
Photo by Stefano Pollio on Unsplash
Bukan kebetulan apa yang dilakukan Jeffrey Epstein sama dengan apa yang pernah ditulis mantan agen rahasia Inggris, William G Carr dalam bukunya Yahudi Menggenggam Dunia yang ditulis pada tahun 1958. Kejahatan khas Yahudi dan kapitalisme?
Rakyat Amerika Serikat kembali gaduh dengan kasus kriminalitas yang dilakukan Jeffrey Epstein. Kegaduhan ini terjadi Departemen Kehakiman Amerika Serikat (Department of Justice/DOJ) memerintahkan membuka semua file Epstein. Pada tanggal 30 Januari 2026, DOJ resmi membuka akses publik terhadap seluruh berkas Epstein. Tidak tanggung-tanggung semua berkas itu berisi lebih dari 3 juta halaman dokumen, 2.000 video, dan 180.000 gambar. Langkah ini merupakan hasil dari Epstein Files Transparency Act, yang mewajibkan DOJ untuk mempublikasikan semua berkas tak rahasia yang berkaitan dengan kasus Epstein.
Siapa Jeffrey Epstein? Jeffrey Epstein adalah seorang finansier asal Amerika Serikat yang dikenal memiliki kekayaan besar dan jaringan sosial luas. Finansier adalah sebutan untuk orang yang berprofesi terkait pengelolaan, penciptaan, studi keuangan dan investasi. Epstein lahir pada 20 Januari 1953 di New York City dan memulai karir di sektor perbankan dan keuangan.
Epstein mendirikan perusahaannya sendiri, J. Epstein & Co., yang mengelola aset klien senilai lebih dari 1 miliar dolar AS. Ia terkenal sebagai sosok yang punya relasi luas dan kuat di dalam dan luar negeri, baik politisi, anggota keluarga kerajaan mancanegara, pengusaha, tokoh publik dan artis. Sejumlah politisi yang kemudian menjadi kepala negara AS seperti Bill Clinton, Barrack Obama, termasuk Donald Trump ada dalam lingkaran Epstein. Sejumlah pengusaha dan ilmuwan seperti Bill Gates, Noah Chomsky sampai Stephen Hawking.
Dari kalangan luar negeri sejumlah kepala negara dan tokoh juga berada dalam lingkaran relasi Epstein. Mulai dari Pangeran Andrew asal Inggris, Putri Mahkota Norwegia, Mette-Marit, Sheikh Mohammed bin Zayed Al Nahyan Presiden United Arab Emirates (UAE) dan Emir of Abu Dhabi, sampai Dalai Lama dari Tibet. File-file yang sudah diekspos juga menunjukkan Epstein dan pasangannya, Ghislaine, pernah mengadakan pertemuan privat dengan Paus Yohanes Paulus II di Vatikan.
Jeffrey Epstein juga dikenal publik AS sebagai sosok filantropis. Menggunakan kekayaannya yang nyaris tak terbatas untuk berbagai kegiatan sosial terutama pengembangan sains, pendidikan dan kesehatan. Yayasan filantropi yang menyalurkan dana besar ke bidang sains dan pendidikan, terutama Harvard University. Yayasannya memberikan endowment sebesar $30 juta untuk Harvard Program for Evolutionary Dynamics yang mendukung riset evolusi biologis dan sosial dengan metode komputasi.
Yayasan Epstein juga mendukung program lokal di Virgin Islands, seperti layanan kesehatan mental (Clear Blue Sky Inc.), pengembangan pemuda melalui Humane Society, serta dukungan komunitas Katolik.
Borok Kapitalisme
Kedok Epstein baru terbongkar di tahun 2005, ketika polisi menyelidiki Epstein pertama kali setelah laporan keluarga bahwa putrinya yang berusia 14 tahun dilecehkan oleh Epstein di rumah Epstein di Palm Beach, Florida. Laporan ini memicu penyelidikan polisi yang kemudian menemukan banyak korban lain, sebagian besar masih berstatus pelajar SMA, yang mengatakan bahwa Epstein membayar mereka untuk memberikan “pijatan” yang berujung pelecehan seksual.
Barulah terbongkar berbagai kejahatan Epstein; penculikan, eksploitasi seksual, pedofilia, pembunuhan. Belakangan yang ramai adalah dugaan praktek ritual satanic dengan mengorbankan manusia terutama anak-anak. Ada dugaan Epstein dan jejaringnya juga melakukan kanibalisme sebagai bagian ritual satanic mereka.
Epstein sendiri sudah mati di penjara Metropolitan, Manhattan, New York pada Agustus 2019. Pihak berwenang menyatakan kematiannya adalah akibat bunuh diri. Namun ironinya nama-nama yang terkait dengan kejahatan Epstein masih aman dan malah menduduki jabatan penting. Salah satunya ya Donald Trump, Presiden AS.
Ada sejumlah catatan penting dalam kasus Jeffrey Epstein;
Pertama, sekulerisme-liberalisme dan kapitalisme selain menjadi gerbang munculnya kerusakan moral tingkat tinggi, juga melahirkan praktek spiritual sesat. Berkas-berkas yang ditemukan dari kejahatan Epstein, termasuk foto-foto dan video yang memperlihatkan praktek ritual satanic yang menjijikkan dan mengerikan.
Padahal sekulerisme yang lahir di rahim Barat, benua Eropa, berkeyakinan bahwa dengan menyingkirkan agama maka akan tercipta kehidupan yang lebih baik. Masyarakat Nasrani Eropa yang sudah muak dengan eksploitasi ekonomi dan sosial oleh gereja yang berkelindan dengan kekaisaran sepakat untuk menyeret agama keluar dari kehidupan, terutama dari politik dan pemerintahan. Seruan mereka, ”Gantung raja terakhir dengan usus pendeta terakhir!”
