Bogor, Jembatan Cinta, AIDS

1Anak-anak gaul Kota Bogor mana yang tak kenal ‘jembatan cinta’? Sedikit mungkin di antara anak muda Bogor yang belum tahu. Atau Anda yang orang Bogor mungkin baru dengar namanya? Ini sebutan untuk jembatan fly over yang membentang di antara ruas jalan tol Bogor. Saya tak akan detilkan dimana letaknya. Tapi mereka yang sering beredar di Kota Bogor tak mungkin tak tahu.

Disebut jembatan cinta karena jembatan itu jadi ajang kencan remaja-remaja Bogor, khususnya remaja yang dompetnya tipis. Anda bisa lihat mereka mulai berkumpul mulai jelang Magrib hingga larut malam. Ada yang bergerombol dengan remaja-remaja sebaya, tapi kebanyakan duduk berdua-duaan dengan pacar mereka. Ada yang duduk di trotoar, ada juga yang di atas motor.

Sebenarnya bukan saja di atas jembatan itu anak-anak muda itu berkencan, tapi juga hingga ke jalur dekat sebuah komplek elit yang lokasinya tidak jauh dari jembatan tersebut. Di sana malah tempatnya lebih gelap karena tak ada lampu penerangan jalan, tapi ada saja beberapa pasang anak muda pacaran di atas motor.

Terus terang saya yang berulangkali melewati kawasan tersebut di malam hari sering merasa risih dan sebal. Tanpa malu anak-anak muda itu memperagakan kemesraan di atas motor. Bahkan beberapa remaja putri yang berkerudung juga nampak di sana.

Bukan hanya saya yang kesal, tapi warga sekitar juga merasakan hal yang sama. Selain kerap terganggu suara bising ajang balap liar di atas jembatan, warga juga menangkap aroma kemesuman di atas jembatan itu. Seorang warga sekitar bercerita saat dilakukan kerja bakti membersihkan jembatan acapkali mereka menemukan (maaf) celana dalam juga alat kontrasepsi. Kecurigaan lain jembatan itu bukan cuma dijadikan tempat kencan anak muda, tapi juga ajang transaksi prostitusi PSK muda, dan narkoba.

Jembatan cinta lekat dengan pergaulan bebas dan seks bebas. Coba saja sesekali lewati jembatan itu sore apalagi malam hari, tanpa malu anak-anak muda itu bermesraan di trotoar atau di atas motor.5

Bukan maksud hati menjelek-jelekkan kota tempat saya tinggal, tapi pergaulan bebas memang sudah harus dihentikan. Nama kota Bogor sudah cukup sohor di kalangan lelaki hidung belang. Selain kawasan Puncak, kawasan Kota Bogor pun sudah dikenal mudah untuk mencari PSK, terutama usia belia. Seorang kenalan yang kebetulan tokoh satu ormas kepemudaan di Kota Bogor bahkan bercerita kalau ia punya list nomor hp pelajar SMA sekota Bogor yang bisa dibooking. “Malah suka ada remaja yang minta kepada saya dicarikan om-om. Mereka ingin punya uang,” katanya lirih sekaligus kesal.

Kencan-kencan di tempat terbuka bukan saja terjadi di jembatan cinta, tapi juga bisa dilihat di beberapa tempat lain di Kota Bogor. Mulai Kebun Raya Bogor, mall-mall, hingga ke taman-taman komplek-komplek perumahan.

Ada pemandangan sosial yang beda di Kota Bogor dibandingkan 10 tahun silam. Di mana tak banyak anak muda berani menampakkan gaya pacaran yang vulgar di muka umum, tapi sekarang jadi pemandangan biasa. Sama sekali tak ada risih dan malu berpacaran dengan vulgar di muka umum.

Gaya pergaulan seperti ini berdampak pada meningkatnya hubungan seks pranikah (baca: perzinahan) dan angka penyakit kelamin. Sebuah harian lokal misalnya pernah menurunkan hasil survey muda-mudi Kota Bogor yang menunjukkan dari 25 siswi yang disurvey hanya 2 orang saja yang mengaku masih gadis. Tentu saja metode dan hasil survey-nya masih bisa diperdebatkan. Namun tetap miris rasanya mendapatkan realita ada 23 siswi yang sudah tidak perawan.

