
Photo by Usman Yousaf on Unsplash
Diskusi soal lelaki dan perempuan seperti tidak pernah habis. Selalu ada yang menarik. Salah satunya tema ’lelaki tidak bercerita’. Tema ini banyak dibincangkan di media sosial. Tapi benarkah lelaki tidak bercerita? Benarkah perempuan lebih banyak bercerita ketimbang lelaki? Apa hubungannya dengan maskulinitas kaum pria?
Ada anekdot soal lelaki tidak bercerita; lelaki itu tidak bercerita, tapi fikirannya itu berubah menjadi rambut uban, lalu uban itu bercahaya di syurga sana.
Banyak riset menunjukkan bahwa hal itu adalah stereotip, alias prasangka yang didasarkan pada penilaian atau anggapan berdasarkan karakteristik terhadap lelaki. Faktanya lelaki dan perempuan sama-sama suka bercerita.
Sebuah studi yang dilakukan oleh para peneliti di University of Arizona pada tahun 2007 mendapatkan bukti bahwa pria berbicara sama banyaknya dengan perempuan – rata-rata 16 ribu kata perhari. Dengan menggunakan rekaman suara digital selama delapan tahun, para peneliti tersebut mempelajari berapa kata yang diucapkan ratusan para mahasiswa Amerika dan Mexico selama beberapa hari. Para mahasiswa itu membawa perekam suara-aktif rata-rata sepanjang 17 jam perhari.
Studi itu menunjukkan kaum perempuan berbicara 16,215 kata perhari, sedangkan para lelaki sejumlah 15,669. Meski kaum perempuan berbicara lebih banyak, tapi secara statistik perbedaan itu tidak signifikan.
Bukti lain, para lelaki suka bercerita adalah mereka bisa kuat ngobrol berjam-jam bila sedang berkumpul dengan circle-nya sesama lelaki. Mulai dari soal hobi, olahraga, urusan politik dan keluarga. Jadi, pernyataan lelaki tidak bercerita itu adalah bias dan stereotip.
Lalu kenapa ada lelaki yang faktanya jarang bicara, khususnya pada ibu atau pasangannya?
Pertama, banyak lelaki yang sejak kecil dididik dengan keliru atau termakan opini salah ini; lelaki kuat itu bisa selesaikan problemnya sendiri, bicarakan masalah pribadi pada orang lain terutama perempuan adalah kelemahan, jangan bebani ibu kamu atau keluarga kamu, dsb.
Bias dan stereotip ini juga ’ditelan’ oleh banyak perempuan. Mereka melabeli lelaki yang banyak bicara ’seperti mulut perempuan’. Atau memandang rendah dan lemah lelaki yang curhat persoalan yang sedang mereka hadapi. Banyak perempuan – termasuk ibu dan istri – yang menilai anak lelaki atau suami yang bercerita persoalan hidup sebagai pria yang banyak mengeluh. ”Jangan banyak ngeluh, kamu lelaki harus kuat,” biasanya begitu kalimat yang keluar dari mulut sebagian perempuan.
Inilah konstruksi sosial yang sebenarnya berbahaya. Budaya ini menjadikan stigma bila lelaki menangis, curhat atau minta bantuan. Akhirnya banyak lelaki tanpa disadari mengidap toxic masculinity. Dipaksa untuk selalu kuat dan tegar menghadapi berbagai persoalan padahal sebenarnya ia membutuhkan bantuan.
Kedua, sejumlah lelaki selektif dalam memilih topik pembicaraan terutama pada kaum perempuan, khususnya ibu dan istri mereka. Ini bisa berkorelasi karena perbedaan minat antara pria dan wanita. Misal, umumnya lelaki hobi dengan otomotif dan sepakbola, sementara kaum perempuan minor dalam bidang itu, maka topik-topik seperti itu jarang dibahas dengan kaum perempuan. Sebaliknya juga sama, karena jarang lelaki yang minat dengan topik memasak, pengasuhan anak, atau busana, maka kaum perempuan juga jarang membahasnya bersama kaum lelaki.
Ketiga, sebab lain yang membuat lelaki jarang berbicara dengan kaum perempuan adalah point of view yang beda terhadap suatu masalah. Lelaki yang beranggapan bahwa persoalan yang mereka hadapi seperti pekerjaan, konflik di kantor, mobil mogok, harus mereka selesaikan sendiri. Mereka tidak mau menambah beban pada keluarga mereka, baik ibu atau terhadap istri. Sehingga muncul pandangan dari perempuan kalau lelaki tidak bercerita.
Toxic Masculinity
Lelaki memang kuat, salah satunya karena mereka harus menjadi qowwam untuk keluarga. Laki memang harus ditempa untuk kuat dan bisa berusaha mencari solving problem. Mereka juga harus belajar untuk bisa menahan rasa sakit agar tidak diketahui orang-orang yang disayanginya, supaya tidak menimbulkan kecemasan pada mereka. Ini adalah bagian dari sifat sabar dan tegar yang diajarkan Islam.
Tapi bukan berarti seorang muslim – khususnya lelaki – haram mencari bantuan atau bercerita pada orang lain. Juga bukan berarti lemah ketika seorang pria curhat persoalannya pada ibunya atau bahkan pada istrinya. Tabiat manusia sebagai mahluk memang lemah dan membutuhkan bantuan pihak lain. Hal yang dilarang adalah berkeluh kesah terutama di hadapan sesama manusia.
Sikap lelaki yang suka menyimpan sendiri persoalan adalah bagian dari toxic masculinity. Yaitu kondisi dimana lelaki dipaksa oleh lingkungan untuk tetap tegar dan tidak minta bantuan pada orang lain karena statusnya sebagai lelaki.
Sebenarnya toxic masculinity adalah stigma dan konstruksi sosial yang mengharuskan laki-laki tampil superior, tangguh, dan tidak bergantung pada orang lain sehingga membuat mereka enggan mencari bantuan, baik dari keluarga, teman, maupun profesional. Celakanya saat kontrol dirinya rapuh, laki-laki rentan mengalihkan tekanan tersebut ke tindakan negatif seperti penyalahgunaan narkotika atau bahkan bunuh diri.
Kenyataan yang menyedihkan bahwa jumlah lelaki yang melakukan bunuh diri berlipat-lipat dibandingkan kaum perempuan. Pada 2016, menurut catatan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), diperkirakan ada 793.000 kematian akibat bunuh diri di seluruh dunia. Sebagian besar adalah laki-laki. Data WHO juga menunjukkan bahwa hampir 40% negara memiliki lebih dari 15 kematian akibat bunuh diri per 100.000 pria; hanya 1,5% yang menunjukkan tingkat yang lebih tinggi untuk perempuan.
Berceritalah Dan Saling Menguatkan
Maka meminta nasihat bukanlah tanda kelemahan. Nabi malah menyebutnya sebagai hak seorang muslim pada saudaranya. Sabda beliau:
حَقُّ اَلْمُسْلِمِ عَلَى اَلْمُسْلِمِ سِتٌّ:… وَإِذَا اِسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْهُ…
Hak muslim kepada muslim yang lain ada enam…apabila engkau dimintai nasihat, berilah nasihat kepadanya… (HR. Muslim)
Apalagi dalam kehidupan rumah tangga relasi suami-istri adalah persahabatan, bukan relasi kuasa. Sebagai pemilik qowwam suami juga punya hak mendapatkan support system dari istri bahkan dari anak-anak. Keduanya punya kewajiban saling memotivasi, memahami, memaklumi dan saling menguatkan. Allah Swt berfirman:
Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. (TQS. At-Taubah [9]: 71)
Istri bukan saja punya hak mendapatkan nafkah materi yang ma’ruf dari suami. Juga bukan sekedar punya hak dilindungi dan disayangi oleh kepala rumah tangga. Tapi istri punya kewajiban menjadikan dirinya bagian dari support system untuk mental suami. Ketika sang pencari nafkah mengalami krisis finansial, maka istri menguatkan dan menenangkan. Saat kepala keluarga rapuh, maka istri menjadikan rumah sebagai tempat yang nyaman dan pemulihan kesehatan mental. Itulah rumah tangga yang dirahmati Allah Swt. Nabi Saw bersabda:
يَا عَائِشَةُ ارْفُقِي, فَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَرَادَ بِأَهْلِ بَيْتٍ خَيْرًا دَلَّهُمْ عَلَى بَابِ الرِّفْقِ
Wahai Aisyah lemah lembutlah. Sesungguhnya jika Allah menghendaki kebaikan pada sebuah keluarga Allah akan menunjuki mereka menuju pintu kelembutan. (HR Ahmad)

Leave a Reply