Ramadhan Dan Ironi Negeri Paling Relijius

gambar: pexels.com

Ironi. Bagaimana negara dengan penduduk mayoritas muslim, dinobatkan sebagai negara paling relijius, tapi berbagai perilaku amoral justru sering terjadi? Ada sebagian orang yang menuding ini sebagai kegagalan Islam. Kalau Islam agama yang benar, mengapa umatnya begini?

 

Marhaban ya Ramadhan 1446!

Untuk kesekian kalinya kaum muslimin di tanah air merayakan dan menyambut kedatangan bulan agung Ramadhan. Seperti biasanya euforia kedatangan Ramadhan terasa di awal dan nanti di akhir menyambut Idul Fitri. Tentunya mimbar-mimbar ceramah dan kajian di masjid, perkantoran, televisi, kanal-kanal media sosial seperti Youtube lebih semarak sepanjang Ramadhan.

Namun yang jadi pertanyaan; apakah goal dari berpuasa di bulan Ramadhan sudah terwujud? Ataukah berpuasa hanya rutinitas ibadah tahunan, atau bahkan rutinitas memindahkan jadwal makan kita selama satu bulan? Sementara tak ada perubahan apapun dalam hidup kita secara pribadi, keluarga, apalagi sebagai satu negara?

Tujuan puasa Ramadhan dengan jelas Allah sebutkan dalam QS Al-Baqarah ayat 183; agar kamu bertakwa. Makna takwa dijabarkan oleh sebagian ulama dengan pengertian ”menjalankan perintah Allah dan menjauhi laranganNya.” Dengan membaca Al-Qur’an kita akan paham bahwa dimensi takwa itu amatlah luas. Bukan hanya dalam urusan ibadah tapi juga seluruh bidang kehidupan.

Untuk mencari cermin orang bertakwa, mudah saja. Salah satunya bisa kita baca dari biografi sahabat Nabi Saw dan Khalifah pertama beliau, Abu Bakar Ash-Shiddiq ra. Beliau bukan saja ahli ibadah dan sedekah, tapi juga punya karakter berhati-hati dalam kekuasaan dan kekayaan. Diriwayatkan bahwa Abu Bakar pernah memuntahkan lagi segelas susu yang diminumnya setelah tahu kalau susu itu adalah upah jasa paranormal dari salah satu stafnya. Sementara Islam telah mengharamkan profesi paranormal atau perdukunan.

Beliau juga pernah mengembalikan tabungan sisa uang belanja istrinya ke Baytul Mal. Padahal istri beliau sengaja menabung sisa uang belanja agar bisa membeli kue lezat yang tak bisa dibeli keluarga sang Khalifah secara langsung. Ia pun menabung sisa uang belanjanya. Namun setelah dirasa cukup dan diserahkan pada Abu Bakar untuk dibelikan kue tersebut, sang suami malah mengembalikannya ke Baytul Mal. Bahkan saat mengembalikan uang itu Khalifah Abu Bakar juga berpesan agar jatah belanja keluarga beliau dipotong karena dirasa sudah melebihi kebutuhan harian.

Beginilah proyeksi ketakwaan yang betul dari seorang muslim. Bukan hanya khusyu beribadah, tapi juga terwujud dalam perilaku keseharian. Demikian pula para sahabat yang lain, juga para khalifah dan ulama yang salih. Mereka bisa jadi cerminan takwa yang nyata.

Maka amat ironis bila kita menyaksikan kondisi Indonesia hari ini. Sebagai negeri dengan penduduk mayoritas muslim, para pejabatnya sebagian besar muslim, justru sulit ketakwaan sulit terproyeksikan dalam kehidupan.

Ini ironis mengingat Indonesia pernah dinobatkan sebagai negara paling relijius di dunia. Survey yang dilakukan Pew Research Center yang diterbitkan pada tahun 2024 menobatkan Indonesia menjadi negara paling religius di antara 102 negara lainnya. Di antara topik yang disurvei adalah ada hubungan antara kepercayaan kepada Tuhan dengan moral yang baik.

Namun silakan dilihat bagaimana kondisi negeri ini. Relijius tapi jauh dari ketaatan beragama. Contohnya, walaupun banyak diisi para pejabat muslim, namun Indonesia malah ladang subur praktek korupsi. Negeri ini menempati peringkat ke-115 dari 180 negara dalam soal indeks persepsi korupsi. Artinya, negeri ini jauh dari clean government. Makin ke sini para koruptor makin rakus. Mereka bukan saja menyikat uang miliaran rupiah, tapi sudah puluhan bahkan ratusan triliun. Skandal korupsi Jiwasraya dan Asabri tembus puluhan triliun. Terbaru, korupsi yang dilakukan berjamaah oleh para pejabat di Pertamina merugikan negara nyaris Rp 1.000 triliun!

Rakyat juga seperti biasa makan harta sesama rakyat. Beberapa kali viral video truk pengangkut sembako, buah-buahan, atau logistik yang terguling lalu dijarah rame-rame oleh warga. Walaupun direkam oleh warga lain tapi sedikitpun tidak membuat para pelaku malu atau takut. Santai saja.

 

Separuh Ketaatan

Ironi. Bagaimana negara dengan penduduk mayoritas muslim, dinobatkan sebagai negara paling relijius, tapi berbagai perilaku amoral justru sering terjadi? Ada sebagian orang yang menuding ini sebagai kegagalan Islam. Kalau Islam agama yang benar, mengapa umatnya begini?

Itu adalah analisa yang salah besar. Justru analoginya adalah seperti pasien yang bandel dalam soal minum obat. Bukannya diminum utuh, hanya setengah yang diteguk. Selain tidak sembuh, penyakitnya semakin menjalar.

Coba perhatikan; hari ini umat Muslim masih mencintai agamanya, tapi hanya setengah. Kita gembira dengan kedatangan Ramadhan. Apalagi perayaan Idul Fitri. Tapi umat tidak gembira dengan ajaran Islam lainnya; muamalah, sosial, apalagi politik dan kenegaraan. Mereka batasi beragama hanya untuk urusan pribadi. Cukup ibadah saja.

Dalam bahasa filsafat, umat sedang mempraktekkan sekulerisme dalam kehidupan. Mereka beragama tapi hanya separuhnya, bahkan kurang. Otoritas agama, bahkan Allah, mereka batasi hanya di ruang peribadatan. Kalaupun meluas hanya dalam ruang keluarga atau sosial. Umat mau menerima nasihat agama dalam urusan salat, puasa, atau moral. Namun tidak untuk urusan muamalah, pidana, politik dan pemerintahan.

Para tokoh agamanya pun membatasi konten ceramah mereka hanya dalam persoalan ibadah, ahlak, dan rumah tangga. Ada keengganan membahas dan menyerukan umat untuk totalitas dalam ketakwaan.

Lebih parah lagi para penguasanya. Meski mereka paling sering menjargonkan jangan bawa agama ke dalam politik. Faktanya elit politisi dan pejabat adalah kelompok yang paling sering mengeksploitasi agama. Tujuannya untuk pencitraan dan keuntungan politik. Mendadak salih jelang pilkada atau pemilu; bersarung, berpeci, disyuting sedang buka puasa atau sedang salat, untuk ditebar ke media massa. Namun kemudian paling keras memainkan isu radikalisme agama (Islam).

Inilah akar persoalan di tanah air. Bukan hal yang aneh. Karena Kitab Suci kita sudah mengingatkan sejak lama. Siapa saja yang meninggalkan petunjuk agama, maka akan terpuruk dalam kesengsaraan dan kerusakan akut. FirmanNya:

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah menimpakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (TQS Ar-Rum [30]: 41)

Para ulama tafsir menjelaskan makna ’akibat perbuatan manusia’ adalah karena kemaksiatan dan dosa-dosa. Apa itu? Meninggalkan perkara yang diwajibkan Allah dan atau menabrak laranganNya. Inilah maksiat dan dosa. Dampaknya adalah kerusakan di daratan dan di lautan. Daratan dijarah, lautan dikavling.

Jadi, bagaimana? Apakah merasa puas dengan kondisi negeri hari ini? Ataukah berharap ada perubahan besar? Kalau pilihan kedua yang dikehendaki, saatnya wujudkan ketakwaan secara total. Caranya dengan kokohkan iman dan taat menjalankan aturan Allah Swt. Tanpa dipilah dan dipilih. []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.