Penghancuran Keluarga Muslim

detik-penghancuran-keluarga-muslim-250x330Sudah membaca buku terakhir saya Detik-Detik Penghancuran Keluarga Islam?

Ada pertimbangan kuat mengapa saya membuat buku itu. Di antaranya banyak keluarga muslim yang lengah padahal mereka tengah menjadi sasaran deislamisasi oleh Barat. Berbagai serangan perang pemikiran dan perang kebudayaan diarahkan kepada keluarga muslim.

Kenapa keluarga? Karena keluargalah titik awal sebuah peradaban dapat dibangun. Keluarga pula yang akan menghasilkan muslim-muslim yang tangguh. Keluarga adalah the first and the best school for children. Para ulama besar dicetak dari keluarga mereka. Maka keluarga muslim adalah sasaran yang amat penting bagi program perang pemikiran dan perang kebudayaan (ghazw al-fikri wa ghazw ats-tsaqofiy).

Sayangnya banyak keluarga muslim yang menganggap dua perang ini adalah tema yang usang. Bahkan ada juga yang menyangka dua topik itu adalah isapan jempol. Padahal semuanya riil. Tengok saja dokumen yang dihasilkan dari berlangsung Konferensi Internasional Kependudukan dan Pembangunan (International Conference on Population and Development – ICPD). Dalam pertemuan yang berlangsung di jantung dunia Islam itu diluncurkan sejumlah program yang bersifat destruktif bagi kehidupan sosial umat manusia, khususnya kaum muslimin. Pembaca bisa melihatnya di link berikut ini: http://www.iisd.ca/Cairo/program/p00000.html

Di dalam buku ini saya paparkan berbagai isu berbahaya bagi keluarga muslim yang dilontarkan orang-orang yang tak bertanggung jawab, yang hasad terhadap umat Islam. Paling vital adalah melakukan liberalisasi keluarga. Sebut saja upaya untuk melegalkan kawin campur – nikah beda agama –, terutama agar para muslimah dapat dinikahi oleh pria non-muslim. Di Jakarta malah sudah ada seorang tokoh liberal yang menyediakan diri menjadi penghulu untuk pernikahan haram ini.

Paham feminisme juga coba dimasukkan ke dalam rumah tangga muslim. Kaum muslimin coba dibuat percaya bahwa pembagian kerja istri/ibu dan suami/ayah dapat diubah berdasarkan kesepakatan bersama. Jadi seorang perempuan tidak  boleh dipaksa tinggal di rumah, melahirkan dan mengurus anak, dan tidak ada ketaatan pada suami. Rumah tangga adalah kesepakatan bersama. Tidak ada pemimpin dan bawahan.

Lebih menjijikkan lagi, kini tengah diperjuangkan agar diakui dan disahkan perkawinan sejenis untuk kaum gay dan lesbian. Bahkan kaum liberal ini tidak takut mengutak-atik ayat-ayat Allah dan memutarbalikkan hukum untuk membenarkan hawa nafsu bejat mereka. Sejumlah akademisi dan LSM sering menyuarakan gagasan pernikahan sejenis ini.

Di sisi lain keluarga muslim juga dihadang dengan kebijakan pembatasan usia pernikahan, birth control, pornografi, dsb. Aturan-aturan ini kerap dibungkus dengan alasan yang terdengar indah tapi sebenarnya bertabrakan dengan syariat Islam dan bersifat destruktif bagi keluarga muslim dan masyarakat.

Cukup lama saya membuat buku ini. Semoga bisa menjadi bahan berharga untuk melindungi keluarga kita dan umat. Menjadi bahan kajian untuk menyadarkan keluarga-keluarga muslim, tokoh-tokoh Islam, yang mungkin belum sadar bahwa umat ini sudah diserang dari berbagai penjuru oleh banyak umat  layaknya makanan di atas meja. Apa sudah yang disabdakan oleh Nabi saw. telah terbukti benar. Semoga Allah melindungi kita dan keluarga kita dari makar musuh-musuh Islam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *