Persatuan Ulama Muslim Internasional (IUMS) yang berpengaruh telah mengeluarkan fatwa Palestina yang mengatakan bahwa rezim dan tentara Arab diwajibkan oleh Syariat Islam untuk melakukan intervensi militer guna menyelamatkan Gaza dari genosida dan pemusnahan massal.
Badan ulama tersebut memilih negara-negara yang berbatasan dengan Palestina – Mesir, Yordania, Suriah dan Libanon – dan mengatakan bahwa intervensi militer adalah kewajiban Syariah atas mereka.
Isi fatwa tersebut dibacakan dalam konferensi pers Fatwa tentang Peran Pemerintah Islam terhadap Invasi Israel ke Gaza pada Selasa, 31 Oktober 2023 di markas pusat IUMS yang berlokasi di Qatar.
Komite Ijtihad dan Fatwa Persatuan Ulama Muslim Internasional mengadakan pertemuan permanen dan berkelanjutan untuk menindaklanjuti agresi brutal yang dilakukan oleh penjajah Zionis terhadap rakyat Gaza. Di antara fatwanya sebagai berikut
1. Wajib hukumnya bagi rezim-rezim yang berkuasa dan tentara-tentara resmi untuk segera turun tangan menyelamatkan Gaza dari genosida dan kehancuran menyeluruh, dengan komitmen penuh terhadap kewajiban mendukung Palestina secara agama, politik, hukum dan moral, sesuai dengan kesepakatan internasional dan kepentingan strategis kawasan dan umat, serta sesuai dengan mandat sah mereka atas rakyat.
2. Tugas intervensi militer dan penyediaan peralatan dan keahlian militer mengikat secara hukum, sesuai dengan yang berikut ini:
a) Pertama, di dalam negeri Palestina di tingkat Otoritas Palestina dan semua faksi perlawanan di Tepi Barat dan wilayah 1948.
b) Di negara-negara sekitarnya, dimulai dari Mesir, kemudian Yordania, Suriah dan Lebanon.
Dalam poin selanjutnya mengenai tindak balas terhadap sokongan Barat terhadap entitas Yahudi, para ulama ini menyampaikan: ”Sangat penting bagi negara-negara Arab dan Islam untuk membalas secara militer, finansial, media, diplomatik dan strategis, untuk mencapai keseimbangan internasional dan mencegah tirani yang dapat menimbulkan kekacauan yang dapat menandakan kehancuran. Tidak dapat dibayangkan bahwa tentara resmi, yang berjumlah empat juta, dan yang menghabiskan $ 170 miliar setiap tahunnya, tetap terkurung di barak mereka, senjata mereka berkarat, sistem mereka runtuh, negara runtuh, dan dunia runtuh.”
Poin berikutnya para disampaikan juga bahwa haramnya berdiam diri terhadap agresi zionis Yahudi. Bahkan tindakan tersebut adalah pengkhianatan; ”Membiarkan Gaza, Al-Aqsha, Yerusalem, dan Palestina untuk dibinasakan dan dihancurkan merupakan pengkhianatan terhadap Allah, Rasul-Nya, dan kaum mukminin, serta termasuk dosa besar yang paling besar dan dosa yang paling besar.”
”Membiarkan Gaza, Al-Aqsha, Yerusalem, dan Palestina untuk dibinasakan dan dihancurkan merupakan pengkhianatan terhadap Allah, Rasul-Nya, dan kaum mukminin, serta termasuk dosa besar yang paling besar dan dosa yang paling besar.”
Fatwa ini sebenarnya hanya menegaskan hukum-hukum Islam yang telah jelas dan tak dapat dibantah lagi oleh siapapun akan kewajiban berjihad membebaskan Palestina dari cengkraman Zionis Yahudi. Tinggal persoalannya apakah para penguasa muslim itu masih punya rasa kemanusiaan, malu dan takut pada Allah Swt?
Negeri-negeri Muslim punya kekuatan militer yang jauh lebih kuat dibandingkan Zionis Yahudi. Menurut situs Global Fire Power yang melakukan pemeringkatan kekuatan militer negara-negara di dunia, tiga negeri Muslim yakni Turki (peringkat 11), Mesir (peringkat 14) dan Iran (peringkat 17) berada di atas kekuatan militer Zionis Yahudi (peringkat 18) (2023 Military Strength Ranking (globalfirepower.com))
Persoalannya mereka memang tidak punya keinginan membebaskan Palestina. Para pemimpin dunia Islam sengaja memelihara krisis Palestina untuk menaikkan citra mereka di mata rakyatnya, dengan memainkan retorika, gertakan, atau mengirimkan bantuan uang, pangan dan obat-obatan.
