Membunuh Agama Nabi

quran-burningKematian hampir selalu meninggalkan kepiluan. Suasana itulah yang dirasakan oleh para sahabat di Madinah saat ditinggal wafat Rasulullah saw. Tak ada sahabat yang tak hatinya terguncang dan air matanya berlinang. Dalam siroh kita pun membaca demikian emosionalnya Umar bin Khaththab ra. mendengar kabar duka tersebut. Kepada orang-orang ia berseru: “Beberapa orang munafik mengira Rasulullah saw. wafat. Demi Allah, Rasulullah saw. tidak wafat, namun hanya pergi kepada Tuhannya seperti halnya Nabi Musa yang pergi dari kaumnya selam empat puluh hari kemudian kembali kepada mereka setelah dikatakan beliau telah wafat. Demi Allah, Rasulullah saw. pasti kembali seperti Nabi Musa, kemudian beliau pasti memotong tangan dan kaki orang-orang yang berkata bawa Rasulullah saw telah wafat.”

Abu Bakar ash-Shiddiq ra. yang mengetahui kesedihan mendalam sahabatnya lalu membacakan surat ali Imran ayat 144.

Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika Dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, Maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi Balasan kepada orang-orang yang bersyukur.

Ayat ini pun segera menyadarkan Umar dan membuatnya jatuh ke tanah.

Secara psikologis, sikap Umar mencerminkan dua hal; rasa duka yang mendalam dan kecemasan akan bangkitnya keberanian musuh-musuh Islam serta kaum munafik untuk menikam ajaran Islam. Selama Nabi saw. hidup kaum munafik tidak berani menampakkan pembangkangan mereka terhadap Islam. Umar cemas, setelah Beliau saw. wafat orang-orang akan menampakkan permusuhan nyata terhadap Islam dan kaum muslimin.

Di dalam al-Quran kita membaca sikap tercela kaum Bani Israil yang berulangkali membunuh sejumlah utusan Allah SWT. Sikap ini yang menyebabkan kemurkaan Allah menimpa mereka.

Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh Para Nabi tanpa alasan yang benar. yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas. (QS. ali Imran: 112)

Dalam sejarah Bani Israil bukan saja membunuh para nabi tapi juga menyimpangkan ajaran yang sudah dibawa para nabi mereka. Pantas setiap shalat kita membaca al-Fatihah yang pada akhir surat setiap muslim memohon kepada Allah jalan hidup penuh kenikmatan, bukan jalan hidup orang-orang yang sesat dan yang dimurkai. Para mufasir menjelaskan kelompok ‘yang dimurkai’ adalah orang-orang Yahudi.

Umar cemas sepeninggal Nabi Muhammad saw. umat manusia akan berpaling dari Islam yang telah didakwahkan dan diberlakukan secara sempurna. Umar khawatir manusia akan ‘membunuh’ risalah Nabiyullah Muhammad saw. Dan manuver-manuver politik keji itu telah coba dilakukan, bahkan ketika Rasulullah masih hidup. Sejumlah nabi palsu bermunculan.

Akan tetapi Allah masih menyayangi umat Islam.  Khalifah Abu Bakar ra. naik ke tampuk kekuasaan memimpin umat. Dengan kegigihannya Beliau melindungi umat dan menjaga penerapan ajaran Islam agar tetap kaffah. Para nabi palsu ditumpas, kabilah-kabilah Arab yang murtad dan memberontak dapat dihancurkan, gangguan Romawi di daerah perbatasan dapat dienyahkan.

Benar, kita bukan Bani Israil yang membunuhi para nabi. Rasulullah saw. tidak wafat di tangan kita. Beliau menghadap Rafiqul a’la dengan ketenangan. Namun yang dicemaskan Umar adalah risalah Nabi saw. ‘mati’ di tangan kita. Kita menelantarkan pelaksanaan ajaran Islam. Bersikap tak acuh terhadap al-Quran dan sunnah Nabi saw. tetapi masih merasa mencintai Nabi. Inilah yang diingatkan oleh Abu Bakar kepada Umar dan umat Islam dengan membaca firman Allah:

Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika Dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, Maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi Balasan kepada orang-orang yang bersyukur.

Para pemimpin negeri-negeri Islam berbalik ke belakang. Tak ada ghirah menegakkan syariat Islam seperti Abu Bakar ash-Shiddiq ra. di masa kekhilafahannya.

Di negeri ini peredaran miras dilegalkan, ironinya diawali dengan kalimat ‘Dengan rahmat TuhanYang Maha Esa’, padahal setiap tahun Maulud Nabi SAW. dirayakan. Tak terbersitkah kekhawatiran kita dicap menelantarkan risalah Nabi?

Umat kini sudah merasa puas dengan menyenandungkan shalawat, merayakan hari kelahiran Nabi SAW., dan memberikan nama ‘Muhammad’ pada anak-anak mereka. Tapi amalan pokok memberlakukan syariat Islam justru diabaikan. Bahkan permusuhan diberikan kepada siapa saja yang berusaha mengubah sistem demokrasi-kapitalisme di negeri ini dengan syariat Islam. Lalu, bisakah disebut pecinta Nabi bila memisahkan sosok Nabi dari risalah Nabi? Padahal Allah SWT. telah mengingatkan:

Apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Amat keras hukumannya.(QS. al-Hasyr [59]: 7).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *