Bukan Anak Singkong Bukan Anak Beras

Singkong-Direbus-Apa-DikukusTahun lalu saya membaca wawancara sebuah situs berita nasional dengan Menperindag Gita Wirjawan. Di antara isi wawancaranya beliau mengkritisi kebiasaan sebagian besar orang Indonesia yang masih ketergantungan terhadap makanan pokok nasi. Padahal di banyak negara rakyat mereka sudah bisa melakukan food combine dalam soal makanan pokok.

Tidak lupa Menteri yang piawai main piano ini menyatakan bahwa singkong bisa menjadi alternatif bahkan pengganti nasi. Di antara kelebihan budidaya singkong, adalah bisa tumbuh dengan mudah dan cepat ketimbang padi. “Di pinggir Jalan Jenderal Sudirman juga bisa tumbuh. Tak usah mencari ketinggian tertentu,” jelas Pak Menteri. “Ini tinggal persoalan mau atau tidak,” tegasnya.

Memang, ada kecemasan yang kini melingkupi bangsa ini, khususnya pemerintah, akan ketergantungan rakyat terhadap beras. Setiap tahun rakyat Indonesia mengkonsumsi beras 130 kg perkapita pertahun. Kini kita harus impor beras sebesar 7 triliun rupiah. Bayangkan kalau dana APBN itu dialihkan untuk keperluan lain.

Ketergantungan pada impor beras juga mengakibatkan kita sulit mengendalikan harga beras. Saat pertanian Thailand tersapu banjir, krisis beras mulai terasa di dalam negeri. Belum lagi krisis kalau mata uang rupiah terpuruk seperti sekarang harga beras impor juga ikutan naik. Hampir setiap saya atau istri membeli beras harganya tidak pernah turun. Selalu naik. Wadeuh, cape deh.

Tapi karena saya dan keluarga masih terbiasa makan nasi, maka saya memaksakan diri membeli beras. Demikian pula tetangga-tetangga saya. Meski ada yang hanya sanggup membeli 1-2 liter untuk satu atau dua hari. Mereka sudah tidak sanggup membeli beras karungan.

Ucapan Pak Gita ada benarnya. Rakyat memang harus sudah terbiasa mengkonsumsi sumber karbohidrat lain sebagai pengganti nasi. Bisa singkong, ubi, kentang, sagu, jagung, dsb. Karena kita tidak pernah tahu kondisi alam atau politik ekonomi di masa mendatang. Di masa penjajahan Jepang, kakek-nenek saya sering bercerita mereka kerap makan nasi jagung atau bulgur — yang notabene pakan kuda — sebagai pengganti beras yang mahal dan langka kala itu.

Akan tetapi bila kita telusuri persoalan makanan pokok ini bukanlah terletak pada budaya makanan pokok, tapi lebih pada persoalan alih fungsi lahan. Bukankah berkurangnya pasokan beras tanah air disebabkan beralihfungsinya lahan pertanian menjadi yang lain? Menjadi perumahan misalnya, atau kawasan industri atau menjadi tanah yang tak produktif karena sudah dikuasai orang lain lalu ditelantarkan begitu saja?

Menurut catatan Dinas Pertanian pada tahun 2009 ada sekitar 100 ribu hektar lahan pertanian yang telah beralih fungsi setiap tahunnya. Ini pastinya berimbas pada produksi beras kita.

Jadi persoalannya bukan beras atau singkong sebagai makanan pokok, tapi persoalan lahan pertanian. Karena nasib yang sama juga bakal dialami petani singkong manakala lahan-lahan mereka telah dialihfungsikan atau dikuasai para tuan tanah. Meski dibuat kebijakan orang Indonesia wajib makan singkong tapi bila lahannya tidak ada, maka ujung-ujungnya kita juga akan mengimpor singkong.

Anjuran untuk mengkonsumsi singkong yang sudah digadang-gadang beberapa waktu belakangan ini sebenarnya tanda pemerintah mengalah pada kepentingan tuan tanah dan pemilik modal. Pemerintah lebih merelakan sawah-sawah dilego untuk dijadikan kawasan perumahan, perindustrian, lokasi pariwisata, perkebunan lain, atau malah lapangan golf.

Kenapa? Jawabannya jelas. Pertanian hanya memberikan devisa negara yang sedikit dibandingkan hal-hal yang saya sebutkan di atas. Coba hitung berapa pajak yang didapat pemerintah dari bisnis properti, perindustrian, pariwisata atau lapangan golf.

Lalu bisakah pemerintah menghentikan kebijakan salah arah ini? Bisa. Seperti kata Gita Wirjawan, “Persoalannya adalah mau atau tidak mau.” Lha, Pak Gita sendiri mau tidak membuat negeri ini swasembada beras? Kok malah buka keran impor? Kok nyuruh kita makan singkong? (bersambung)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.