Dua Kisah Bergizi Untuk Para Istri Dari Dua Pendamping Nabi

Sejarah Islam itu penuh dengan orang-orang terbaik di antara umat manusia. Di antaranya adalah ummahatul mukminin atau istri-istri baginda Nabi Saw. Meskipun mereka adalah manusia biasa, tapi Allah mengaruniakan pada mereka pribadi-pribadi yang cerdas dan mulia.

Di dalam Al-Qur’an ada sejumlah pujian untuk para pendamping rumah tangga Nabi ini. Baik pujian secara umum sebagai para sahabat khususnya as-sabiqunal awwalun (orang-orang yang pertama masuk Islam) seperti yang disebutkan dalam QS At-Taubah ayat 100, maupun dalam ayat-ayat yang secara khusus memberikan pujian untuk mereka. Firman Allah:

ٱلنَّبِيُّ أَوۡلَىٰ بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ مِنۡ أَنفُسِهِمۡۖ وَأَزۡوَٰجُهُۥٓ أُمَّهَٰتُهُمۡۗ وَ

Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka. (TQS. Al-Ahzab [33]: 6)

Prof Dr Wahbah Az-Zuhaili dan Syaikh As-Sa’di dalam tafsirnya memberikan penjelasan yang mirip bahwa kedudukan istri-istri Nabi adalah bak ibu bagi kaum muslimin dalam penghormatan dan pengagungan. Mereka punya kedudukan mulia dan wajib dimuliakan.

Dalam ayat lain Allah Swt berfirman:

يَٰنِسَآءَ ٱلنَّبِىِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِّنَ ٱلنِّسَآءِ ۚ إِنِ ٱتَّقَيْتُنَّ

Wahai istri-istri Nabi kalian tidaklah seperti salah seorang dari kalangan wanita yang lain jika kalian bertakwa. (TQS. Al-Ahzab [33]: 32)

Dalam tafsir Al-Mukhtasar/Markaz Tafsir Riyadh disebutkan; Kalian tidaklah seperti wanita-wanita lain dalam hal keutamaan dan kemuliaan, akan tetapi dalam hal keutamaan dan kemuliaan ini kalian berada pada tingkat yang tidak bisa dicapai oleh wanita selain kalian, apabila kalian menaati perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

Ada dua kisah menarik yang berisi hikmah dari dua orang istri Nabi;

 

I.  Khadijah Dan Kegelisahan Nabi Setelah Turunnya Wahyu

dalam kitab Sirah Nabawiyah karya Syaikh Mubarakfuri diceritakan ketika Rasulullah kembali dari Gua Hira setelah pertemuan dengan Malaikat Jibril dalam keadaan gelisah dan badan beliau menggigil karena demam. Dalam kondisi itu beliau menceritakan apa yang terjadi lalu meminta Khadijah untuk menyelimuti beliau. “Aku khawatir terhadap keadaan diriku sendiri,” kata Nabi pada Khadijah.

Ummul Mukminin Khadijah lalu menyelimuti tubuh Rasulullah Saw. dan berkata padanya; “Sekali-kali tidak, demi Allah, Allah tidak akan menghinakan Anda selamanya, sesungguhnya Anda suka menyambung silaturahmi, ikut membawakan beban orang lain, memenuhi kebutuhan orang yang tidak punya, memuliakan tamu, juga membantu menegakkan kebenaran.” (Al-Rahiq Al-Makhtum, Mubarakfuri, hal. 57)

Dalam kehidupan sehari-hari kadangkala suami pulang ke rumah dalam keadaan letih atau tidak seperti biasanya. Ia diam dengan wajah yang jauh dari good mood. Pada kondisi itu sayangnya istri yang malah tidak respek pada suaminya. Istri merasa suami sedang marah padanya, dan tidak merasa nyaman dengan sikap suami. Tidak jarang istri memarahi suami atau menyindir-nyindir suami dengan sebutan lemah, gak jelas, dsb.

Banyak perempuan yang tidak memahami perubahan emosi suami ketika menghadapi persoalan. Umumnya perempuan menyamakan karakter lelaki dengan perempuan yang akan bercerita pada sesama perempuan saat menghadapi persoalan. Padahal kondisi jiwa lelaki dan perempuan tidak sama saat berada dalam masalah. Ketika perempuan lebih ekspresif dalam menumpahkan perasaannya saat terbelit masalah, lelaki cenderung akan diam untuk bisa meredam emosi sambil mencari jalan keluar atas persoalan yang dihadapinya.

Lelaki juga seringkali berdiam diri saat dilanda masalah, termasuk ketika marah pada pasangannya karena tidak ingin memperkeruh suasana, atau mengeluarkan kata-kata dan tindakan yang menyakiti istrinya. Uniknya, banyak perempuan malah menganggap sikap diam suami itu menyakiti perasaannya dan tidak peduli dengan masalah yang dihadapinya. Kalau dalam titik ini kemudian perempuan memaksa suaminya untuk bicara bukan tidak mungkin malah pecah pertengkaran.

