Pengkultusan Dan Patung Bukan Budaya Islam

Kebiasaan manusia adalah memuji orang yang dipandang punya keunggulan dan keutamaan. Nabi Saw juga sering memuji para sahabat yang senantiasa taat dan gemar melakukan kebaikan. Beliau pernah memuji sebagian sahabat;

نِعْمَ ‌الرَّجُلُ ‌أَبُو ‌بَكْرٍ، ‌نِعْمَ ‌الرَّجُلُ عُمَرُ، ‌نِعْمَ ‌الرَّجُلُ ثَابِتُ بْنُ قَيْسِ بْنِ شَمَّاسٍ، وَنِعْمَ الرَّجُلُ مُعَاذُ بْنُ عَمْرِو بْنِ الْجَمُوحِ، وَنِعْمَ الرَّجُلُ أَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ

Sebaik-baik lelaki adalah Abu Bakar, sebaik-baik lelaki adalah Umar, sebaik-baik lelaki adalah Tsabit bin Qays bin Syammas, dan sebaik-baik lelaki adalah Mu’adz bin Amru bin Al-Jamuh, dan sebaik-baik lelaki adalah Abu Ubaidah bin Al-Jarah (H.R. Abi Syaibah)

Namun agama ini mengingatkan kaum muslimin agar tidak berlebihan dalam memuji seseorang. Pujian yang berlebihan justru membahayakan orang yang dipujinya. Nabi Saw mengingatkan bahaya pujian berlebihan seperti membinasakan orang yang dipuji. Sabdanya:

أَهْلَكْتُمْ – أَوْ قَطَعْتُمْ – ظَهَرَ الرَّجُلِ

Engkau membinasakan atau Engkau memotong punggung kawanmu itu. (HR. Bukhari dan Muslim)

Kebiasaan orang-orang kafir adalah berlebihan bahkan mengkultuskan tokoh-tokoh dan para pemimpin mereka. Mereka juga membuatkan monumen atau patung-patung para tokoh dan pemimpin sebagai legacy untuk generasi berikutnya. Allah Swt menjelaskan sikap kaum Nabi Nuh as yang melakukan hal tersebut. FirmanNya:

وَقَالُواْ لَا تَذَرُنَّ ءَالِهَتَكُمۡ وَلَا تَذَرُنَّ وَدّٗا وَلَا سُوَاعٗا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسۡرٗا  ٢٣

Dan mereka berkata: “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwwa’, yaghuts, ya’uq dan nasr”. (TQS. Nuh [71]: 23)

Pengkultusan bukanlah bagian dari ajaran Islam. Rasulullah Saw. sendiri mengingatkan kaum muslimin agar tidak mengkultuskan dirinya. Sabdanya:

لاَ تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ، فَقُولُوا عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ

Janganlah kalian melampaui batas dalam memujiku seperti perbuatan Nasrani terhadap Isa bin Maryam. Aku hanyalah seorang hamba-Nya, maka ucapkanlah oleh kalian, “Hamba Allah dan Rasul-Nya”. (HR. al-Bukhari)

Kita bisa bayangkan, Rasulullah Saw adalah sosok paling mulia di antara manusia, pembawa kitab suci, namanya disandingkan dengan Allah Swt., penutup para nabi dan rasul, pemberi syafaat untuk umat manusia di hari akhir, namun beliau menolak dikultuskan dan dipuji berlebihan, lalu apa dasarnya manusia biasa yang berlumur dosa dikultuskan oleh sesama manusia?

Pengkultusan pada manusia bisa membuat orang menutup mata atas aib-aibnya, mengabaikan kebatilan pemikiran dan kebijakannya, juga sama dengan setuju dengan dosa-dosanya termasuk kezaliman yang bisa jadi ia telah lakukan pada banyak orang semasa hidupnya. Inilah bahanya pengkultusan.

Begitupula membuat patung bukanlah bagian dari peradaban kaum muslimin. Baginda Nabi Saw. juga mengharamkan kaum muslimin membuat patung mahluk hidup. Sabdanya:

إنَّ أشدَّ النَّاسِ عذابًا عندَ اللَّهِ يومَ القيامةِ المصوِّرونَ

Orang yang paling keras azabnya di hari kiamat, di sisi Allah, adalah al-mushawwirun. (HR. Bukhari dan Muslim).

Adapun yang dimaksud al-mushawwirun adalah tukang gambar, pemahat, dan pembuat patung mahluk-mahluk bernyawa yakni hewan dan manusia. Kaum muslimin juga diharamkan meletakkan/memajang patung-patung mahluk bernyawa. Nabi Saw memerintahkan Ali bin Abi Thalib ra. dalam satu ekspedisi militer untuk menghancurkan patung-patung yang ditemuinya;

لاَ تَذَرْ تِمْثَالاً إِلاَّ هَدَمْتَهُ, وَ لاَ صُورَةً إِلاَّ طَمَسْتَهَا, وَ لاَ قَبْراً مُشْرِفًا إِلاَّ سَوَيْتَهُ

Janganlah engkau tinggalkan patung kecuali engkau menghancurkannya, dan tidak satupun gambar kecuali engkau menghapuskannya, dan tidak pula kuburan yang ditinggikan melainkan engkau meratakannya. (HR. Muslim).

Musibah besar bila umat Muslim di negeri ini terus menerus membiarkan budaya pengkultusan dan pembuatan patung. Habis biaya miliaran bahkan bisa jadi triliuan rupiah hanya untuk sesuatu yang diharamkan Allah dan RasulNya, apalagi bila tokoh yang dikultuskan ternyata membawa legacy pemikiran yang sesat dan batil.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.