Abaikan Literasi Suatu Bangsa Harus Siap Mati

 

Pemerintah pangkas anggaran Perpustakaan Nasional. Pengadaan buku untuk rakyat pun terancam. Tambahan derita untuk budaya literasi bangsa yang sudah terpuruk. Benarkah budaya literasi erat kaitannya dengan ideologi suatu bangsa? Mengapa di masa Islam budaya literasi begitu tinggi?

 

Apakah Indonesia negara peduli pada pendidikan? Rasanya makin diragukan. Dari laporan UNESCO ternyata Indonesia termasuk negara dengan anggaran pendidikan terendah di dunia. Hanya di kisaran 1,3 persen dari PDB. Angka tersebut berada di bawah Pakistan dan Bangladesh yang masing-masing mengalokasikan 2 persen, sementara Singapura dan Thailand tercatat sebesar 2,2 persen dan 2,5 persen dari PDB. Data dari UNESCO Institute for Statistics 2026 mengukur total pengeluaran pemerintah untuk seluruh jenjang pendidikan, termasuk belanja operasional, belanja modal, dan transfer, sebagai presentase dari ukuran ekonomi suatu negara.

Jangan lupa, anggaran pendidikan Indonesia juga digerogoti program Makan Bergizi Gratis (MBG). Uang sebesar Rp757,8 triliun alias 44,2 persen atau Rp335 triliun dialokasikan untuk MBG. Padahal kemanfaatan MBG tidak dinikmati sepenuhnya oleh para insan pendidikan; para guru dan tidak semua murid. Belakangan makin terkuak proyek MBG ini dinikmati para pengusaha termasuk elit parpol dan jejaringnya juga keluarganya.

Harapan untuk melihat Indonesia sebagai negara yang gemilang dengan pendidikan semakin gelap setelah pemerintah memangkas anggaran Perpustakaan Nasional (Perpusnas). Pada tahun ini Perpusnas hanya diberi jatah anggaran Rp 377,9 miliar. Nyaris setengah dari anggaran tahun sebelumnya yakni Rp 721 miliar. Padahal di tahun 2025 anggaran itu juga sudah mengalami efisiensi

Menurut pihak Perpusnas pemotongan anggaran ini berdampak pada layanan bantuan buku dari Perpusnas. Padahal rencanana Perpusnas sempat berinisiatif membagikan buku ke desa hingga lembaga pemasyarakatan (lapas) pada tahun sebelumnya. Kabarnya program ini sudah mendapatkan respons positif dari masyarakat. Namun apa lacur, program ini terancam berhenti akibat pemotongan anggaran.

 

Literasi Tinggi, Bangsa Maju

Padahal kehadiran buku gratis bagi rakyat Indonesia, terutama kalangan pelajar, mahasiswa, peneliti dan pecinta kajian ibarat darah dalam tubuh manusia. Vital. Apalagi di tengah harga buku yang makin tidak bersahabat dengan kantong rakyat, buku sudah seperti kebutuhan mewah. Hanya segelintir warga Indonesia yang masih menganggap buku bacaan sebagai kebutuhan. Sebagian besar rakyat sudah tidak lagi menjadikan buku sebagai kebutuhan hidup. Termasuk kalangan pelajar dan mahasiswa.

Korelasi kemajuan suatu peradaban dengan literasi tidak bisa dibantah. Bangsa yang tinggi budaya literasinya adalah bangsa yang maju. Jepang, Korea Selatan, Amerika Serikat, Finlandia, Inggris, yang tinggi tingkat pendidikannya punya budaya literasi yang tinggi.

Berdasarkan data dari worldpopulationreview.com pada tahun 2024 rata-rata orang Indonesia membaca 5,91 buku pertahun. Sedangkan warga AS 17 buku, Inggris 15 buku, bahkan penduduk India rata-rata menamatkan 16 buku pertahun. Di tingkat ASEAN negara Singapura memimpin dengan rata-rata membaca 6,72 buku (Average Books Read Per Year by Country 2026).

Sedangkan dari sisi literasi situs tersebut mendata dari 184 negara maka 5  negara dengan literasi tinggi adalah Finlandia, Norwegia, Georgia, Luksemburg, Uzbekistan yang mencapai angka 100 persen. Sedangkan Indonesia menempati posisi ke-86 dengan angkat literasi yang berkaitan dengan melek huruf mencapai 96%. Posisi ini masih kalah dari negara tetangga lain seperti Filipina (peringkat 85), Singapura (75), dan Brunei (73).

Pada tahun 2017, riset Perpusnas menunjukkan frekuensi membaca orang Indonesia rata-rata 3-4 kali per minggu, dan lama waktu membacanya per hari hanya 30-59 menit, dengan jumlah buku yang dibacanya rata-rata 5-9 buku per tahun. Kalau dirata-rata tingkat kegemaran membaca masyarakat Indonesia hanya 36,48 dan itu tergolong rendah.

Ternyata hal ini berkorelasi dengan angka Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Index). Di tahun 2025 Human Development Report menempatkan Indonesia di peringkat 113. Jauh dari tetangganya di ASEAN; Singapura (9), Brunei (59), Malaysia (67), Thailand (76), Vietnam (93).

 

Sulit Diakses

Banyak penyebab mengapa literasi di tanah air amat rendah, tapi salah satunya sulitnya mengakses buku. Harga buku memang semakin mahal. Sebagai contoh, buku novel di Indonesia kisaran harganya Rp80 ribu sampai seratus ribuan pereksemplar. Sedangkan buku-buku perkuliahan rata-rata di atas seratus ribu bahkan bisa tembus 300 ribuan.

Dengan rata-rata pendapatan rakyat Indonesia yang rendah, maka membeli buku bukan jadi prioritas keluarga dan warga di tanah air. Ditambah lagi budaya membaca yang rendah karena tidak didorong di keluarga, masyarakat bahkan di sekolah dan perguruan tinggi. Buku kalah penting dibandingkan membeli rokok, top up game, hape terbaru, dsb.

Harga buku di beberapa negara seperti Jepang, Korea Selatan dan negara-negara Eropa juga mahal. Tapi dengan tingkat pendapatan yang tinggi maka warga masih mampu membeli buku. Ditambah lagi negara-negara tersebut memiliki banyak perpustakaan umum yang mudah diakses warga. Lingkungan keluarga mendukung, seperti memberi kado berupa buku, juga budaya membaca yang tinggi.

Sementara di Indonesia jumlah perpustakaan di Indonesia pada tahun 2024 tercatat sebanyak baru 178.756 unit. Angka ini mencakup perpustakaan sekolah, perpustakaan umum desa, dan perpustakaan perguruan tinggi. Perpustakaan sekolah mendominasi dengan jumlah 97.742 unit, diikuti oleh perpustakaan umum desa sebanyak 21.086 unit dan perpustakaan perguruan tinggi sebanyak 3.184 unit.

Jumlah ini jauh dari pemenuhan kebutuhan literasi 277 juta penduduk Indonesia yang tersebar di 38 provinsi, 416 kabupaten dan 98 kota. Apalagi bila ditilik dari koleksi dan penambahan buku yang dibutuhkan warga jelas jauh dari cukup.

 

Islam Dan Budaya Literasi

Tidak ada yang bisa membantah bahwa Islam telah mengubah peradaban manusia dari jahiliyah menjadi ’kerasukan’ kebiasaan membaca. Sejarah mencatat dunia Islam berabad-abad menjadi sumber peradaban dan ilmu bagi dunia. Siapapun yang ingin mengembangkan pengetahuan harus datang ke dunia Islam.

Apa sebabnya? Pertama, sejak awal kedatangannya Islam telah mendorong umat manusia untuk membaca dan belajar. Ayat pertama saja berbunyi ’bacalah’ sebuah tanda bahwa agama ini menumbuhkan budaya belajar dan membaca. Rasulullah Saw menekankan budaya belajar pada kaum muslimin. Sehingga bangsa Arab yang semula tidak terbiasa dengan baca-tulis berubah jadi umat yang cerdas dan melahirkan banyak intelektual.

Kedua, dampak dari ajaran Islam adalah lahirlah budaya literasi yang kuat. Buku, menulis dan membaca menjadi budaya yang mendarah daging pada kaum muslimin. Sebutlah Ibnu Qutaibah Dinawari (276 H) adalah seorang polimatik – ulama yang punya menguasai berbagai keilmuan – ditaksir memiliki sekitar 300 karya buku. Lalu mufasir Muhammad bin Jarir Ath Thabari, ( 310 H) penulis dua karya ensiklopedi, tafsir Alquran, sejarah dunia. Kedua karya ini sendiri sangat banyak. Dia juga menulis sejumlah karya lainnya. Dia dikatakan telah menghabiskan empat puluh tahun untuk menulis empat puluh halaman setiap hari. Lalu ada Ibnu Hazm (456 H) dikenal dengan 400 karya. Karyanya yang komprehensif tentang yurisprudensi perbandingan mencakup banyak volume, sayangnya banyak dari karya beliau yang punah.