Apa yang Khadijah lakukan pada Rasulullah Saw adalah kecerdasan dan ahlak luar biasa. Khadijah baru memberikan respon ketika Nabi Saw menceritakan keadaan yang dialaminya di Gua Hira. Tidak memaksa Nabi untuk bercerita apa yang terjadi.  Ketika beliau meminta diselimuti, Khadijah segera menyelimuti Nabi. Selanjutnya Khadijah memberikan kata-kata berisi motivasi pada diri suami, bukan perkataan yang makin memojokkan kondisi suami atau menjatuhkan mentalnya.

Tidak lama setelah kejadian tersebut, Khadijah mengajak Rasulullah Saw menemui Waraqah bin Naufal, salah seorang kerabatnya yang banyak mempelajari kitab-kitab samawi terdahulu. Dari penjelasan Waraqah, hati Nabi semakin tenang dan mantap bahwa apa yang dialaminya adalah tanda-tanda kenabian seperti para nabi dan rasul terdahulu.

Betapa mulia pribadi Ummul Mukminin Khadijah ra. bisa melayani Rasulullah Saw dengan ketenangan dan kecerdasan yang luar biasa.

 

II. Ummu Salamah Dan Peristiwa Hudaibiyah

Masih dalam Sirah Nabawiyah yang ditulis Syaihk Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri, diceritakan bahwa Nabi Saw pernah begitu kecewa dan marah terhadap sikap para sahabat yang tidak menjalankan perintahnya untuk menyembelih hewan kurban. Saat itu beliau dan para sahabat baru saja selesai menandatangani kesepakatan Hudaybiyah.

Namun tak ada satupun sahabat yang mengikuti perintah Nabi Saw. Mereka masih terkejut dan kecewa dengan isi Perjanjian Hudaibiyyah yang menurut mereka merugikan Islam dan kaum muslimin. Melihat sikap itu Rasulullah masuk ke dalam tendanya dengan kecewa. Beliau menceritakan apa yang terjadi pada Ummul Mukminin Ummu Salamah ra.

Memahami kondisi itu, Ummu Salamah berkata pada Nabi, “Wahai Rasulullah, apakah engkau suka hal itu terjadi? Keluarlah dan engkau tidak perlu mengeluarkan sepatah kata pun kepada seseorang sehingga engkau menyembelih unta kurban dan meminta seorang pencukur untuk mencukur rambut engkau.”

Atas saran Ummu Salamah inilah Rasulullah keluar lagi. Tanpa berbicara dengan seorang pun beliau melaksanakan saran tersebut. Saat para sahabat melihat apa yang dilakukan Rasulullah, mereka pun bangkit lalu menyembelih hewan kurban dan sebagian mencukur rambut sebagian yang lain sehingga hampir saja mereka saling bertengkar karena rambut.

Ummu Salamah memahami kondisi sedang dihadapi Nabi dan para sahabat. Namun Ummu Salamah juga memahami kewajiban kaum muslimin untuk taat pada Allah dan RasulNya. Maka ia meminta Nabi untuk langsung melakukan mencukur rambut dan menyembelih kurban, karena bila kaum muslimin melihat Nabinya mengerjakan sesuatu mereka dipastikan tidak akan merasa tenang berdiam diri, dan akan bergegas mengikuti perbuatan Nabinya.

Dalam kondisi ini Ummu Salamah tidak membujuk Nabi untuk memahami kondisi jiwa para sahabat yang bersedih dengan kesepakatan Hudaibiyah, tapi justru mendukung Nabi tanpa juga menyalahkan para sahabat yang berdiam diri. Sikap yang sangat luar biasa dari Ummu Salamah.

Banyak perempuan yang kurang memahami arti mental support pada suami ketika ia sedang menyampaikan persoalan. Sebagian perempuan malah membuat opini yang ‘menentang’ suami. Misalnya ketika suami sedang bercerita kawannya yang menurutnya menjadi borju setelah promosi jabatan dengan membeli sedan mewah, barang branded yang mahal untuk anak-anaknya, ia justru tidak mendapat support. Istri malah berkomentar, “Ya, gak apa-apa mas, itu kan rejeki dia. Yang penting halal. Kita gak usah sirik sama rejeki orang lain. Lagian beli barang branded kan gak dilarang agama.”

Atau ketika di kendaraan suami mengomentari pengendara lain yang ngebut dan ugal-ugalan, istri berkomentar, “Husnuzan aja. Mungkin sedang buru-buru karena istrinya mau melahirkan. Jadi orang jangan negatif thinking terus pada orang lain. Ayah fokus aja bawa mobil biar kita selamat.”

Dua kemungkinan akan terjadi dari sikap istri seperti itu; muncul pertengkaran dan ujungnya suami akan enggan bercerita atau menyampaikan persoalan pada istri. Bisa jadi perempuan tidak sepakat dengan opini suami, namun butuh cara yang cerdas dan elegan untuk menjelaskannya, tanpa membuat suami merasa kehilangan dukungan dari pasangan. Kalau suami sudah merasa kehilangan dukungan, ia akan menarik diri dari komunikasi yang intim dengan pasangan. Padahal, bukankah rumah tangga itu mestinya saling mensupport dan saling memahami?

Hanya kepada Allah kita meminta petunjuk agar kehidupan ini berjalan sesuai syariatNya dan terjaga kehidupan pernikahan ini.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.