Downgrade Gaya Hidup, Upgrade Rasa Syukur

Foto oleh https://kaboompics.com/: https://www.pexels.com/id-id/foto/tangan-uang-kas-dompet-7680475/

 

Muncul fenomena downgrade gaya hidup di masyarakat. Sebagai respon kondisi ekonomi yang tak kunjung membaik. Bagaimana panduan Islam tentang hal ini?

 

Di media sosial ramai dibincangkan fenomena downgrade gaya hidup sejumlah keluarga. Perubahan gaya hidup ini dilakukan seiring kondisi ekonomi yang tidak kunjung membaik. Sebagian dari penduduk mengalami penurunan pendapatan, bahkan ada yang hilang sama sekali.

Perbincangan di media sosial itu dilakukan oleh kelas menengah penduduk Indonesia. Mereka, yang semula, stabil secara finansial mulai mengalami guncangan. Demi menjaga kondisi keuangan, sebagian dari kelas menengah ini melakukan downgrade gaya hidup. Ada yang mengganti mobil mereka dengan yang lebih terjangkau demi hemat bensin, perawatan dan pajak. Bahkan ada juga yang berganti ke motor demi menyelamatkan keuangan rumah tangga.

Mereka juga mengurangi agenda makan-makan di restoran, jalan-jalan ke luar kota atau ke luar negeri. Kelompok kelas menengah ini juga mengurangi belanja keperluan sekunder dan tersier. Fokus mereka adalah pemenuhan kebutuhan pokok dan biaya pendidikan anak.

Ekonomi yang tak kunjung membaik memang memukul semua kalangan, tak terkecuali kelas menengah. Catatan pemerintah menunjukkan jumlah penduduk kelas menengah di Indonesia turun hingga 10 juta penduduk. Pada tahun 2019, jumlah warga kelas menengah Indonesia mencapai 57,33 juta jiwa atau 21,45 persen populasi. Namun, angka tersebut merosot tajam menjadi 47,85 juta jiwa pada tahun 2024.

 

Panduan Islam

Bagi kita, umat Muslim, perubahan keadaan ekonomi, selain disebabkan rusaknya sistem perekonomian kapitalisme, secara keimanan adalah bagian dari ujian kehidupan. Firman Allah Ta’ala:

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (TQS. Al-Baqarah [2]: 155)

Saat hidup berkecukupan ataupun sedang kekurangan semua adalah bagian dari ujian kehidupan. Bersyukurlah bahwa Islam memberikan tuntunan dalam segala hal, termasuk saat Allah sedang menguji dengan krisis ekonomi.

Pertama, tetap wajib menjaga keyakinan bahwa rizki adalah karunia Allah Swt. sehingga tidak ada alasan bagi seorang muslim untuk takut tidak mendapatkan rizki. Lafadz rizki berasal dari bahasa Arab yang semakna dengan a’tho yang berarti pemberian. Pada faktanya rizki memang mutlak pemberian dari Allah Swt. Dia juga menjamin setiap mahluk hidup, termasuk manusia, akan dipenuhi rizkinya walau ada yang Allah tetapkan datangnya lambat. Sabda baginda Nabi Saw:

أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِى الطَّلَبِ فَإِنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَوْفِىَ رِزْقَهَا وَإِنْ أَبْطَأَ عَنْهَا فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِى الطَّلَبِ خُذُوا مَا حَلَّ وَدَعُوا مَا حَرُمَ

Wahai manusia bertakwalah kepada Allah dan pilihlah cara yang baik dalam mencari rezeki, karena tidaklah suatu jiwa akan mati hingga terpenuhi rezekinya, walau lambat rezeki tersebut sampai kepadanya, maka bertakwalah kepada Allah dan pilihlah cara yang baik dalam mencari rezeki, ambillah rezeki yang halal dan tinggalkanlah rezeki yang haram (HR. Ibnu Majah)

Kedua, downgrade gaya hidup, yakni pangkas biaya pengeluaran yang tidak perlu. Fokuslah pada kebutuhan pokok, simpan di belakang kebutuhan sekunder dan tersier. Tidak ada alasan gengsi menurunkan gaya hidup. Misalnya, pikirkan untuk mencari rumah kontrakan yang biaya sewanya lebih rendah namun tetap memenuhi kebutuhan keluarga. Atau seperti fenomena di media sosial, tidak sedikit orang mengganti kendaraan dengan yang lebih pas dengan kondisi keuangan.

Buang jauh-jauh soal gengsi apalagi takut harga diri jatuh. Allah Swt sudah ingatkan dalam surat At-Takatsur tentang orang-orang yang terjebak dalam perlombaan kemewahan. Banyak pasangan yang semakin terpuruk karena mempertahankan gaya hidup demi gengsi.

Ketiga, upgrade rasa syukur. Bicara tentang kepuasan hidup maka itu adalah kondisi mental yang diciptakan oleh diri kita, bukan disebabkan kondisi di luar diri manusia. Banyak orang kaya yang stress, tapi juga tidak sedikit orang yang dianggap tidak mampu justru bisa hidup bahagia. Salah satu cara menciptakan kondisi mental yang baik adalah dengan terus meningkatkan rasa syukur atas segala nikmat.

Syukur itu bukan sekedar mengucapkan kalimat hamdalah. Imam Az-Zajjājiy menjelaskan arti syukur sebagai membalas kebaikan dengan pujian, menerima nikmat dengan lapang dada, dan mengakuinya secara tulus. Jadi, ada pengakuan tulus, pujian dan sikap lapang dada menerima segala kenikmatan.

Mulailah dengan melihat dan mensyukuri nikmat yang kecil-kecil. Bahwa Anda masih bersama keluarga tercinta. Pasangan masih mensupport kehidupan keluarga. Anak-anak pun bisa diajari hidup sederhana. Anda dan keluarga masih bisa beribadah dengan tenang, dsb.

Salah satu cara tetap ada di zona syukur adalah mengurangi perhatian ke media sosial. Sebab, seringkali medsos jadi ajang flexing banyak orang. Hal ini bisa mengikis rasa syukur kita kepada Allah.

Keempat, tetaplah bersedekah. Meskipun melakukan mode pengetatan anggaran namun jangan mengurangi amal sedekah. Sebab, Allah mengingatkan bahwa di dalam harta kita ada hak orang lain. Maka berbagilah terutama pada kerabat dan tetangga terdekat. Rasulullah Saw juga berjanji bahwa sedekah tidak akan mengurangi harta.

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ

Tidaklah sedekah itu mengurangi harta (HR. Muslim)[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.