
Orang tua harus makin waspada. Anak dan remaja makin dominan berbelanja di era digital. Untuk mereka belanja bukan lagi kebutuhan, tapi FOMO, identitas sosial, dan keinginan flexing. Mulai perhatikan kebiasaan anak agar dompet tidak jebol dan belanja jadi candu.
Sesekali perhatikan barang-barang yang dibeli anak kita dari toko online. Entah mainan, baju, sepatu, asesoris, dll. Bisa jadi sudah begitu banyak. Sebagian bagus-bagus dan harganya tidak murah. Namun perhatikan tidak sampai sebulan mereka sudah scroll lagi di toko-toko online dan merengek.
Ya salah satu tantangan parenting hari ini adalah mengendalikan nafsu belanja anak-anak dan remaja. Pasar digital tidak lagi didominasi oleh orang dewasa yang bekerja. Laporan riset menunjukkan bahwa lebih dari 70% transaksi e-commerce digerakkan oleh anak muda dan remaja di bawah 35 tahun. Bahkan, riset Lokadata menyebutkan bahwa 71% anak muda membuka aplikasi belanja online minimal sekali dalam sehari, bukan karena mereka butuh, melainkan sebagai sarana hiburan.
Platform seperti Shopee, Tokopedia, TikTok Shop, dan Lazada tidak hanya menyediakan fitur jual-beli, tetapi juga menghadirkan pengalaman interaktif melalui live shopping. Survei Populix menunjukkan 62 persen Gen Z aktif bertransaksi melalui fitur ini. Bagi kalangan muda, belanja online bukan hanya soal membeli barang, tetapi juga bagian dari hiburan, bersosialisasi, dan identitas digital.
Ini masalah baru bagi orang tua. Salah satu hal yang sudah pasti pengeluaran rumah tangga bisa membengkak. Orang tua harus menambah pengeluaran atau uang jajan anak untuk keperluan belanja online mereka. Selain juga menghadapi kenyataan anak dan remaja menjadi semakin boros.
Namun ada yang lebih penting untuk diwaspadai selain soal bengkaknya belanja rumah tangga; munculnya perilaku kecanduan belanja alias shopaholic. Pasalnya hari ini stimulan belanja pada anak dan remaja begitu kencang. Selain kecanggihan teknologi toko online, dorongan belanja juga muncul karena unsur hiburan, flexing dan fomo.
Berbelanja itu fun. Ditambah lagi dorongan flexing atau pamer di circle anak dan remaja. Ada kepuasan kalau membeli barang unik yang disenangi banyak orang. Selanjutnya anak dan remaja bisa jadi begitu senang belanja karena dorongan FOMO. Fear Of Missing Out. Takut kehilangan tren. Sementara itu kecanggilan dunia marketing bisa mengubah keinginan menjadi kebutuhan.
Bagi kita, keluarga muslim, berbelanja itu adalah halal. Namun menciptakan pengendalian diri dalam berbelanja agar tidak konsumtif apalagi boros adalah penting. Allah Swt mengingatkan lewat surat At-Takatsur kita agar tidak terjebak dalam budaya pamer atau flexing. Rasulullah Saw juga mengingatkan dengan sabdanya:
مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ المَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ
Di antara tanda baiknya keislaman seseorang adalah ia meninggalkan apa yang tidak penting bagi dirinya. (HR. Imam Tirmidzi).
Ada sejumlah dampak negatif – dan jelas tidak Islami – pada anak kalau mereka tidak dilatih untuk mengendalikan diri di era scroll-buy.
Pertama, budaya scroll-buy bisa jadikan anak dan keluarga kecanduan belanja, alias shopaholic. Anak-anak bisa semakin impulsif/kalap dalam berbelanja. Algoritma media sosial mendikte keluarga, terutama anak-anak dan remaja, ’apa yang harus kita punya’. Pasar yang berkiblat pada kapitalisme hari ini mengubah keinginan menjadi kebutuhan. Bukan satu atau dua kasus orang tua terkaget-kaget karena ternyata sang anak berbelanja di pasar digital hingga belasan juta rupiah. Ada seorang ibu yang curhat karena anaknya melakukan top up game online senilai 11 juta rupiah. Ini sangat mungkin terjadi kalau kalau ponsel yang dipakai anak terkoneksi langsung dengan pembayaran digital milik orang tua, atau melalui opsi COD.
Kedua, anak akan terjebak pada budaya flexing, senang pamer. Sejak dulu belanja bisa jadi bukan karena kebutuhan tapi berurusan dengan identitas atau status sosial. Budaya flexing sejak dulu sudah berlaku. Di era media sosial hal ini menjadi semakin kuat. Anak dan remaja bisa terpancing dengan apa yang dipamerkan temannya di media sosial. Sehingga dorongan beli dan beli lagi semakin kuat.
Ketiga, anak dan remaja rentan mengidap sifat gampang bosan atau tidak puas dengan apa yang mereka punya atau beli. Efek ini dalam dunia psikologi disebut Efek Diderot (Diderot Effect). Misalnya setelah anak punya hape baru mereka tergoda untuk beli casing yang baru dan bagus. Lalu tergoda lagi untuk beli asesoris lainnya. Bahkan tergoda untuk ganti hape dengan model atau seri yang lain. Dengan efek marketing dan flexing yang makin kencang, siapa saja mudah terimbas efek Diderot ini. Termasuk anak-anak dan remaja.
Keempat, hal lain yang bisa muncul dari budaya scroll-buy adalah anak dan keluarga rentan terkena FOMO. Belanja bukan lagi dorongan kebutuhan, tapi karena ingin ikut tren. Ingin sama kerennya dan takut dibilang kudet. Akhirnya anak-anak dan remaja jadi impulsif setiap kali muncul barang baru; makanan, outfit, hape, dll. Repotnya, dunia marketing pinter menciptakan budaya baru dengan menampilkan publik figur sebagai endorser, membuat promo besar-besaran, dsb.
Sebenarnya hal yang paling merugikan keluarga muslim dari fenomena ini adalah hilangnya rasa bersyukur dan qona’ah. Dua sifat positif ini sebenarnya adalah kunci untuk menyetop budaya flexing, shopaholic, dan efek Diderot. Anak dan remaja akan paham kalau mereka belanja adalah karena kebutuhan, bukan impulsif. Dengan begitu mereka akan belajar mengendalikan diri setiap kali muncul keinginan.
Menjadi penting bagi orang tua untuk menanamkan prinsip delay gratification di tengah keluarga. Bukan saja pada anak, tapi juga pada orang tua. Tidak mesti setiap iklan atau tawaran yang lewat harus dimiliki. Juga tidak mesti setiap pencapaian itu dirayakan dengan berlebihan sebagai self reward. Lagipula tidak ada yang mengharuskan begitu.
Kuncinya adalah menempatkan kebutuhan pokok sebagai prioritas belanja. Lalu mengesampingkan hal-hal yang memang hanya asesoris atau hiburan semata. Nabi Saw adalah sosok yang banyak menghindari perkara mubah dan lebih menyibukkan diri dengan hal-hal yang penting dalam kehidupan. Inilah ajaran mulia.[]

Leave a Reply