Lapis-Lapis Kebohongan

Belakangan ini istana sedang sibuk membantah pernyataan mantan pimpinan KPK, Agus Rahardjo, dalam podcast Rosi di Kompas TV, bahwa ia pernah dipanggil ke istana lalu diperintahkan oleh Presiden Jokowi untuk menghentikan penyidikan kasus dugaan korupsi e-ktp yang melibatkan Setya Novanto, pimpinan Partai Golkar. Secara politis, Setnov dan Partai Golkar adalah bagian dari koalisi pemerintah yang turut mengantarkan kemenangan pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin dalam pilpres 2019-2024.

Menteri Sekretaris Negara Pratikno, sebagai pihak yang mengatur berbagai agenda kegiatan kepala negara, mengaku lupa apakah pertemuan itu pernah ada atau tidak. Sedangkan Presiden Jokowi sendiri belakangan membantah adanya kejadian tersebut. Ia menyebutkan buktinya Setnov akhirnya mengikuti persidangan dan divonis penjara. Ia juga mengatakan tidak ada kepentingan baginya membela Setya Novanto.

Siapa yang benar? Pastinya hanya para pelakunya yang tahu. Hanya saja, pepatah lama mengajarkan; sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang takkan percaya. Sekali seseorang berbohong, mungkin orang masih bisa percaya. Tapi bila berkali-kali ia berbohong, maka hilang sudah kepercayaan orang padanya.

Sewaktu kecil, saya sering diceritakan kisah menarik tentang penggembala kambing yang mencandai kawan-kawannya dengan berteriak ada serigala. Awalnya mereka percaya dengan teriakannya, namun setelah tahu bahwa mereka dibohongi, mereka kapok. Hingga akhirnya ketika ada betulan ada serigala yang akan menerkam kambing gembalaannya, tak ada yang mau menolongnya karena mereka sudah kehilangan trust pada si penggembala.

Dalam Islam, berdusta amat dibenci Allah dan RasulNya. Bahkan berdusta disebut bagian dari kemunafikan. Sedangkan kemunafikan itu tindakan yang amat dibenci Allah Swt. Ancaman siksa pada orang munafik amat keras, mereka akan diletakkan di dasar neraka.

إِنَّ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ فِي ٱلدَّرۡكِ ٱلۡأَسۡفَلِ مِنَ ٱلنَّارِ وَلَن تَجِدَ لَهُمۡ نَصِيرًا

Sesungguhnya orang munafik di dasar kerak neraka dan tidak ada satupun penolong untuk mereka (TQS. An-Nisa [4]: 145)

Namun dalam dunia politik demokrasi hari ini, berdusta itu seolah menjadi bagian dari praktik berdemokrasi dan berpolitik. Ada sebutan lain yang terdengar lebih halus dibandingkan berbohong; pencitraan.

Untuk meraih dukungan dan simpati banyak orang maka orang dilatih untuk membentuk sikap, penampilan dan perkataan, sehingga tidak nyata bukan dirinya sesungguhnya. Orang pun akan terpukau dengan penampilan dan perkataan yang dipoles sedemikian rupa. Itulah karakter orang munafik yang diingatkan oleh Allah bisa mempesona siapa saja, termasuk Rasulullah Saw:

Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar. (TQS. Al-Munafiqun [63]: 4)

Namun sekali seseorang berdusta, lalu tidak bertaubat, maka itu akan menjadi habit dalam hidupnya. Baik karena merasa nyaman, atau karena tuntutan untuk mempertahankan kepentingan dan kekuasaan. Selanjutnya berdusta menjadi watak seseorang. Ia akan terus berdusta dan berdusta untuk menutupi berbagai kedustaan yang sudah diciptakannya.

Begitu banyaknya kedustaan yang dilakukan, sehingga membentuk lapis-lapis kebohongan pada diri seseorang yang membelit hidupnya. Untuk orang-orang seperti ini, dusta adalah solusi kehidupan. Dusta adalah bagian dari watak. Dusta adalah cara untuk bertahan hidup. Berdusta sudah seperti bernafas. Begitu sering dilakukan. Bisa, jadi karena sudah begitu berlapis-lapis kebohongan yang dilakukan, sampai pelakunya pun kesulitan membedakan antara realita dengan imajinasi kebohongan yang diciptakannya sendiri.

Bicara politik dalam negeri, rakyat mungkin belum lupa bagaimana janji saat pemilu untuk menghentikan impor, menghentikan utang, memproduksi mobil nasional, membesarkan Pertamina agar mengalahkan Petronas, menciptakan swasembada pangan, tidak akan bagi-bagi kekuasaan saat menyusun pemerintahan, dsb. Ada yang mencatat jumlah janji itu mencapai 66 yang belum/tidak terpenuhi.

Salah satu janji Jokowi saat kampanye pilpres adalah melakukan penguatan KPK. Apa daya, justru pemerintah dan DPR yang melemahkan KPK dengan melakukan revisi UU KPK. Termasuk, kata Agus Rahardjo, pelemahan KPK dilakukan dengan memilih Firli Bahuri yang sebenarnya punya track record bermasalah di institusi KPK. Saat KPK menawarkan data-data itu ke panitia seleksi di DPR sebagai pertimbangan pemilihan calon pimpinan KPK, menurut Agus tawaran itu tidak digubris.

Berjanji yang kemudian belum atau bahkan tidak ditepati seperti menjadi pola elit politik untuk mendapatkan kekuasaan. Setelah berkuasa, semua janji itu seperti dimasukkan dalam kotak terkunci, yang entah kapan akan ditepati. Sedangkan rakyat pun tidak berdaya untuk menagih janji-janji itu.

Bisa jadi, inilah masa yang telah diingatkan Nabi Saw akan merebaknya berbagai kedustaan di sana-sini.

سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتُ يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ الرَّجُلُ التَّافِهُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ

“Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh dengan penipuan. Ketika itu pendusta dibenarkan sedangkan orang yang jujur malah didustakan, pengkhianat dipercaya sedangkan orang yang amanah justru dianggap sebagai pengkhianat. Pada saat itu Ruwaibidhah berbicara.” Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud Ruwaibidhah?”. Beliau menjawab, “Orang bodoh yang turut campur dalam urusan masyarakat luas.” (HR. Ibnu Majah).

Mestinya dengan kondisi ini, umat sadar dengan sesadar-sadarnya akan berlapis-lapis kebohongan yang membelit negeri ini dan memenuhi benak rakyat. Semua tercipta bukan hanya karena oknum yang menjadikan berbohong sebagai strategi politik, tapi juga karena iklim demokrasi memberikan kesempatan untuk menjadikan kebohongan sebagai bagian dari karakter politik para pelakunya.

Maka, bukan saja jangan memilih calon wakil rakyat dan calon pemimpin yang toleran dengan kebohongan, apalagi biasa berbohong, tapi juga jangan pakai aturan kehidupan yang membiarkan kebohongan menjadi karakter rakyat dan para pemimpinnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.