2 Jam Bersama Komisioner Komnas HAM

Komnas HAMLama sudah saya mendengar nama Komisioner Komnas HAM Saharuddin Damning tapi belum ada kesempatan bertemu. Pertemuan saya paling banter hanya lewat beberapa tulisan di media massa cetak maupun online. Satu kata untuk seorang Saharuddin Damning; berani!

Untuk ukuran orang yang bergerak di lapangan HAM yang banyak hitam dan abu-abu beberapa pendapat Saharuddin Damning ‘kelewat’ berani membela Islam. Tulisan terakhirnya yang saya baca bertajuk Represi dan Radikalisasi (bisa dibaca di http://nasional.sindonews.com/read/2012/09/06/18/670429/represi-dan-radikalisme) terbilang tajam mengkritik BNPT dan Densus 88. Dua lembaga anti-teror itu menurutnya, terlalu arogan dan justru mempersubur ekskalasi kekerasan.

Meskipun saya tidak sepakat tentang konsep HAM, bahkan HAM menurut saya HAM itu adalah biang keladi dari semua kebejatan gaya hidup manusia, tapi pembelaan Saharuddin Damning terhadap Islam terasa mencengangkan. Dalam kesempatan lain Beliau juga mengkritik lembaga tempatnya bekerja, Komnas HAM, karena memberikan rekomendasi ‘gila’ – menurutnya – seperti penghapusan UU yang melarang penodaan agama, menghilangkan status agama dalam kartu identitas seseorang, juga penghapusan UU pernikahan yang melarang pernikahan beda agama.

Sampai akhirnya pada hari Ahad 16 September kemarin saya memandu Halaqoh Islam dan Peradaban di Wisma Antara dan langsung bertatap muka dengan doktor di bidang hukum ini. Ah dasar saya kuper, saya baru tahu kalau Pak Saharuddin ini ternyata mengalami kebutaan. Akhirnya saya baru tahu cerita penyebab kebutaannya setelah browsing profil beliau di beberapa blog.

Pada diskusi tentang konflik kelompok Tajul Muluk – Rais di Sampang, Madura, pria kelahiran Pare-Pare, membongkar setting opini oleh media massa soal kasus Sampang. Media sekuler dan liberal hanya meng-capture dan menayangkan gambar dan berita sesuai ideologi liberal mereka.

“Kalau ada anak umur 12 tahun diberitakan membunuh seorang kakek-kakek usia 90 tahun, menurut para hadirin anak itu kejam tidak?” Jawabannya sudah pasti, sekitar 200-an peserta menjawab “Kejam!”

“Tapi bagaimana kalau sebenarnya si kakek itu telah membunuh orang tua si pelaku bahkan memperkosanya? Apakah tindakan anak itu kejam?” tanya Saharuddin. Kali ini semua hadirin tersadarkan dan diyakinkan kalau industri media cetak dan elektronik memang ‘penguasa’ opini yang dengan gampang memainkan opini jutaan orang.

Soal penodaan agama beliau kembali berkomentar, “Kita ini diminta menjaga keaslian budaya Nusantara, masa kita tidak marah kalau ada yang ingin merusak keaslian agama kita. Menurut saya kita lebih layak marah kepada orang yang berusaha mengubah agama. Bukankah agama itu lebih tinggi nilainya ketimbang budaya?”

Kalau umat Islam meminta Ahmadiyah dibubarkan itu bukan pelanggaran HAM, karena justru umat Islam membela diri dan menjaga kesucian agamanya. Hmm, ini yang bikin kaum liberal marah besar.

Ceplas-ceplos, berani tapi argumentatif melawan logika-logika liberal, baik secara pemikiran maupun yuridis. “Kalau ada orang yang bilang boleh mengutak-atik agama dengan alasan HAM, orang itu harus belajar dulu HAM sama saya!”

Keberanian beliau makin terlihat saat acara usai dan ada seorang wartawan yang bertanya soal kekejaman Densus dan BNPT. Dengan entengnya beliau katakan, “Bubarkan saja itu BNPT dan Densus! Masak menegakkan hukum dengan melanggar hukum.”

Gara-gara pemikirannya yang melawan mainstream liberalisme dan sekulerisme, komisioner Komnas HAM ini pernah dituduh oleh sebuah wartawan media nasional sebagai anggota parpol Islam pejuang syariat dan khilafah.

Well, saya tetap tidak sependapat tentang urusan HAM dengan Pak Doktor yang satu ini. Tapi dalam beberapa hal ada irisan pemikiran saya dengan beliau. Logika-logikanya juga cerdik untuk digunakan melawan arus sekulerisme dan liberalisme. Untuk urusan yang satu ini saya sepakat dan akan saya gunakan sebagai bagian dari peluru di medan dakwah. Ah, betul-betul 2 jam yang padat dan berisi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.