Komunitas Tombo Ati

communityIngat kan lagu Tombo Ati? Untaian kalimat hikmah yang menurut hikayat diciptakan oleh Sunan Bonang, amat bagus bila kita renungkan. Tombo ati artinya kurang lebih obat hati. Obat bagi siapa saja yang sedang terkena penyakit hati, dan bagi kita yang ingin terhindar dari penyakit hati. Saya coba tampilkan lirik-liriknya:

Tombo Ati

Tombo ati iku limo perkarane
Kaping pisan moco Qur’an lan maknane
Kaping pindo sholat wengi lakonono
Kaping telu wong kang sholeh kumpulono
Kaping papat kudu weteng ingkang luwe
Kaping limo dzikir wengi ingkang suwe

Salah sawijine sopo bisa ngelakoni
Mugi-mugi gusti Allah nyembadani

(Obat hati ada lima perkaranya
Yang pertama baca Quran dan maknanya
Yang kedua sholat malam dirikanlah
Yang ketiga berkumpullah dengan orang sholeh
Yang keempat perbanyaklah berpuasa
Yang kelima dzikir malam perbanyaklah

Salahsatunya siapa bisa menjalani
Moga-moga Gusti Allah mencukupi)

Saya hanya ingin mengajak ikhwan fillah untuk merenungi obat yang ketiga; wong kang sholeh kumpulono. Mengapa harus berkumpul dengan komunitas orang soleh? Anda pasti bisa menjawabnya; agama seseorang ditentukan oleh kualitas agama kawan-kawannya. Satu sisi orang akan menilai siapa kita dari siapa kawan-kawan kita, di sisi lain jarak kita dengan Allah juga bisa ditentukan oleh siapa orang yang menjadi kawan kita. Jika kita senantiasa menautkan hati dengan orang-orang soleh maka mudah bagi kita untuk mendekat kepada Allah. Tapi manakala kita berkumpul dengan komunitas yang tak dekat dengan Allah, tidak mudah bagi kita untuk menjaga idrak sillah billah (kesadaran hubungan kita dengan Allah).

Bukan satu atau dua kejadian, orang-orang yang semula begitu semangat dalam beribadah dan berdakwah, kemudian menjadi futur karena lebih senang berenang dalam komunitas yang berbeda orientasi hidup. Ada yang akhirnya tenggelam dalam komunitas pekerjaan, komunitas hobi, dll. Perlahan mereka menjauh dari sahabat-sahabatnya yang giat beribadah dan berdakwah hingga akhirnya tak ada perasaan ragu untuk melepas hubungan dengan mereka.

Rata-rata, mereka yang kemudian lepas dari komunitas dakwah ini berubah orientasi hidupnya. Ada yang memilih sibuk dengan pekerjaan, keluarga, hobi, ada juga yang mencoba tetap idealis tapi menjadi humanis. Tidak semilitan pada awalnya.

Bijaklah dalam memilih komunitas pertemanan. Buatlah ketentuan memilah mereka berdasarkan urutan kepentingan agama kita. Kawan-kawan di kantor tentu bukan masuk ring pertama, tapi bisa ketiga setelah keluarga. Untuk hobi ada di ring yang berikutnya. Tapi kawan-kawan kita yang ada dalam langkah dakwah, ibadah dan perjuangan haruslah berada di ring pertama. Kita membutuhkan mereka, seperti mereka pun membutuhkan kita. Untuk saling memotivasi, memberi semangat dalam merengkuh jannahNya.

Saat seorang muslim, apalagi seorang da’i hilang sikap bijak dalam memilih komunitas, saat itu orientasi hidupnya akan mulai bergeser. Ibadah, dakwah dan perjuangan bukan lagi menjadi core dari hidupnya, tapi selingan dalam kehidupan pribadi.

Allah SWT. telah mengingatkan kita akan penyesalan orang-orang zalim di Hari Akhir nanti, karena mereka melepas pertemanan dari Rasulullah saw. dan para sahabatnya. Lebih memilih komunitas yang membuat mereka abai terhadap peringatan Allah. Padahal mereka sebelumnya telah merasakan kehadiran Islam dalam hidup mereka:

Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul”. Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya Dia telah menyesatkan aku dari Al Quran ketika Al Quran itu telah datang kepadaku. (QS. Al-Furqan [25]: 27-29).

Karenanya bila kita telah berada dalam komunitas yang menguatkan dien ini, jangan melepaskan ikatan tersebut. Tetaplah bersama mereka. Terimalah mereka dengan sepenuh hati. Tamballah kekurangan mereka, nasihati mereka bila berada dalam kesalahan. Berdoalah untuk keutuhan komunitas ini agar selalu terpaut hatinya dalam iman, dan diperbaiki dalam segala urusan. Ketimbang berlepas diri dari mereka lalu kita beralih ke komunitas lain yang membuat kita kehilangan orientasi hidup yang benar.

Allahumma alif bayna qulubina, wa ashlih dzata baynana — Ya Allah tautkanlah hati-hati kami, dan perbaikilah urusan di antara kami.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.