafah. Istilah ‘memberhalakan atau menuhankan khilafah’ sudah sebuah kritik yang berlebihan, out of context bahkan berbahaya. Pernahkah mereka melakukan hal yang serupa kepada orang lain yang berjuang bukan untuk Islam, seperti ‘memberhalakan pancasila’, ‘memberhalakan sang saka merah putih’, ‘menuhankan demokrasi’, ‘menuhankan AS’, dsb. Itu tidak mereka gunakan entah karena mungkin sejalan dengan pikiran mereka, atau mereka takut akibat yang bakal diterima. Sedangkan kepada pejuang syariah dan khilafah mereka berani mengucapkan hal itu karena tahu resiko yang bakal mereka terima amat kecil. Paling banter dimaki-maki di jejaring sosial. Itupun sedikit saja orang yang berani bertindak ‘kasar’ seperti itu.

Tapi mereka lupa bahwa merendahkan amal soleh dan amal ibadah adalah perbuatan dosa di hadapan Allah. Sabda Nabi saw.

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ فِيْهَا، يَزِلُّ بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مِمَّا بَيْنَ الْمَشْرِقِ

 

“Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan suatu kata yang ia tidak memerhatikannya, tidak memikirkan kejelekannya dan tidak khawatir akan akibat/dampaknya, ternyata karenanya ia dilemparkan ke dalam neraka lebih jauh dari apa-apa yang ada di antara masyriq/timur.” (HR. Al-Bukhari no. 6477 dan Muslim no. 7406, 7407)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *