Meragukan Yang Pasti, Meyakini Yang Meragukan

splitAhmad adalah seorang putra muslim yang lahir dari kedua orang tua muslim. Ia tumbuh dalam suasana ibadah yang melebihi anak-anak sebayanya. Saat anak-anak lain sibuk menonton televisi di kala magrib, Ahmad sudah berada di mesjid bersama ayahnya. Ketika anak-anak lain keranjingan komik-komik asing, Ahmad sudah dipuaskan dengan kisah para sahabat dan ulama-ulama termasyhur.

Di usia sekolah, kedua orang tuanya memasukkan Ahmad ke sekolah Islami. Bersama anak-anak lain Ahmad duduk bersama di pagi, siang atau sore hari menghafalkan ayat-ayat al-Quran.

Tidak butuh waktu lama baginya untuk menghafal juz demi juz dari Kitab Suci tersebut. Hanya butuh beberapa langkah lagi baginya untuk menjadi seorang penghafal al-Quran. Tiap malam ia membaca al-Quran dengan khusyu-nya. Seringkali air matanya menetes kala melantunkan ayat-ayat Allah yang demikian agung. Sehingga orang-orang memandangnya takjub sebagai pemuda yang demikian mumtaz. Begitu tenang beribadah di usia muda.

Menginjak usia muda ia mulai terlibat dengan aktifitas dakwah dan berbagai kiprah politik. Ia pun bertemu banyak politisi muslim yang lebih senior. Cerita dakwah mereka sering mengagumkan Ahmad. Bagaimana mereka mengaku berjuang untuk Islam di gedung parlemen untuk membela hak rakyat. Mereka sering menceritakan bahwa betapa beruntungnya kaum muslimin di tanah air yang hidup di alam demokrasi, karena bisa memperjuangkan Islam dengan leluasa. Demokrasi, menurut mereka adalah jalan untuk menegakkan kalimatullah.

“Jangan persoalkan istilah asingnya, tapi perhatikan konten-nya. Sungguh demokrasi itu senafas dengan prinsip syura dalam Islam,” kata mereka. Ahmad demikian terpesona dengan berbagai cerita dan pengalaman mereka. Termasuk ketika mereka mengatakan bahwa umat Islam di tanah air tidak perlu menegakkan negara Islam. menurut mereka, yang penting prinsip-prinsip kemanusiaan dan keadilan dapat diberlakukan bagi semua golongan tanpa pandang agama dan pertimbangan lain. “Bukankah Islam adalah rahmat bagi semesta alam?” tanya mereka retoris. Ahmad pun mengangguk.

Ahmad pun mendapat pelajaran ajaran Islam dapat dikolaborasikan dengan budaya setempat, bahkan dengan agama lain. Tidak ada persoalan bila seorang muslim memilih pemimpin bukan muslim selama kemaslahatan umat tetap terjaga. Ahmad pun mendapatkan bimbingan bahwa tidak perlu kaku menerapkan syariat Islam. Hukum Islam bersifat fleksibel, dapat ditarik-ulur apalagi bila itu mengganggu hubungan sosial dengan sesama warga negara. Bukankah menolak kemudharatan lebih utama daripada mendatangkan kemaslahatan, begitu bunyi kaidah syara yang diterima Ahmad dari mereka. Artinya bila menerapkan syariat Islam ternyata menimbulkan gangguan sosial, maka itu adalah mudharat. Maka jauh lebih baik menunda pelaksanaan syariat Islam ketimbang menimbulkan mudharat.

Ahmad makin intens terlibat dalam berbagai aktifitas dakwah di masyarakat. Ia ingin agar umat Islam terbebas dari kemiskinan, kesengsaraan dan mendapat keadilan hukum. Saat ada orang yang mengatakan bahwa persoalan umat hanya bisa diselesaikan dengan pelaksanaan syariat Islam dan tegaknya khilafah, Ahmad membantahnya. Ia mengatakan bahwa khilafah adalah romantisme sejarah dan utopia untuk dilaksanakan. “Bukannya saya menolak ide khilafah, tapi untuk kondisi saat ini demokrasi adalah pilihan terbaik. Juga bukannya saya menolak pelaksanaan syariat Islam, akan tetapi memaksakan rakyat untuk menerima syariat Islam akan menimbulkan PERSOALAN BARU. Sebaiknya kita pelan-pelan dalam berjuang,” demikian jawab Ahmad.

Demikianlah pemikiran Ahmad tentang persoalan umat hari ini. Syariat Islam itu tidak mesti dilaksanakan sepenuhnya. Terapkan dulu apa yang dapat diterima oleh masyarakat, yang lain maka kali lain.

Dalam kematangannya, Ahmad menikahi seorang muslimah yang juga sama-sama rajin beribadah. Mereka juga gemar membaca al-Quran. keduanya ingin membangun rumah tangga berdasarkan ajaran Islam. Maka anak-anak mereka dititipkan di sekolah-sekolah Islam agar menjadi anak-anak yang cinta pada Islam.

Akan tetapi prinsip hidup Ahmad tidak berubah. Menurutnya ajaran Islam tidak harus dilaksanakan seperti apa yang ada dalam al-Quran. Karenanya ia keberatan dengan rencana pembatasan peredaran minuman keras di masyarakat, atau pembatasan tempat-tempat hiburan malam. Menurutnya hal itu sudah diatur dalam undang-undang, meski faktanya undang-undang itu adalah buatan manusia yang bertentangan dengan firman Allah.

Malah ia marah kepada orang-orang yang dianggapnya keterlaluan dalam upaya menegakkan syariat Islam, apalagi ingin mendirikan daulah Islam. “Anda saja buat KTP-nya di negeri ini, bukankah bapak Anda juga pegawai negeri di sini?” balasnya kepada mereka.

Ahmad memang gemar membaca al-Quran. Akan tetapi ia seperti terlewat membaca ayat:

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.”(QS. an-Nisa: 65).

Ia seperti terlupa dengan ayat, “Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.”(QS. al-Maidah: 44), atau terlupa dengan ayat yang menyindir orang-orang yang menerapkan sebagian hukum Allah tapi meninggalkan sebagiannya lagi,

“Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat”(QS. al-Baqarah: 85).

Ahmad seperti ribuan mungkin jutaan muslim lainnya hari ini. Mereka meragukan sesuatu yang sudah pasti, tapi meyakini sesuatu yang masih meragukan bahkan sesuatu yang terlarang. Orang-orang seperti Ahmad sering membela demokrasi sebagai hal yang baik dan sesuai ajaran Islam. Padahal, bila demokrasi sesuai ajaran Islam bukankah tidak berarti demokrasi = Islam? Lalu mengapa tidak langsung saja memperjuangkan Islam sebagai sistem kehidupan terbaik?

Ahmad dan kawan-kawannya marah bila disebut sebagai pejuang syariah apalagi dikatakan sebagai kelompok Islam radikal. Menurutnya mereka adalah kalangan moderat dan mereka juga demikian bangga bila dikatakan sebagai orang-orang yang demokratis. Menurut mereka, demokrasi adalah sesuatu yang sama mulianya dengan keislaman mereka.

Semoga Allah memberi taufik dan hidayah kepada orang-orang seperti Ahmad. Karena khawatir mereka adalah golongan yang disebut oleh Allah dalam firmanNya:

“Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.”(QS. al-Kahfi: 103-104)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.