Pak Menag, Remaja Kita Terpapar Hedonisme Radikal & Seks Bebas!

Miris, prihatin, sekaligus jijik. Campur aduk perasaan saya dan istri usai membaca 37 pasangan ABG – rata-rata pelajar SMP – tertangkap razia gabungan TNI/Polri tengah melakukan pesta seks. Di tengah-tengah mereka ada obat kuat dan alat kontrasepsi. Pesta liar ala binatang yang terjadi di satu hotel di Jambi, kabarnya dalam rangka perayaan ulang tahun salah seorang pelajar. Entah darimana ide kotor itu datang, perayaan itu diisi dengan sex party ala kaum hedonis di Barat.

Tak bisa dibayangkan bagaimana perasaan orang tua juga guru-guru mereka. Sebagian besar tak bakal kepikiran kalau anak-anak mereka yang masih kinyis-kinyis, unyu, usia amat belia, berstatus pelajar pula, punya gaya hidup ala kaum hippies Amrik.

Tapi siapa saja yang sering mencermati perkembangan sosial remaja Indonesia, akan melihat kalau negeri ini sudah masuk fase kritis seks bebas alias hingga perzinahan. Pacaran di kalangan pelajar juga bukan sekedar chatting WA, jalan-jalan atau makan-makan. Sebagian besar pelajar yang melakukan pacaran umumnya akrab dengan gaya pacaran mulai dari necking, kissing, petting sampai intercourse. Untuk banyak remaja hari ini keperjakaan dan keperawanan sudah tidak sakral lagi. Mereka juga tidak kepikiran kalau nanti hamil atau kesamber penyakit kelamin.

Banyak anak-anak muda dari kalangan jet set atau selebritis yang liburan berduaan dengan pacar mereka. Menginap di hotel dan jalan-jalan. Tentu saja seizin orangtua mereka. Apa yang mereka lakukan selama di sana jelas tak bisa dipantau oleh orang tua. Untuk remaja yang kantongnya pas-pasan, seks bebas bisa mereka lakukan di losmen murah, di rumah, sampai di kebon-kebon kosong.

Budaya ini sejalan dengan sejumlah penelitian soal perilaku seks bebas remaja. Tahun 2010, BKKB pernah melansir data kalau 55 % siswi di Jabodetabek sudah tidak perawan. Meskipun Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) meragukan besaran angka itu, walau KPAI tak menyangkal kalau pergaulan remaja Indonesia memang sudah liberal. Bebas.

Tahun 2019, penelitian yang dilakukan oleh Reckitt Benckiser Indonesia terhadap 500 remaja di lima kota besar di Indonesia menemukan 33 persen remaja pernah melakukan hubungan seks penetrasi. Dari hasil tersebut, 58 persennya melakukan penetrasi di usia 18 sampai 20 tahun. Selain itu, para peserta survei ini adalah mereka yang belum menikah.

Namun sejauh ini, minim tanggapan keras apalagi kebijakan dari negara untuk menangani gaya hidup hedonisme dan seks bebas remaja ini. Pemerintah hanya melakukan penyuluhan kesehatan organ reproduksi itu pun dengan amat terbatas. Alih-alih menangkal budaya seks bebas remaja, pemerintah malah membatasi pernikahan usia dini dan kehamilannya. Padahal persoalan besar hari ini adalah pergaulan bebas di kalangan remaja dan pelajar.

Lebih aneh lagi, pemerintah malah sibuk menangkal apa yang mereka sebut Islam radikal. Dibuatlah survey yang hasilnya menyebutkan sekian persen pelajar terpapar radikalisme, membela muslim Suriah, mendukung syariah dan khilafah, dst. Tujuannya untuk menciptakan ‘monster’ kalau Indonesia terancam ajaran Islam radikal.

Akibatnya rohis di sekolah-sekolah dicurigai dan dibatasi ruang geraknya. Bahkan kajian-kajian keislaman di banyak sekolah ditutup, dan hanya diisi oleh pihak internal sekolah atau narasumber pilihan seperti dari Kemenag.

Perang melawan radikalisme terus dilakukan. Terakhir Kemenag menghapuskan konten-konten radikal di 155 buku pelajaran agama. Bahasan seputar jihad dan khilafah akan dihapuskan karena dianggap radikal dan sudah tidak relevan dengan budaya nasional.

Ketakutan dan kebencian pada Islam radikal begitu kental, tapi pemerintah terutama Kemenag seperti pura-pura buta kalau ancaman yang sudah nyata adalah ajaran sekulerisme-liberalisme radikal. Hedonisme yang menghasilkan pergaulan bebas itu adalah ajaran turunan dari liberalisme. Tapi sama sekali tidak ada seruan dahsyat untuk berperang melawan ajaran liberalisme-hedonisme radikal. Kapan ajaran liberalisme hedonisme itu di-deradikalisasi?

Menghadapi tsunami budaya hedonisme dan seks bebas, pemerintah, sekolah dan para ustadz masih pakai formula lama yang sudah usang, yaitu himbauan, nasihat atau khutbah, yang dianggap boring atau gabut oleh para remaja karena tidak relevan. Sementara perilaku pacaran dengan segala bentuknya sama sekali tidak diselesaikan. Tak ada larangan pacaran, razia di sekolah atau sanksi bagi mereka yang kedapatan pacaran baik di lingkungan ataupun di luar sekolah. Beda kan, dengan kebijakan menghadapi ‘Islam radikal’?

Sikap ini jadi memunculkan pertanyaan sarkastis; apakah sepertinya negara rela siswi-siswi di tanah air banyak yang tidak perawan atau bunting di luar nikah? Lalu kemudian merebak penyakit kelamin dan aborsi berceceran di mana-mana?

Coba lihatlah pada para pelajar yang dituduh penganut Islam radikal; apakah ada di antara mereka yang terbiasa dengan pergaulan bebas apalagi sampai hamil di luar nikah? Apakah mereka biasa mengadakan pesta seks ala pelajar di Jambi itu?

Mereka lebih senang duduk di mesjid mendengarkan talim, berkumpul sambil makan nasi liwet bersama para ustadz/ustadzah dan kawan-kawan mereka yang rajin ibadah. Mereka malah menyerukan anti pergaulan bebas, anti pacaran dan anti Valentine day. Itu mereka lakukan karena keyakinan mereka sebagai muslim yang cinta pada agamanya.

Jadi, wahai bapak-bapak pejabat, kepala sekolah, guru dan terutama Kemenag, buka mata, bangun, remaja dan pelajar kita sudah terpapar ajaran hedonisme liberal. Jika kalian lebih sibuk memerangi apa yang disebut Islam radikal, tapi membuka pintu untuk budaya liberal, tunggu saja masa depan bangsa ini bakal hancur berantakan.

Karena anak-anak muda dan pelajar yang tercebur ke dunia hedonisme radikal dan seks bebas itu bisa jadi mereka bakal jadi guru, dosen, rektor, pengusaha, pejabat, anggota dewan, menteri malah mungkin presiden. Bisa dibayangkan apa jadinya negeri ini bila para pemimpinnya punya jejak rekam amoral sejak usia muda.

Jadi, Pak Menag, saya mau teriak; pelajar kita terpapar hedonisme radikal!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.