Istri Dan Masalah Financial Superiority

 

Ada sebagian istri yang merasa superior di depan suami karena punya kelayakan finansial yang lebih baik. Muncul ketidakpuasan bahkan tidak suka pada suami yang dianggap kalah secara finansial. Apa penyebabnya?

 

Salah satu godaan pada iman para istri adalah saat penghasilan pribadinya meninggi. Godaan untuk merasa superior di depan suami. Ini yang kerap disebut sebagai financial superiority. Arogan karena secara finansial merasa lebih tinggi ketimbang suami. Istri merasa bisa belanja dan memenuhi kebutuhan diri bahkan keluarga dibandingkan suami.

Dalam beberapa kasus, financial superiority ini tetap muncul meskipun sebenarnya pendapatan suami cukup untuk keluarga. Lagi-lagi karena istri melihat secara finansial dirinya lebih baik dibandingkan lelaki yang jadi kepala keluarga. Celakanya sikap merasa superior ini bukan hanya meremehkan pekerjaan atau penghasilan suami, tapi bisa merembet ke pribadi suami. Ujungnya, koneksi suami-istri menjadi retak.

Padahal tanpa istri gembar-gembor punya posisi finansial dan kontribusi yang besar pada keluarga, suami sudah tertekan. The Economist pernah menurunkan riset bahwa suami alami tekanan 2,5 kali lebih besar saat tahu istrinya berkontribusi besar untuk keluarga.

 

Waspadai Penyebabnya

Ada beberap sebab mengapa muncul arogansi finansial pada seorang istri; pertama, karena istri berasal dari keluarga mapan dibandingkan suami dengan berbagai privilege keluarga yang terlahir makan dari ’sendok perak’. Keadaan ini bisa membuat istri merasa superior terhadap suami.

Kedua, istri tumbuh sebagai independent woman. Karena terbiasa mandiri, termasuk punya penghasilan sendiri, kadangkala istri mengukur dirinya pada sisi suami. Saat melihat suami tidak ’setangguh’ dirinya dalam mencari nafkah, munculah karakter superior dan meremehkan pasangan.

Ketiga, status pendidikan dan karier yang lebih sukses dari suami. Posisi ini juga berpotensi membuat istri merasa arogan dan mengecilkan peran suami. Apalagi di tempat kerja istri otoritas mengatur bawahan yang rata-rata lelaki, bisa memunculkan sikap suka mengatur dan memandang rendah suami.

Keempat, merasa kontribusi pada keluarga lebih besar. Dengan finansial yang lebih mapan, lalu bisa membantu bahkan menopang kondisi keluarga, bisa membuat besar kepala siapa saja, termasuk istri. Pelan-pelan mulai memandang remeh pasangan bahkan merasa jijik.

Kelima, pujian dan validasi dari lingkungan. Nabi Saw berpesan pujian bisa membinasakan seorang muslim. Maksudnya, akibat pujian – apalagi berlebihan – bisa muncul sikap arogan pada orang lain. Ini bukan saja bisa terjadi pada istri, seorang suami juga bisa bisa jadi arogan bila terbuai pujian.

 

Perbaiki Diri

Kalau memang berniat merawat pernikahan bahkan naik level, menjadi pasangan yang lebih baik, maka mawas diri adalah kemestian. Pernikahan itu bukan untuk sekedar dimaklumi dan dihormati pasangan, tapi juga saling memahami dan saling menghormati. Para pakar pernikahan Barat mengatakan bahwa pernikahan itu adalah “create a masterpiece painted with love, trust, and understanding.”

Islam menempatkan suami dan istri sebagai pasangan yang mesti tolong menolong dalam kebaikan dan takwa. Relasi suami-istri tidak ditentukan oleh besaran nafkah, tapi oleh ditunaikannya hak dan kewajiban dalam hubungan yang bersahabat. Keduanya menjalankan mutual respect karena dorongan iman dan kasih sayang. Sama sekali bukan karena finansial.

Pernikahan yang menjadikan finansial sebagai ukuran kebahagiaan justru mengacaukan tujuan pernikahan. Belakangan muncul opini hal yang wajar kalau para istri hanya akan respek pada suami yang dapat memenuhi semua kebutuhan finansial. Alasannya pernikahan adalah untuk berbahagia bukan menderita, termasuk secara ekonomi.

Bagaimana kalau nanti suami yang sudah memberikan kelayakan finansial pada keluarga lalu merasa berhak perlakukan istri layaknya bawahan atau suruhan. Atau merasa istri sudah tidak menarik lagi? Tidak ada kan istri yang mau diperlakukan demikian.

Sudah cukup banyak bukti pasangan yang berantakan justru saat berada dalam kondisi finansial di atas rata-rata. Sebaliknya, banyak juga pasangan yang bisa bertahan dalam kesederhanaan bahkan saat ujian finansial datang. Saling support, saling mendoakan.

Maka, pondasi pernikahan adalah iman dan kasih sayang, dengan syariat Islam sebagai aturan penjaganya. Bagaimana Fatimah putri Rasulullah Saw tetap menghormati Ali bin Abi Thalib, suaminya, meski kadang berada dalam kekurangan. Mereka berdua paham bahwa tujuan pernikahan adalah mendatangkan ridho Allah dan mencari kebersamaan di jannahNya. Sebagaimana mereka juga paham bahwa beratnya kehidupan ekonomi juga salah satu ujian dalam pernikahan.

Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah (wahai Nabi Muhammad,) kabar gembira kepada orang-orang sabar, (TQS. Al-Baqarah [2]: 155)

Untuk para istri, bukankah rugi bila sibuk menyalahkan suami, menghapus respek padanya, dan merasa superior, padahal suami sudah bekerja keras. Hak dan kewajiban keluarga pun ia tunaikan. Lalu apa yang dicari dalam pernikahan? Validasi kebebasan finansial? Padahal Allah Swt sudah mengingatkan seindah dan semegah apapun kehidupan dunia pasti bakal berlalu. Seperti tanaman yang semula hijau, menghasilkan buah/bulir, lalu menguning dan akhirnya hancur.

Apakah dalam hidup ini ada yang lebih menarik selain ridho dan surganya Allah Swt? Waktunya revisi lagi pernikahan dan hidup kita andaikan merasa superior di atas suami karena kondisi finansial.[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.