Saya teringat cerita seorang kawan yang mendapat penuturan dari seorang bidan di satu puskesmas Kota Bogor. Suatu hari ada seorang ibu yang membawa anak perempuannya yang masih SMA ke puskesmas tersebut. Sang ibu minta kepada bidan itu untuk memvisum anak perempuannya; apakah masih gadis atau tidak. Pasalnya sang anak dua hari tidak pulang ke rumah, pergi bersama pacarnya.

Usai divisum diketahui bahwa si anak sudah tidak perawan lagi. Sang ibu terpukul dan sedih lalu curhat kepada bidan tersebut. Tapi dengan santainya anak perempuan itu berkomentar pada ibunya, “Biasa aja kali, Mah!” sambil memainkan gadgetnya. Miris.

Perawan tidak perawan, kini hampir tak jadi persoalan. Sudah pernah berzina atau belum, juga bukan urusan. Yang penting nanti kalau menikah setia.

Oke, kalau keperawanan dan perzinaan dianggap bukan persoalan, lalu bagaimana dengan penyakit kelamin? Siap jadi pengidap HIV/AIDS?

Ini yang mengerikan, kota Bogor sekarang menduduki peringkat pertama jumlah pengidap HIV/AIDS tertinggi se-Jawa Barat. Dinas Kesehatan Kota Bogor, Jawa Barat mencatat sebanyak 1.143 warga positif mengidap AIDS dan 2.142 orang lainnya positif HIV selama periode 2005 hingga November 2014. Jumlah ini tidak menurun, tapi justru terus bertambah. Jangan lupa, saudara-saudara, angka pengidap HIV/AIDS itu dipercayai banyak kalangan hanyalah ‘puncak gunung es’. Jumlah sebenarnya bisa berlipat-lipat lagi. Kini Bogor menempati peringkat ketiga pengidap HIV/AIDS terbanyak se-Jawa Barat. Ngeri? Harus!

Apa yang harus dilakukan? Tentu banyak. Mengapa kita tidak mulai dengan mengedukasi kalangan muda dan orang tua akan bahaya yang nampak di depan mata? Banyak muslim di kota Bogor — terutama di kawasan urban – yang seperti tak melek akan bahaya ini. Mereka biarkan saja anak jejaka dan gadisnya berpacaran, bahkan hingga larut malam.3

Maka dalam khutbah Jumat kemarin, 5/12, di kampung saya tinggal, saya sampaikan ancaman penyakit ganas ini kepada jamaah yang rata-rata masyarakat menengah ke bawah. Saya sampaikan bahwa bahaya ini bukan main-main. Mengancam Kota Bogor, negeri bahkan dunia.

Terakhir saya sampaikan bahwa ada bencana yang datang akibat ulah manusia sendiri, bukan semata takdir Allah. Saya kutipkan firmanNya:

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). (QS. as-Syura [42]: 30).

Kesalahan kita adalah membiarkan pergaulan bebas di tengah anak-anak kita. Seolah hal itu adalah hal yang biasa dan jamak. Maka kewajiban orang tua untuk menjaga dan melindungi anak-anaknya dari kerusakan moral seperti ini.

Selain itu, tak ada solusi lain yang lebih dan tepat dan menyeluruh melainkan mengubah tata nilai sosial kita kembali ke syariat Islam. Menjadikan Islam sebagai satu-satunya aturan dan perundang-undangan kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Kapan itu akan terwujud? Saya berharap itu tak lama lagi. Tapi tugas saya dan Anda adalah berjuang dan berdakwah sekuat tenaga. Hasil selanjutnya biarlah Allah yang menentukan.

Incoming search terms:

  • kota bogor malam hari
  • anak sma yang bisa dibooking bogor
  • no hp/wa jablay bogor 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *