Hidup Nyaman Tanpa Dendam

Photo by Diva Plavalaguna: https://www.pexels.com/photo/a-bearded-man-in-brown-sweater-smiling-6150379/

 

Imam asy-Syafi’i tanpa sungkan pernah mendatangi rumah muridnya yang berselisih paham dengan beliau. Ia meminta mereka kembali berbaikan. Kembali bersama tanpa memutuskan ukhuwah. How wonderful.

 

Di antara syarat hidup nyaman itu, teman, adalah tiada dendam. Baik pada sesama insan, apalagi pada orang beriman. Hidup dengan dendam itu membuat hidup terasa gelisah; selalu ingin mencari aib orang yang kita dendami, dan tak senang melihat ia hidup bahagia.

Bahaya dendam dan kebencian adalah ia bisa menular pada orang lain. Modusnya dengan menyebarkan keburukan korban, menghasut pihak lain untuk membenci dan memusuhinya. Duh. Sabda Nabi Saw:

دَبَّ إِلَيْكُمْ دَاءُ الْأُمَمِ قَبْلَكُمْ: الْحَسَدُ، وَالْبَغْضَاءُ

Telah menjalar mendekati kalian penyakit umat-umat terdahulu, yaitu hasad dan kebencian.(HR. Tirmidzi)

Mau tahu bahaya lain dari dendam dan permusuhan?

Tertutupnya ampunan dan rahmat Allah untuk para pelakunya. Imam Ibnu Hajar mengatakan; “Diantara dosa yang menghalangi seseorang dari ampunan Allah Ta’ala adalah dendam, yaitu kedengkian seorang muslim terhadap saudaranya karena kebencian kepadanya, disebabkan mengikuti hawa nafsu, dan hal itu juga menghalangi dari ampunan Allah di waktu-waktu yang paling banyak diberikan ampunan dan rahmat”. (Latha’iful Maarif hal.139)

Suatu ketika Yunus bin Abdi Al-‘Ala, berselisih pendapat dengan sang guru, yaitu Al-Imam Muhammad bin Idris As-Syafi’i (Imam Asy Syafi’i) saat beliau mengajar di Masjid.

Hal ini membuat Yunus bangkit dan meninggalkan majelis itu dalam keadaan marah. Kala malam menjelang, Yunus mendengar pintu rumahnya diketuk. Ia berkata: “Siapa di pintu?”

Orang yang mengetuk menjawab : “Muhammad bin Idris.”

Seketika Yunus berusaha untuk mengingat semua orang yang ia kenal dengan nama itu, hingga ia yakin tidak ada siapapun yang bernama Muhammad bin Idris yang ia kenal, kecuali Imam Asy Syafi’i..

Saat ia membuka pintu, ia sangat terkejut dengan kedatangan sang guru besar, yaitu Imam Syafi’i..

Imam Syafi’i berkata: “Wahai Yunus, selama ini kita disatukan dalam ratusan masalah, apakah karena satu masalah saja kita harus berpisah?

Janganlah engkau berusaha untuk menjadi pemenang dalam setiap perbedaan pendapat.

Terkadang, meraih hati orang lain itu lebih utama daripada meraih kemenangan atasnya.

Jangan pula engkau hancurkan jembatan yang telah kau bangun dan kau lewati di atasnya berulang kali, karena boleh jadi, kelak satu hari nanti engkau akan membutuhkannya kembali.”

Berusahalah dalam hidup ini agar engkau selalu membenci perilaku orang yang salah, tetapi jangan pernah engkau membeci orang yang melakukan kesalahan itu..

Engkau harus marah saat melihat kemaksiatan, tapi berlapang dadalah dan bimbinglah para pelaku kemaksiatan..

Engkau boleh mengkritik pendapat yang berbeda, namun tetap menghormati terhadap orang yang berbeda pendapat.

Karena tugas kita dalam kehidupan ini adalah menghilangkan penyakit, dan bukan membunuh orang yang sakit.”

Bila dendam sudah terasa di dada mulailah melantunkan doa terbaik dari Allah Swt:

رَبَّنَا ٱغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَٰنِنَا ٱلَّذِينَ سَبَقُونَا بِٱلْإِيمَٰنِ وَلَا تَجْعَلْ فِى قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ رَبَّنَآ إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang. (TQS Al-Hasyr: 10)

Baca terus berulang-ulang hingga akhirnya Allah hilangkan dendam dan permusuhan. Kemudian hadirkan kebaikan-kebaikan saudara kita. Tutupi aib-aibnya. Adapun dosa dan kesalahan yang ia lakukan mohonkan ampunan pada Allah Swt seperti doa di atas. []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.