Didik Anak Perempuan Kita Jadi Pemberani

Gadis bernama Muskan Khan jadi trending topik di media sosial sepekan belakangan. Di depan gangster Hindu yang mempersekusinya gadis asal negara bagian Karnataka, India, tampil heroik membela identitasnya sebagai muslimah. Muskan Khan bukan saja mempertahankan jilbabnya tapi juga melawan seruan “Jai Shri Ram” – seruan pada dewa Hindu – yang diteriakkan para penjahat itu dengan kalimat takbir.

Muskan Khan tidak sendirian, ratusan, mungkin ribuan muslimah terutama pelajar dan mahasiswi berjuang mempertahankan jilbab mereka setelah Kementerian Pendidikan India mengeluarkan larangan busana muslimah ke dalam lingkungan pendidikan. Di media sosial bertebaran video-video aksi para muslimah, termasuk serangan-serangan yang dilakukan gangster Hindu pada muslimah di jalan-jalan. Ada yang ramai-ramai membanjurkan air comberan pada remaja-remaja muslimah, ada juga yang memukul dan mencoba menarik kerudung mereka. Subhanallah.

Beginilah, ketika umat Muslim jadi minoritas dan tidak lagi punya Khilafah yang melindungi mereka, khususnya melindungi para muslimah, kekuatan itu akhirnya terletak pada pribadi-pribadi umat itu sendiri. Sebagai sosok muslim dan muslimah, kadang Allah menguji keteguhan iman mereka pada diennya. Bukan saja di India seperti yang dialami Muskan Khan dan kawan-kawannya, tapi hampir di berbagai penjuru dunia.

Bahkan di negeri muslim seperti Indonesia saja kita membaca sejumlah insititusi juga kampus Islam negeri melarang kaum muslimah mengenakan cadar. Mulai dari alasan administrasi soal seragam, sampai isu menangkal paham radikalisme. Ironinya, para pejabat yang mengaku muslim itu tidak pernah mempedulikan budaya pakaian nyaris telanjang di masyarakat.

Muskan Khan dan para muslimah India memberi pelajaran untuk kita, orangtua muslim, untuk mengajarkan anak-anak perempuan hal yang tak kalah penting dalam berislam; ghirah dan keberanian. Bukan tidak mungkin suatu ketika anak-anak perempuan kita menghadapi kondisi mereka harus mempertahankan keislaman atau tunduk pada tekanan. Ujian itu adalah sunnatullah. Ujian bagi mukmin adalah tanda kecintaan Allah pada hambaNya.

إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الْخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوبَةَ فِى الدُّنْيَا وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَفَّى بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Jika Allah menginginkan kebaikan pada hamba, Dia akan segerakan hukumannya di dunia. Jika Allah menghendaki kejelekan padanya, Dia akan mengakhirkan balasan atas dosa yang ia perbuat hingga akan ditunaikan pada hari kiamat kelak.” (HR. Tirmidzi).

Simaklah ketika beberapa mahasiswi Muslim dikeluarkan dari satu kampus negeri di India, karena mengenakan jilbab di dalam ruang kelas. Para mahasiswi itu dengan tegas mengatakan, “Jilbab adalah kebanggaan saya.”

Dalam sejarah Islam, kita mengenal tokoh-tokoh wanita muslimah yang menjadi pejuang agama, bahkan hingga turut mengorbankan jiwa dan raga. Sebutlah Sumayyah binti Khayyat ra, ibunda dari Ammar bin Yasir ra. yang teguh mempertahankan kalimatullah, menolak tekanan Abu Jahal yang memaksanya murtad. Sumayyah bersama suaminya gugur sebagai syuhada pertama di jalan dakwah. Ketika itu Nabi SAW. dan para sahabat tidak mampu memberikan pertolongan, selain menyampaikan kabar dari Rabb Pemilik Surga;

صبرًا يا آل ياسر فإن موعدكم الجنة

“Bersabarlah wahai keluarga Yasir, sesungguhnya yang dijanjikan (Allah) pada kalian adalah jannah!”

Ada pula Nusaibah binti Ka’ab ra atau Ummu Umarah yang turun ke medan Perang Yamamah memerangi Musailamah al-Kadzdzab. Ummu Umara ra mengalami luka berat dalam peperangan tersebut bahkan kehilangan sebelah tangannya. Namun pengorbanannya tak sia-sia karena Musailamah akhirnya tewas dan para pengikutnya bisa dibubarkan. Dalam perang itu putra Nusaibah yang bernama Hubaib bin Zaid syahid mendahului ibundanya.

