Bukan Untuk Digandrungi

xsolatPagi itu Allah SWT. memberikan saya kenikmatan bermuwajahah dengan kyai sepuh Ajengan Hasanuddin di mesjid Baytur Rahman, kawasan Tanah Baru, Bogor. Usianya yang sudah mencapai tujuh puluh tahunan tidak memakan kharisma pada wajahnya yang teduh. Dari seorang kenalan saya mendapat cerita beliau baru saja terkena stroke. Bagian kanan tubuhnya termasuk tangannya lumpuh. Allahuma yarham.

Ketika saya bertanya ihwal penyakitnya dengan suara perlahan ia menceritakan kejadian itu. “Ka Gusti Allah wungkul abdi ngajerit, nyuhunkeun pertolongan – hanya kepada Allah saja saya merintih meminta pertolongan,” katanya. Alhamdulillah sekarang bagian yang terkena stroke-nya telah mulai pulih. Beliau pun lalu bercerita soal salah seorang keluarganya yang merupakan murid dari Mama Abdullah bin Nuh rahimahullah, ulama karismatis pejuang syariah di Bogor.

Tapi tak berapa lama kemudian ajengan ini berkata dengan pelan kepada saya, “Hapunten, nu tadi mah mugi-mugi teu ngajantenkeun sum’ah  — maaf , mudah-mudahan cerita tadi tidak jadi sum’ah.” Perkataan terakhir itu yang menyentak kalbu saya. Kembali saya diingatkan bahwa beramal itu harus karena Allah Ta’ala, bukan untuk meminta pamrih dan perhatian dari manusia. Sebagaimana pesan Nabi saw.:

مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللهُ بِهِ . وَمَنْ يُرَائِيْ يُرَائِي اللهُ بِهِ

“Barangsiapa memperdengarkan (menyiarkan) amalnya, maka Allah akan menyiarkan aibnya, & barangsiapa beramal karena riya’, maka Allah akan membuka niatnya (di hadapan orang banyak pada hari Kiamat)”. [HR Bukhari no. 6499 & Muslim no. 2987 dari sahabat Jundub bin Abdillah].

Berapa banyak di antara kita yang mengaku pejuang Islam terlena dengan pujian dan sanjungan. Jiwa ini meski bibir berkata karena Allah SWT. tapi dalam hati menginginkan ridlo manusia. Kita ingin dikenal banyak orang. Kita orang berbondong-bondong mendatangi ceramah kita, training kita, lalu diri ini menjadi buah bibir banyak orang. Di jejaring sosial kita berharap memiliki banyak follower lalu status kita dikutip ribuan atau jutaan kali oleh orang lain. Kita merasa gagal bila tak menjadi buah bibir orang lain.

Selalu ada argumen untuk membenarkan hawa nafsu kita; ‘bukankah bila kita terkenal maka mudah bagi kita untuk mempengaruhi orang banyak?’.

Subhanallah! Betapa syaitan demikian cerdik memperdaya diri. Sampai-sampai diri ini seringkali bertanya; bagaimana caranya menjadi juru dakwah yang populer, dapat beretorika dengan memikat, digandrungi banyak orang, dan banyak repeat order ceramah atau mengisi training? Sungguh racun syaitan begitu halus masuk ke dalam jaringan pembuluh darah manusia.

Saudaraku, tak ada bedanya kita berdakwah di hadapan lima orang dengan seratus ribu orang. Belum tentu mereka yang memiliki banyak pendengar dan pengikut amalnya lebih baik dibandingkan yang pengikutnya sedikit. Belum tentu seorang kyai di kampung yang mengisi taklim di surau-surau dengan segelintir jamaah lebih rendah amal dakwahnya dibandingkan seorang trainer yang digandrungi ratusan ribu orang dan bertempat di hotel mewah.

Ucapan sederhana ajengan tadi begitu menohok saya. Beliau sampai perlu merasa meralat perkataannya dan berharap kisahnya tidak menjadi sum’ah. Padahal hanya berbagi kisah pengobatan dan kisah keluarganya. Begitu hati-hatinya beliau dalam bertutur. Masya Allah!

Di sini saya mengajak para pembaca rahimakumullah, antum yang telah dimuliakan Allah sebagai pejuang Islam, marilah kita luruskan niat perjuangan ini benar-benar hanya mengharap ridlo Allah SWT. Hilangkan harapan kepada selain Allah. Sungguh rugi amal ini bila ditujukan untuk selain Allah pula. Menduakan niat dalam amal ibadah dan perjuangan hanya berujung penderitaan di Hari Pembalasan seperti yang telah diingatkan Penghulu Manusia akhir zaman, Muhammad saw.:

Dari Abi Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya manusia pertama nan diadili pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid di jalan Allah. Dia didatangkan & diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatan (yang diberikan di dunia), lalu ia pun mengenalinya. Allah bertanya kepadanya: ‘Amal apakah nan engkau lakukan dgn nikmat-nikmat itu?’ Ia menjawab: ‘Aku berperang semata-mata karena Engkau sehingga aku mati syahid. ‘ Allah berfirman: ‘Engkau dusta Engkau berperang supaya dikatakan seorang nan gagah berani. Memang demikianlah nan telah dikatakan (tentang dirimu). ‘ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret orang itu atas mukanya (tertelungkup), lalu dilemparkan ke dlm neraka. Berikutnya orang (yang diadili) adalah seorang nan menuntut ilmu & mengajarkannya serta membaca al Qur`an. Ia didatangkan & diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengakuinya. Kemudian Allah menanyakannya: ‘Amal apakah nan telah engkau lakukan dgn kenikmatan-kenikmatan itu?’ Ia menjawab: ‘Aku menuntut ilmu & mengajarkannya, serta aku membaca al Qur`an hanyalah karena engkau. ‘ Allah berkata: ‘Engkau dusta Engkau menuntut ilmu agar dikatakan seorang ‘alim (yang berilmu) & engkau membaca al Qur`an supaya dikatakan (sebagai) seorang qari’ (pembaca al Qur`an nan baik). Memang begitulah nan dikatakan (tentang dirimu). ‘ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret atas mukanya & melemparkannya ke dlm neraka.

Sungguh kita perlu meneladani Umar bin Khaththab ra. yang selalu memohon kepada Allah SWT. agar amalnya menjadi amal yang bersih, maqbul, semata mengharap keridloanNya:

اَللَّهُمَ اجْعَلْ عَمَلىِ صَالِحًا وَاجْعَلْهُ لَكَ خَالِصًا وَلاَ تَجْعَلْ لِأَحَدٍ فِيهِ شَيْئًا

“Ya Allah, jadikanlah seluruh amalanku amal yang saleh, jadikanlah seluruh amalanku ikhlas karena mengharap wajahMu, dan jangan jadikan sedikitpun dari amalanku tersebut karena yang lain.”

Incoming search terms:

  • ajengan nahrawi
  • mama ajengan tanah baru
  • mama ajengan nahrowi
  • silsilah mama ajengan nahrowi
  • mama tanah baru
  • ajengan nachrowi tanah baru
  • silsilah ajengan nahrowi
  • mama aje
  • silsilah mama nahrowi
  • mama nahrowi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *