Sales

Seorang sales itu ujung tombak perusahaan. Di otak dan lidah mereka produk-produk suatu usaha ditentukan laris atau tidak. Sebagus apapun suatu produk, tapi salesnya tidak bermutu, produk itu pastinya susah laku. Tapi meski barang biasa saja, di tangan tim marketing yang jempolan, produk itu bisa laris manis. Masuk, Pak Eko!

Sales yang sukses bukan saja mendapatkan gaji rutin bulanan, tapi juga beragam bonus. Itulah sebabnya dunia sales banyak diminati orang. Tapi nanti dulu, jadi sales yang sukses bukan hanya modal cuap-cuap. Perlu kerja keras dan trik-trik penjualan yang canggih dan mengena di hati calon pembeli. Bagaimana orang yang tidak butuh bisa merasa butuh, yang tak acuh menjadi peduli, dan yang sudah punya produk pesaing bisa jadi goyah lalu berpaling pada produk yang ditawarkan.

Tapi saya tidak akan cerita dunia salesman dan marketing, saya mau cerita peran orang tua dalam mengajarkan agama pada anak. Antara orang tua dan sales, ada kemiripan; sama-sama menawarkan produk. Kalau sales menawarkan barang atau jasa, orang tua menawarkan agama sebagai jalan hidup untuk anak-anak.

Sayangnya banyak orangtua tidak paham posisi mereka sebagai seorang ‘sales’ agama Allah. Jadilah mereka orangtua yang miskin kreasi, tak ada inovasi, tidak simpatik, penuh paksaan saat mengajarkan agama pada anak. Akhirnya keindahan agama Islam justru menjadi jelek di mata anak-anak. Sebagaimana produk yang bagus jadi ambyar karena perilaku salesnya yang buruk.

Padahal pendidikan agama untuk anak-anak bukan suatu doktrin atau dogma yang dipaksakan. Pengajaran agama harus datang dengan membangun kesadaran untuk kemudian menjadi sebuah kebiasaan yang menyenangkan. Selain juga berlaku punish & reward dalam setiap perbuatan, tapi semua mesti berawal menciptakan kesadaran.

Misalnya, hukuman berlaku untuk anak usia sepuluh tahun yang malas-malasan shalat, tapi sebelum itu orang tua diperintahkan Nabi SAW. untuk mengajarkan arti penting dan tatacara shalat. Bayangkan bila shalat itu harus dijalankan sepenuhnya di bawah ancaman hukuman, tanpa membangun kesadaran.

مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِينَ

“Ajari anak-anakmu shalat ketika usia mereka tujuh tahun, dan pukullah mereka dalam urusan shalat ketika mereka berusia sepuluh tahun.”(HR. Abu Daud).

Seringkali produk yang bagus gagal dijual karena perilaku sales yang tak simpatik: koersif (paksaan) bukan persuasif, penuh intimidasi bukan simpati, tak bertanggung jawab saat ada masalah, dsb. Sales macam begini akan merusak citra produk dan perusahaan.

Beda dengan sales yang informatif, simpatik, membuat calon pembeli merasa nyaman, siap membantu termasuk mau menerima komplain. Walaupun orang tak jadi membeli barang, tapi mereka bisa menjadikan produk yang ditawarkan sebagai pilihan.

Nah, ketika anak-anak tampak tidak nyaman dalam ketaatan, coba introspeksi diri kita; Jangan-jangan kita adalah salesman dan saleswoman yang buruk di hadapan anak-anak. Orangtua yang hobinya main perintah dan marah-marah pastinya membuat anak tidak betah. Orangtua yang tak mau terima masukan dari anak akan membuat perasaan buah hati jadi tak enak. Atau orang tua yang jauh dari keteladanan, bisa menjadikan anak enggan jalankan aturan. Bagaimana bisa calon pembeli tertarik beli ponsel merk A kalau salesnya justru kelihatan pakai ponsel merk B?

Agama Islam bisa menjadi buruk di depan anak-anak kita ketika orangtua tampil sebagai sales yang buruk. Keindahan Islam jadi pudar. Seperti kata seorang ulama; “Al-Islamu mahjubun bil muslimin — Islam terhalangi oleh perilaku kaum muslimin.”

Untuk itu, ada beberapa karakter sales yang bisa ditiru orang tua agar bisa merebut hati anak jadi tertarik pada Islam:

1.  Pahami produk. Jadilah orangtua yang paham Islam, terutama yang setiap hari harus diamalkan seperti pengetahuan tentang shalat, shaum, akhlak, kewajiban menutup aurat, dsb.

2.  Asah teknik presentasi. Asahlah kemampuan untuk menjelaskan agama Allah pada buah hati dengan bahasa yang mudah dipahami anak. Beri penjelasan yang cerdas dan penuh empati, bukan menakut-nakuti. “Awas lho, kalau nggak shalat nanti masuk neraka!” ganti dengan kalimat, “Siapa yang rajin shalat, pasti dicintai Allah.”

3.  Bangun kesepakatan yang juga sama-sama menguntungkan, tanpa melanggar aturan agama. Pahami sudut pandang anak-anak seperti kebutuhan hiburan; jalan-jalan, makan-makan, atau permainan. Beri kesempatan mereka untuk mendapatkan hiburan selama tidak melanggar yang haram dan berlebihan.

4.  Bangun kedekatan. Jadilah orangtua yang senantiasa akrab dengan anak agar dapat merebut hati mereka. Terima masukan dan pertanyaan dari mereka meski mungkin aneh dan lazim. Rasulullah SAW. mau mendengarkan dan menjawab pertanyaan orang Arab Badui meski seringkali aneh dan tak lazim. Anas bin Malik ra. mengatakan bahwa para sahabat merasa senang apabila ada Arab Badui yang cukup berakal datang dan bertanya pada Nabi (HR. Muslim).

5.  Tidak gaptek. Dunia penjualan hari ini banyak manfaatkan kecanggihan teknologi informasi hingga berkembanglah digital marketing. Nah, di antara ciri anak-anak milenial adalah akrab dengan gawai dan teknologi informasi. Mereka juga terbiasa dengan sosial media. Keadaan ini menuntut orangtua untuk ikut menguasai teknologi dan mengawasi penggunaannya selain juga memanfaatkannya untuk kepentingan dakwah.

Orang tua dan para da’i adalah ‘sales-sales’ agama Allah. Mereka jajakan agama Allah dengan mengharap bonus pahala dariNya. Keberhasilan dan kegagalan dakwah ditentukan oleh kehandalan mereka dalam menyampaikan agama Allah. Para dai yang smart dan simpatik akan menyukseskan tersebarnya agama Allah di tengah umat. Jadilah sales-sales agama Allah yang terbaik untuk anak-anak kita, sehingga mereka berkomitmen menjadikan Islam sebagai jalan hidup mereka.

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (TQS. An-Nahl: 125).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.