Karenanya, wajib mendidik anak-anak perempuan kita memiliki ghirah mempertahankan dan memperjuangkan agama. Tak cukup anak-anak perempuan kita sekedar bisa beribadah, berbakti pada orangtua dan suami, tapi urgen mengajarkan mereka bela agama.

Ada beberapa langkah yang harus dilakukan orangtua saat menanamkan karakter pembela dien pada anak-anak perempuan.

Pertama, adalah kekuatan orangtua itu sendiri. Perlu disimak bagaimana sikap sebagian orangtua para muslimah yang juga berjuang membela anak-anak perempuan mereka. Mohammed Haneef, salah satu orang tua mahasiswi, bertekad akan menarik putrinya dari kampus jika perguruan tinggi tidak mengizinkan pelajarnya berhijab. Haneef tidak sendiri. Beberapa orang tua datang ke kampus untuk membawa pulang putri mereka setelah para mahasiswi berjilbab ditolak masuk ke dalam kelas. Anak-anak kita akan menjadi pribadi yang tangguh bila orangtua pun memiliki pribadi yang kuat dan selalu membela keislaman anak-anak mereka.

Kedua, pahamkan anak tujuan hidup seorang muslim. Ajarkan anak-anak perempuan kita bahwa tujuan hidup di dunia adalah meraih ridho Allah seluas-luasnya, dengan taat dan istiqomah pada aturanNya. Sampaikan bila kenikmatan dunia ini sedikit dan sementara, sedangkan kebahagiaan di jannah adalah lebih baik dan kekal. Harta, jabatan, pendidikan, bahkan keluarga dan anak-anak haruslah dibangun di atas ridho Allah. Dengan begitu anak-anak perempuan kita tidak akan mau seujung rambut pun mengorbankan agama untuk dunia yang kecil ini.

Ketiga, ajarkankan kesabaran baik di saat musibah, saat dalam ketaatan maupun saat menghadapi kemungkaran. Sabar dalam ketaatan adalah tetap menjaga agama Allah meski dalam bayang-bayang tekanan dan kebencian orang lain. Adapun sabar menghadapi kemungkaran adalah menghadapinya dan berusaha menghadapinya serta tidak berkompromi dengannya.

Keempat, kerja keras dan kesungguhan akan membentuk karakter pejuang pada anak-anak perempuan. Anak perempuan memang bukan anak lelaki, tapi bukan berarti mereka lemah dan tak punya daya juang. Mental yang lemah bisa pada lelaki atau perempuan, bergantung pada tempaan keluarga dan lingkungan. Orangtua yang selalu memanjakan anak dan proteksi berlebihan menjadikan anak-anak lemah, tak siap menghadapi benturan persoalan.

Kelima, tanamkan keyakinan bahwa Allah senantiasa menolong hamba-hambaNya. Allah tidak pernah menyia-nyiakan amal dan pengorbanan orang yang taat di jalanNya. Ceritakan bagaimana Allah menyelamatkan Musa as saat bayi, kisah ketika Allah menyelamatkan Nabi Saw di Gua Tsur dari kejaran kaum kafir Quraisy, pertolongan pada kaum muslimin di Perang Mu’tah dengan diangkatnya Khalid bin Walid ra. sebagai panglima perang.

وَكَانَ حَقًّا عَلَيۡنَا نَصۡرُ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ

“Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman.”(TQS. ar-Rum: 47)

Terakhir, biasakan anak untuk selalu taqarrub dengan Allah melalui ibadah dan doa. Ajarkan pada mereka bahwa setiap makar atau perbuatan jahat pada agama Allah dan umat ini justru akan Allah balikkan pada para pembuatnya.

وَلَا يَحِيقُ ٱلۡمَكۡرُ ٱلسَّيِّئُ إِلَّا بِأَهۡلِهِۦۚ

“Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri.” (TQS. Fathir: 43)

Semoga Allah melindungi umat ini dan menyegerakan tegaknya Khilafah Islamiyyah yang melindungi umat sebagaimana dulu Allah memberikan pertolongan pada umat ini.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.