Membaca dan mengoleksi buku juga jadi budaya kaum muslimin, terutama di kalangan ulama dan penguasa. Diriwayatkan kalau Al-Jahiz, seorang sastrawan besar dari Basra, punya kebiasaan menyewa toko buku untuk menginap di dalamnya. Ia sengaja membayar pemilik toko agar bisa membaca buku sepanjang malam. Ia tidak ingin melewatkan satu halaman pun tanpa mendapatkan pengetahuan baru.

Sementara itu Imam An-Nawawi saking takjubnya pada kitab Al-Wasith karya Imam Al-Ghazali berulang-ulang membacanya hingga 400 kali. Lain lagi cerita Imam Az-Zuhri, saking gandrungnya pada buku dan tenggelam dalam asyiknya membaca, sampai istrinya cemburu pada buku-buku miliknya.

Saat sakit pun para ulama selalu ingin dekat dengan buku. Abu Abdullah Al-Furawi saat sakit meminta kepada muridnya, Ibnu Asakir, untuk membacakan buku padanya. Hal yang sama diminta oleh Ibnu Taimiyah agar orang-orang membacakan untuknya buku di kala sakit.

Mengoleksi buku juga jadi status sosial masyarakat terutama para pejabat. Mereka berlomba-lomba mengoleksi buku para ulama. Tidak jarang orang-orang kaya dan penguasa memberi hadiah emas pada para penulis buku dengan bobot setara buku yang mereka tulis.

Ketiga, negara memfasilitasi budaya literasi. Ada sejumlah kebijakan para khalifah yang menjadikan budaya literasi semakin kuat. Yaitu mendorong tingkat pendidikan luas dan setinggi-tingginya bagi masyarakat, terutama kaum muslimin. Hal ini menyebabkan umat Muslim begitu gandrung pada ilmu dan budaya literasi.

Selanjutnya Khilafah Islamiyyah memberikan penghargaan dan bayaran yang tinggi untuk para guru, para ulama dan para penulis buku. Di masa Khalifah Umar bin Khattab upah guru baca dan menulis adalah 15 dinar perbulan. Ini sudah amat tinggi dibandingkan gaji guru di Indonesia. Pada masa Harun Al-Rasyid, upah tahunan rata-rata untuk penghapal Al-Qur’an, penuntut ilmu, dan pendidik umum mencapai 2.000 dinar. Sementara periwayat hadits dan ahli fiqih mendapatkan dua kali lipatnya, yaitu 4.000 dinar. Silakan dikonversi ke dalam rupiah berapa miliar pendapatan mereka pertahunnya.

Negara Khilafah juga membangun pabrik kertas dan percetakan untuk keperluan penerbitan buku. Sehingga penerbitan buku menjadi lebih mudah. Buku dan ilmu bukan lagi menjadi milik kalangan elit tertentu, tapi masyarakat luas dapat memilikinya.

Terakhir, negara Khilafah membangun berbagai perpustakaan megah dengan ribuan buku koleksinya. Pada abad ke-10, di Andalusia terdapat 20 Perpustakaan Umum. Perpustakaan Cordova memiliki 400 ribu judul buku. Sementara itu perpustakaan Darul Hikmah (Kairo) punya koleksi 2 juta judul buku, dan perpustakaan Umum Tripoli (Syam) 3 juta judul buku termasuk 50 ribu eksemplar al-Quran dan tafsirnya. Dengan begitu rakyat tidak kesulitan mengakses buku.

Maka, budaya literasi sudah menjadi bagian dari peradaban dan ideologi suatu kaum. Dalam hal ini Islam adalah satu-satunya ideologi yang begitu kuat menanamkan budaya literasi pada umatnya. Namun begitu terjadi ikatan terhadap Islam melemah, melemah pula budaya literasi pada umat. Apalagi setelah Khilafah dihancurkan pada tahun 1924, penjajahan oleh bangsa Barat terjadi di dunia Islam, kaum muslimin dijauhkan dari budaya literasi. Semua ada tujuannya, yaitu membuat umat Muslim selalu terbelakang sehingga mudah dijajah dan dihancurkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.