Faktanya masyarakat Barat justru merasa kering secara spiritual. Ini menjadi celah munculnya ritual-ritual agama yang menyimpang. Berkali-kali AS dikejutkan dengan praktek sekte yang menyimpang seperti Children of God yang heboh dengan praktetk nudies, seks bebas dan pedofilia. Ada Peoples Temple (Jonestown) yang melakukan bunuh diri massal yang terjadi pada tahun 1978. Sebagian pengikutnya juga pengikutnya dibunuh oleh para tokoh agamanya sendiri. Lalu ada Heaven’s Gate yang juga mengajak para pengikutnya bunuh diri massal di tahun 1997.
Jiwa yang rapuh dan kering secara spiritual akibat sekulerisme menjadikan sekte-sekte sesat seperti itu laris diikuti masyarakat. Termasuk kalangan kaya dan berpendidikan. Para tokoh sekte itu sudah ditahbiskan menjadi nabi atau bahkan tuhan. Bisa jadi Epstein di mata jejaringnya sudah mencapai level itu.
Di Indonesia meski mayoritas adalah muslim tapi sekulerisme sudah menguat sejak awal kemerdekaan. Efek lahirnya kekeringan spiritual dan mental yang rapuh terlihat dimana-mana. Meningkatnya depresi dan kasus bunuh diri adalah sebagian tanda patogen yang diciptakan sekulerisme. Indonesia juga ladang subur tokoh, paham dan sekte yang absurd tapi laris diikuti warga yang sebagian besar muslim. Ajaran Lia Eden, air ’sakti’ Ponari sampai beberapa nabi palsu punya pengikut.
Kedua, ideologi kapitalisme selalu menciptakan fenomena power networking. Yaitu individu atau kelompok yang bisa membangun jaringan sosial elit yang kuat bukan karena integritas, tapi karena uang dan akses. Epstein berhasil mengumpulkan bukan saja pengusaha, tapi politisi bahkan kelas dunia. Selanjutnya networking ini menjelma menjadi oligarki yang amat berkuasa. Bahkan bisa menentukan arah politik suatu negara.
Di Indonesia, fenomena networking ini juga eksis. Fenomena sembilan naga atau kelompok elit tertentu yang menguasai parpol, politisi, dan bukan tidak mungkin menguasai legislatif, eksekutif, yudikatif hingga aparat keamanan dan militer. Juga bukan tidak mungkin aliran uang dan kekuasaan itu masuk ke ormas-ormas keagamaan. Banyak kasus kejahatan besar terhadap rakyat yang tidak tersentuh hukum. Kasus pagar bambu di laut Jakarta dan Tanggerang yang nol penyelesaian adalah contohnya.
Ketiga, kasus Jeffrey Epstein dan power networkingnya memberi kita pelajaran bahwa sistem kapitalisme membuat para pelaku kriminal itu kebal hukum. Anda punya uang, punya power dan akses ke kalangan berkuasa, maka Anda untouchables. Biarpun nama-nama dan sosok yang disebut dalam berkas-berkas, foto dan video itu begitu jelas, namun tetap tak tersentuh hukum.
Inilah kapitalisme. Dimana uang dan kekuasaan berkuasa. Epstein bisa jadi ditumbalkan untuk menutup mulutnya. Ia dipenjarakan lalu dibuat ’bunuh diri’. Bisa jadi juga ia dikorbankan pihak yang lebih berkuasa lagi agar bisa mengalihkan operasinya ke tangan lain.
Cara-Cara Yahudi
Kasus Jeffrey Epstein bisa terjadi di negara manapun yang menerapkan sistem kapitalisme. Negara yang menuhankan kekayaan dan kekuasaan, khas ideologi tersebut. Bukan kebetulan kalau skandal Jeffrey Epstein sama dengan buku yang pernah ditulis William G Carr. Penulis yang merupakan mantan agen rahasia Inggris menulis buku berjudul Jews Rules The World yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Ketika Yahudi Menggenggam Dunia. Dalam buku ini diceritakan Yahudi yang dekat dengan keluarga Rotschild menjadi penguasa bayangan sejumlah kerajaan Eropa. Mereka gunakan modus dan pola yang dipakai Epstein, memanfaatkan prostitusi untuk menjebak para raja, pangeran dan anggota keluarga kerajaan-kerajaan Eropa. Bahkan ada anggota kerajaan yang dipaksa menjadi pelacur untuk menjebak lagi anggota kerajaan yang lain. Skandal mereka itu dijadikan alat pemerasan kekuasaan oleh kelompok Yahudi dan kaum kapitalis.
Epstein sendiri diduga kuat bagian dari jejaring Mossad atau Israel di Amerika Serikat. Dugaan ini muncul setelah ditemukan sejumlah dokumen yang menyebutkan ia berkomunikasi dengan dinas rahasia Israel melalui Alan Dershowitz, pengacara dan profesor hukum AS. Rumor menyebutkan Epstein dilatih dibawah komando mantan PM Israel Ehud Barak.
Di Indonesia selain menggunakan harta, para cukong atau mafia politik ini juga kerap gunakan gratifikasi seksual kepada para politisi, pejabat ataupun tokoh masyarakat. Kalau mereka tidak mau tunduk dengan sukarela, maka berbagai gratifikasi itu akan dijadikan alat penyandera agar tunduk pada kendali mereka. Begitulah kapitalisme. Brutal, kejam dan menjijikkan.

Leave a Reply