Setali tiga uang dengan para pendukung mereka, banyak yang terus mencari dalih pembenaran atas diamnya para pemimpin yang mereka idolakan tersebut. Padahal para pemimpin itu sebagaimana isi fatwa di atas telah melakukan pengkhianatan karena membiarkan Gaza dihancurkan dan dibinasakan.
Para pemimpin itu di atas podium mengecam kejahatan Zionis Yahudi tapi mereka juga menyokong eksistensinya. Negeri Yahudi misalnya mendapatkan impor minyak berjumlah 60 % dari negeri-negeri Islam seperti Azerbaijan, Kazakhstan dan Turki. Pipa-pipa minyak dari Azerbaijan mengalir ke negeri Yahudi melalui Turki.
Karenanya Netanyahu, PM Yahudi, di tahun 2020 pernah berseloroh tentang Presiden Turki Erdogan dengan mengatakan, “Once he [Erdogan] used to call me Hitler every three hours, now it’s every six hours but thank God trade [with Turkey] is up.”
Alasan lain yang dikeluarkan para pemimpin Arab dan para pendukungnya adalah kekhawatiran kondisi akan memburuk, dan ketakutan mereka akan ancaman militer Amerika Serikat. Kalau ini yang dijadikan alasan, apakah ini menunjukkan rakyat Vietnam lebih pemberani dibandingkan para penguasa Arab dan tentara-tentara mereka? Rakyat Vietnam berhasil membuat militer Amerika Serikat kalah telak dalam Perang Vietnam, padahal mereka hanya mengandalkan persenjataan terbatas sedangkan AS saat itu sudah memiliki kekuatan militer jauh lebih besar. Saat itu AS mengerahkan persenjataan jauh lebih canggih dari senjata yang digunakan rakyat Vietnam seperti senapan M16, granat M61, tank Patton 48, M102 Howitzer.
AS juga menggunakan senjata terlarang seperti bom napalm (pembakar petrokimia yang membakar pada suhu 2.700C dan menempel pada apa pun yang disentuhnya) dan Agen Oranye (bahan kimia yang digunakan untuk menggunduli hutan tempat musuh bersembunyi, juga membunuh tanaman pangan sehingga menyebabkan kelaparan).
Dalam Perang Vietnam, AS menempatkan lebih dari setengah juta tentara di Vietnam. Mereka menghabiskan anggaran yang sangat besar. Pada tahun 2008, sebuah laporan Kongres AS memperkirakan total pengeluaran untuk perang adalah US$686 miliar (lebih dari US$950 miliar atau Rp14.323 triliun dalam kurs saat ini). Namun Amerika Serikat pulang sebagai pecundang. Tak sanggup menundukkan perlawanan semesta rakyat Vietnam.
Dalam perang Vietnam meski telah mengerahkan setengah juta tentara dengan persenjataan lebih canggih dari milisi Vietnam, namun mereka kalah total dan pulang sebagai pecundang
Apakah para pemimpin dunia Islam tidak malu pada rakyat Vietnam? Ataukah mereka mau belajar dari keteladanan para sahabat dalam Perang Badar, Perang Hunain, Perang Ahzab atau Perang Qadisiyah?
Kuncinya memang keimanan dan ketakwaan, karena itulah yang sesungguhnya jadi kunci keberanian dan kemenangan umat ini sepanjang zaman. Namun sepertinya para pemimpin dunia Islam telah mengalami apa yang digambarkan Nabi Saw. Mereka terjerat al-wahn; cinta dunia dan takut mati. Akhirnya muncullah jiwa pengecut dan gentar pada musuh-musuh mereka.
«يُوشِكُ الأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا ». فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ « بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزِعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِى قُلُوبِكُمُ الْوَهَنَ ». فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهَنُ قَالَ « حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ «.
“Nyaris sudah para umat-umat (selain Islam) berkumpul (bersekongkol) menghadapi kalian sebagaimana berkumpulnya orang-orang yang makan manghadapi bejana makanannya”, Lalu seseorang bertanya : “Apakah kami pada saat itu sedikit ?” Beliau menjawab : “Tidak, bahkan kalian pada saat itu banyak, akan tetapi kalian itu buih seperti buih banjir, dan Allah akan menghilangkan dari diri musuh-musuh kalian rasa takut terhadap kalian dan menimpakan kedalam hati-hati kalian wahn (kelemahan)”, Lalu bertanya lagi : “Wahai Rasulullah apa wahn (kelemahan) itu ?”, Kata beliau :” Cinta dunia takut mati” (HR. Abu Daud dan Ahmad)

Leave a Reply