Seperti Dikejar Anjing Galak

dogMasya Allah, pagi ini anak-anakku shalat kesiangan. Padahal dari pukul 5 sudah kupanggil untuk bangun. Tapi baru pukul setengah enam pagi mereka bangun. Fathan, anakku yang pertama langsung bangun dan terbirit-birit ke kamar mandi untuk berwudu. Nah yang agak males-malesan adalah mujahidku yang nomor dua, Kiki. Dengan sedikit agak kesa aku bilang, “Kak, kita itu kalau mau ketinggalan waktu shalat seperti dikejar anjing galak, lari ngibrit!” Baru ia bergegas bangun.

Tidak mudah bagi kita untuk membangun mental tsibat dan sur’ah dalam beribadah. Tegar dan bergegas melaksanakan panggilan Allah. Selalu ada alasan untuk mengulur-ulur waktu. Jangankan memotivasi ibadah untuk anak-anak, untuk diri sendiri saja terkadang hmm, beratnya.

Seperti pagi tadi saya harus menggunakan analogi ‘dikejar anjing galak’. Bisa jadi ini tepat atau tidak, tapi setidaknya menurut saya bisa diterima akal sehat, termasuk untuk ukuran anak-anakku.

Siapapun akan ngacir ketika dikejar anjing galak. Terbayang kumpulan giginya bak gerigi gergaji. Air liur najisnya yang menetes dan nafas si anjing yang cepat memburu. Kalau tergigit terbayang rasa sakit, perih dan ancaman rabies. Ngeri, apalagi untuk ukuran imajinasi anak-anak.

Mahasuci Allah yang dalam kitab suciNya juga mengingatkan kita bukan hanya dengan janji kenikmatan di dalam jannah-Nya, tapi juga memberikan tahdzir, peringatan, akan siksaNya yang pedih.

Akan tetapi membaca semua peringatan Allah memang harus dengan keimanan.Tanpa iman, maka semua janji kenikmatan dan ancaman Allah akan dianggap fiksi. Tidak riil.

Tapi hal itu tidak sulit, yang diperlukan adalah kemauan berpikir lebih mendalam hingga mendapatkan kecemerlangan dalam berpikir. Dengan melihat realita al-hayah atau kehidupan yang serba terbatas karena ada kematian, harusnya kita sadar bahwa semua kenikmatan yang kita alami di dunia akan berakhir seketika cepat atau lambat.

Hari ini ada orang yang bisa tertawa karena baru saja mendapat bonus hasil usaha, besok mungkin ceritanya lain. Ia harus menangis sedih bercucuran air mata dan dilanda stress karena ternyata mitra bisnisnya adalah penipu. Kini bukan saja uangnya ludes, tapi ia pun harus menanggung uang orang lain yang dititipkan sebagai investasi kepadanya.

Maka yang riil hanya yang ada di akhirat. Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka apakah kamu tidak memahaminya?”(QS. al-Qashash: 60).

Karenanya jangan merasa tenang ketika kita sedang melalaikan perintah Allah atau sedang mengerjakan apa yang dibenciNya, perbuatan haram. Karena di belakang kita kematian dan azab Allah sebenarnya tengah mengejar kita dengan sangat cepat. Lebih cepat dan lebih buas dari terkaman anjing galak.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.