Catatan Usai Ramadhan

mudikMungkin tulisan ini sedikit terlambat, tapi tak mengapalah karena niat saya memang sharing dengan kawan-kawan pembaca, bukan soal kebaruan atau aktualita-nya, melainkan faktualnya. Yakni soal puasa Ramadhan.

Saya tergelitik untuk menuliskan hal ini karena curhat seorang kawan menjelang akhir Ramadhan. Ia merasa heran karena banyak orang di tempat kerjanya yang tidak berpuasa, padahal mereka muslim. Makan dan merokok di di saat seorang muslim harusnya berpuasa. Sama sekali tidak ada spirit bagi mereka untuk berpuasa. Bagi mereka, puasa atau tidak puasa sama saja. Ramadhan atau Syawal tak ada perbedaan.

Menurut saya, ada tiga golongan orang yang baru saja melewati Ramadhan lalu; pertama, adalah golongan yang berpuasa dengan benar. Kedua, mereka yang berpuasa sekedar berlapar dan berdahaga ria. Ketiga, mereka yang sama sekali tidak berpuasa.

Pastinya kita berharap ada di golongan yang pertama. Bahwa puasa kita benar-benar untuk mengasah dan melejitkan ketakwaan. Semakin taat melaksanakan semua perintah Allah tanpa reserve, dan bisa meninggalkan laranganNya sepenuh hati dengan seikhlas-ikhlasnya. Karena mereka yang berada di level inilah yang akan mendapatkan fasilitas maghfiroh sehingga akan keluar dari segala dosa bak bayi bersih yang baru lahir dari rahim ibunya.

Mereka yang berada di level pertama inilah yang akan dipanggil oleh Allah untuk memasuki surga lewat gerbang Rayyan. Mereka juga yang bau mulutnya selama berpuasa akan digantikan dengan wangi yang mengalahkan aroma kesturi. Tapi berapa banyak orang yang seperti ini? Dan mari kita menimbang diri apa benar kita sudah berada di level ini? Duh, Allah.

Kelompok kedua adalah mereka yang berpuasa tapi sekedar berlapar dan berdahaga an sich. Berpuasa tapi masih suka mencaci maki orang lain, berkhalwat dengan lawan jenis, melakukan riba,  membuka aurat, dsb. Sebenarnya, terhadap mereka, Allah SWT. sama sekali tidak butuh lapar dan dahaga mereka. Sabda Nabi saw.:

 

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ وَالْجَهْلَ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Siapa yang tidak meninggalkan perkataan bohong dan perbuatannya serta yang tidak patut, maka Allah tidak membutuhkan usahanya meninggalkan makanan dan minumannya.”(HR. Bukhari).

 

Adapun kelompok ketiga adalah seperti yang diceritakan kawan saya di atas. Mereka tidak tergerak hatinya untuk berpuasa. Puasa atau tidak tidak ada pengaruhnya dalam hidup mereka.

Sebenarnya beda antara golongan kedua dan ketiga teramat tipis. Hanya dibedakan dengan lapar dan haus, tapi tetap sama dalam tingkah laku. Paling mudah, lihat saja apakah ada beda kepribadian mereka saat berpuasa atau tidak. Bila tak beda, maka puasa atau tak puasa sama saja.

Uniknya, saat jelang mudik tiba, semua orang mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Kembali kawan saya bercerita kalau teman-teman kerjanya yang tidak berpuasa begitu semangat mempersiapkan diri jelang mudik. Oleh-oleh, pakaian baru dan kendaraan pun dipersiapkan sebaik-baiknya untuk keperluan mudik. Bila perlu mobil dan motor masuk bengkel dulu agar prima digunakan selama mudik.

Kita lupa bahwa mudik yang sebenarnya bukanlah pulang ke kampung halaman, tapi ke kampung akhirat. Untuk mudik yang hakiki maka bukan baju baru yang harus dipersiapkan, bukan kendaraan bagus yang bisa mengantarkan ke sana, tapi amal ibadah kita. Sayang, kita sering lupa bahwa mudik ke kampung akhirat tidak ada jadual tertentu. Kapan saja seseorang bisa dipanggil untuk pulang menghadap Allah SWT. Maka setiap saat kita harus mempersiapkan bekal dan kendaraan sebaik-baiknya, agar pulang ke kampung akhirat dalam keadaan yang terbaik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *