
Photo by Sam Ebanezer: https://www.pexels.com/photo/man-in-suit-and-with-yamaha-motorbike-17216397/
Diskusi seputar independent woman vs pria mapan menjadi topik yang menarik terutama di kalangan Gen Z. Perbincangan ini menjadi semakin ’panas’ setelah dipicu video viral seorang selebritis tanah air, perempuan, yang menuturkan isu ini. Katanya, banyak independent woman tapi sedikit pria mapan.
Obrolan dengan tema pria mapan ini erat kaitannya dengan pernikahan. Di media sosial banyak Gen Z yang mengkritik lelaki ’mokondo’, sebutan mereka, tapi nekat nikah. Ujungnya istri dan anak sengsara. Apalagi banyak pemberitaan tentan kasus keluarga yang terlantar karena ulah suaminya; pengangguran atau ekonomi lemah, akhirnya anak dan istri jadi korban. Maka, banyak Gen Z yang beri peringatan keras kalau mapan jangan dulu berani ngajak ke pelaminan.
Apalagi, kata mereka, hari ini semakin banyak perempuan jadi independent woman. Punya pekerjaan, pendidikan tinggi, dan secara finansial mumpuni. Laki yang belum mapan jangan berani-berani ajukan proposal nikahan, kecuali yang tak tahu diri.
Material World
Secara Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), mapan itu berarti; mantap (baik, tidak goyah, stabil) kedudukannya (kehidupannya): dia yang dulu lontang-lantung, kini hidupnya telah –; Dalam perbincangan sehari-hari, mapan identik dengan pribadi yang punya kemampuan finansial memadai. Penghasilan tinggi, punya kendaraan atau bahkan rumah pribadi.
Cuma, apa standar kemapanan itu? Ini yang nge-blur. Gak jelas. Gen Z atau orang Indonesia hari ini ramai bicarakan mapan banyak terpengaruh obrolan di media sosial. Juga melihat dari gaya hidup sebagian orang yang diekspos di akun-akun medsos mereka, alias flexing. Akhirnya itu kerap jadi standar kemapanan seseorang. Kalau punya motor sport, bisa sering ngopi di kafe-kafe, rutin traveling, outfitnya merk anu dengan harga sekian ratus ribu, dsb.
Belakangan kriteria mapan juga ditambah lagi punya kepribadian baik, dewasa, suka membantu keluarga, dsb. Tapi, standar finansial tetap paling terdepan, apalagi kalau bahasannya opsi mencari suami.
Soal mapan dan tidak mapan ini persis lirik salah satu lagu Madonna, diva musik pop yang pernah terkenal di tahun 90-an, Material Girl.
Some boys kiss me, some boys hug me
I think they’re okay
If they don’t give me proper credit
I just walk away
….
‘Cause we are living in a material world
And I am a material girl
You know that we are living in a material world
And I am a material girl
Pemikiran seperti ini akhirnya berdampak negatif pada banyak hal, misalnya kemapanan finansial jadi ukuran tinggi rendahnya status seseorang. Makin kaya, makin dihormati dan dihargai. Cowok mapan dengan kebebasan finansial maka jadi idaman banyak perempuan. Tapi laki yang tidak mapan keuangannya, walaupun baik, bisa jadi dipinggirkan.
Karena ingin dibilang mapan, banyak orang berpura-pura dan memaksakan diri agar kelihatan mapan. Muncul perilaku FOMO (Fear Of Missing Out), flexing dan ujungnya lahir perilaku doom spending. Keuangan pun boncos. Babak belur. Beberapa riset menunjukkan banyak Gen Z yang terjerat masalah keuangan karena gaya hidup. Ada yang menyebutkan 38 % dari mereka terlilit utang akibat gaya hidup. Semua demi disebut mapan.
Dampak lain perbincangan standar kemapanan yang tidak jelas ini adalah menurunkan angka pernikahan di kalangan Gen Z. Banyak lelaki yang menunda nikah karena merasa belum mapan dan khawatir penghasilan mereka tidak mencukupi kebutuhan keluarga kelak. Sementara yang perempuan juga berpikir ulang andai diajak menikah oleh lelaki yang menurut mereka belum masuk standar kemapanan.
Berpikir Sehat
Penting untuk Gen Z berpikir sehat dan simpel tentang batas kemapanan. Pertama, diskusi soal kemapanan harusnya ada ukuran yang jelas, bukan diserahkan pada penilaian tiap orang, apalagi mengikuti FOMO. Misalnya, disebut mapan dengan ukuran seleb anu, atau punya rumah pribadi, bisa menyekolahkan anak di sekolah elit, dsb.
Percayalah, perbincangan soal mapan tanpa ukuran yang jelas bikin hidup jadi rumit dan menyusahkan. Percaya juga kalau Islam beri batasan jelas dan simpel. Akhirnya memudahkan hidup kita sebagai manusia. Padahal sebenarnya manusia itu bisa hidup damai sesuai kebutuhan dasarnya sebagai manusia. Tapi, manusia akan sengsara bila ingin hidup sesuai keinginannya. Karena kebutuhan manusia sebenarnya terbatas, tapi keinginannya itu tanpa batas.
Kalau kita bicara soal kemapanan, maka yang pertama harus dipahami adalah soal rizki. Rizki itu gift dari Allah. Mutlak. Bukan sesuatu yang bisa didapat dari kerja manusia. Kalau kerja keras itu menghasilkan rizki yang banyak, harusnya tukang batu itu adalah manusia paling mapan. Kalau kerja cerdas itu juga menghasilkan banyak uang, harusnya profesor ada di top list orang paling mapan.
Tapi Allah menetapkan bahwa Dialah Maha Pemberi Rizki. Dia bisa lapangkan atau sempitkan rizki seseorang. FirmanNya:
Dan tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah melapangkan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa yang dikehendaki-Nya? Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang beriman. (TQS Az-Zumar [39]: 52)
Ada lelaki yang ketika sekolah dan kuliah masuk kelompok marjinal. Tinggal aja di masjid merangkap marbot dan guru TPA. Namun begitu lulus bisa punya karir yang bagus dan keluarga yang sakinah. Ada orang yang tadinya tajir melintir, tapi dalam hitungan tahun semua bisnisnya kolaps. Hartanya disita negara karena ternyata pundi-pundi kekayaannya didapat dari hasil menggarong uang negara.
Kedua, kenapa Gen Z gak mulai membicarakan pria matang? Beda lho antara mapan dengan matang. Kalau mapan pembahasan secara materi, kalau matang adalah soal kepribadian. Cowok mapan belum tentu matang, juga sebaliknya. Tapi lelaki yang matang dia akan berjuang untuk mendapatkan kemapanan.
Apalagi dalam Islam lelaki memang bertugas sebagai pencari nafkah untuk dirinya dan keluarganya. Menyediakan makanan, pakaian dan tempat tinggal. Lalu Allah yang Mahabijak menetapkan batas mapan itu adalah kema’rufan. FirmanNya:
Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. (TQS. Al-Baqarah [2]: 233)
Juga firmanNya:
Tempatkanlah mereka (para isteri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka. (TQS. Ath-Thalaq [65]: 6)
Kalau rizki seorang suami lagi lapang, maka Allah perintahkan ia menafkahi anak-istrinya selapang-lapangnya. Tidak boleh menahan hak mereka. Firman Allah:
Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan. (TQS. Ath-Thalaq [65]: 7)
Ketiga, kalau bicara kemapanan harus selalu kaitkan dengan kebahagiaan. Apakah seorang lelaki yang mapan dipastikan akan membuat seorang keluarganya bahagia? Ada yang bilang, belum tentu sih, tapi setidaknya dengan kemapanan dan uang berlimpah, kita bisa mendapatkan apa yang kita mau. Tapi, apakah itu namanya bahagia?
Belum tentu. Sudah banyak contoh mereka yang menikah ala kerajaan, ala princess, lalu berujung duka nestapa. Juga banyak pasangan yang hidupnya pas-pasan lalu bubar. Intinya, kebahagiaan tidak berbanding lurus dengan kemapanan suami. Kebahagiaan itu sesuatu yang harus diciptakan, di-create, dari dalam hati. Tepatnya, bersumber dari keimanan. Banyak pasangan yang bukan golongan mapan, jet set, tapi bisa menata hati dan menciptakan kebahagiaan.
Rasulullah saw mengajarkan dua prinsip kebahagiaan; sabar dan syukur. Saat kenyataan belum sesuai harapan, maka bersabar dan ridho dengan ketetapan Allah Swt. Lalu bila Allah memberikan kenikmatan – sekecil apapun – hati mensyukurinya.
Orang yang bersyukur akan bahagia meski minum kopi sachetan bubar pengajian. Jauh lebih bahagia dari mereka yang minum segelas latte macchiato dengan sepiring croissant di kafe mahal, namun hati tak pernah kunjung bersyukur.
Nyatanya, tidak banyak orang yang benar-benar bersyukur atas nikmat Allah. Pantas, bila dunia lebih banyak diisi orang-orang yang gelisah padahal mereka sudah berada di zona kemapanan. Benarlah firman Allah Swt:
Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih. (TQS. Saba’ [34]: 13).

Leave a Reply