
Photo by Faheem Ahamad from Pexels: https://www.pexels.com/photo/people-are-praying-in-a-mosque-16732786/
Di balik gelegar bom dan mortir, desing peluru, bahkan ceceran darah dan jasad manusia di medan perang, Allah selalu memberikan manusia pelajaran tentang cinta. Dalam Perang Badar, Sang Pemilik Cinta kisah yang bisa membasahi relung hati manusia. Ketika Zainab putri Rasulullah mengirimkan kalung milik bunda terkasih, Khadijah ra., sebagai tebusan untuk Abul Ash bin ar-Rabi’, suaminya. Ayah dari anak-anaknya itu tetap berada di barisan kaum musyrikin sekalipun sang belahan jiwa mengajaknya berhijrah dan memeluk agama langit yang dibawa sang ayah, Rasulullah Saw.
Saat Nabi melihat kalung milik Khadijah, wanita yang setia menemaninya hingga wafat, beliau begitu trenyuh. Setelah Rasulullah SAW beberapa saat terdiam Nabi SAW bersabda dengan lembut dan santun:
“Jika kalian melihatnya (sebagai kebaikan), maka bebaskanlah tawanan tersebut dan kembalikanlah harta tebusannya, maka Iakukanlah!”
Para sahabat semuanya berkata, “Baik ya Rasulullah.”
Zainab masih menyayangi Abul ’Ash dan berharap ia suatu ketika memeluk Islam. Di sisi lain hati baginda Nabi begitu tersentuh melihat kalung milik Zainab yang didapat dari pemberian ibundanya, Khadijah. Beliau pun amat menyayangi putrinya dan memahami perasaannya terhadap suaminya. Bukankah ini salah satu episode cinta yang begitu menyentuh setelah rangkaian peperangan yang dahsyat dan kemenangan besar kaum muslimin?
Dentuman kematian di Jalur Gaza ataupun Tepi Barat juga menyemburkan berbagai momen cinta dan kasih sayang kaum muslimin, meski pedih. Wafa, seorang ibu muda, menolak tawaran perceraian dari suaminya, Ahed Abu Golmi, setelah ia ditangkap dan divonis seumur hidup oleh pengadilan zionis. Ahed terlibat serangan yang menewaskan warga penjajah.
“Saya mencintai Ahed dan kami masih berhubungan,” kata Wafa, yang tetap setia seorang diri mengurus seorang putra dan putri mereka setelah suaminya dihukum karena tersangkut kasus pembunuhan.
Menurut kelompok pegiat HAM, Palestinian Prisoners Club, lebih dari 7.000 warga Palestina saat ini ditahan di penjara-penjara Israel. Lebih 600 orang di antaranya menjalani hukuman seumur hidup, termasuk Golmi. Biasanya, para suami diceraikan jika ditahan seumur hidup di penjara. Hal itu dilakukan agar sang istri tak kesulitan mencari nafkah dan mengurusi anak-anak mereka. Namun, banyak istri memilih bertahan. Istri bangga jika suami mereka bisa membunuh orang Israel. Para tahanan sering dimuliakan dalam masyarakat Palestina sebagai pahlawan “perjuangan”.
Perasaan sama juga dirasakan Khalida Muslih (39), yang mengatakan, dia tidak mempunyai pikiran lain ketika suaminya, Muhammad, dijatuhi humuman seumur hidup oleh zionis Yahudi. Ia justru merasa bangga menjadi istri seorang tahanan karena menyerang kaum penjajah adalah suatu kebanggaan.
Peristiwa itu terjadi pada tahun 2002, hanya satu tahun setengah setelah mereka menikah. Muslih malah merasa bergembira. “Bertahun-tahun saya tidak pernah menyesal tentang hal itu,” kata Muslih, yang anaknya baru berusia empat bulan ketika ayahnya dipenjara. “Saya bangga menjadi istri seorang pejuang, bahkan sekalipun itu akan berarti ada banyak hal yang terampas dari diri saya sendiri dan menghancurkan hati saya,” katanya.
Setelah dua belas tahun lewat, Muslih dilarang menjenguk dan berbicara dengan suaminya. Sampai suatu saat, setelah berjuang mati-matian secara hukum, ia akhirnya mendapatkan haknya untuk menjenguk suaminya di tahanan. Sekarang Muslih bisa berbicara dengan suaminya melalui telepon meski terhalang panel kaca antipeluru di antara keduanya saat berada di penjara. Ibu muda ini tetap mempertahankan “harapan yang tak pasti” bahwa mereka suatu hari ia bersatu kembali melalui pertukaran tahanan.
Ada kisah mengharukan lagi. Seorang gadis bernama Ikram Abu Aisyah dengan setia menunggu calon suaminya, Ismail Abu Aisyah, setelah 18 tahun mereka terpisah. Ismail ditangkap kaum penjajah dengan tuduhan melakukan makar terhadap kaum penjajah dan divonis penjara 18 tahun. Pada bulan April 2020, Ismail dibebaskan dan ia melanjutkan janjinya pada calon istrinya untuk menikah. Keduanya berasal dari Bait Wazn, Tepi Barat.
Dihadiri puluhan tamu undangan kedua kekasih itu mengucapkan ijab kabul, dibarengi tasbih dan zikrullah dari para undangan. Ikram, sang mempelai wanita sudah bertahun-tahun mempersiapkan acara pernikahannya ini. Bahkan ia sudah membeli sebidang tanah untuk dibangunkan rumah setelah mereka menikah nanti. Mabruk.
Ternyata penderitaan dan kekejaman yang dialami kaum muslimin di Palestina justru semakin menaikkan rasa kasih sayang di antara mereka. Inilah rahmat Allah yang diturunkan pada kaum muslimin di tanah yang mulai dan indah ini.
Mereka memahami bahwa tidak ada cinta yang terbaik melainkan cinta karena Allah, dan perpisahan yang terbaikpun adalah berpisah karena Allah. Itulah kesempurnaan iman seperti yang disebutkan Nabi Saw:
مَنْ أَحَبَّ لِلَّهِ وَأَبْغَضَ لِلَّهِ وَأَعْطَى لِلَّهِ وَمَنَعَ لِلَّهِ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ اْلإِيْمَانَ.
“Barangsiapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah dan tidak memberi karena Allah, maka sungguh telah sempurna Imannya.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi, ia mengatakan hadits hasan)
Cinta terbaik di dalam timbangan mereka bukanlah ketampanan atau kecantikan atau berlimpahnya harta. Tapi mereka menempatkan perjuangan di jalan Allah sebagai landasan untuk mencintai pasangan hidup. Mereka juga siap melahirkan anak-anak yang meneruskan perjuangan fi sabilillah. Betapa indahnya.
Sumber:

Leave a Reply