Menunggu Jadi Kera dan Babi-kah?

prayingDengan izin Allah, pada hari Sabtu lalu saya berkesempatan menghadiri Majelis Buhuts al-Islamiyyah di Asrama Haji, Pondok Gede Bekasi, Jawa Barat. Pertemuan para asatidz dan alim ulama itu membahas kezaliman pemerintah yang berencana menaikkan harga BBM. Pada sessi Min Kalimatil Ulama, seorang kyai muda asal Cikampek menuturkan tadzkiroh yang memukau saya. Beliau menyitir firman Allah dalam surat al-Maidah yang lengkapnya sebagai berikut:

“Telah dila’nati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.”(QS. al-Maidah [5]: 78-79).

Kaum Bani Israil memang kaum yang pernah dimuliakan oleh Allah (QS. 2: 47) tetapi lalu Allah banyak memberikan azab kepada mereka baik secara langsung maupun melalui lisan para nabi dan rasulNya, semua karena pembangkangan mereka kepada utusan Allah SWT. Salah satunya adalah yang termaktub dalam ayat-ayat di atas.

Imam ath-Thabariy dalam tafsirnya menuliskan pendapat sejumlah ulama bahwa laknat yang diberikan Nabi Daud as. kepada kaum Bani Israil adalah menyebabkan mereka berubah menjadi kera. Sedangkah laknat dari lisan Nabi Isa as. adalah membuat mereka berubah menjadi sekawanan babi (Tafsir ath-Thabari, juz 10 hal. 490).

Kemarahan kedua utusan Allah yang mulia itu, sehingga melontarkan laknat yang mengubah kaumnya menjadi gerombolan binatang yang hina adalah karena mereka berdiam diri terhadap kemungkaran.

“Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.”(QS. al-Maidah [5]: 79).

Masya Allah, ternyata berdiam diri dari kemungkaran adalah perbuatan dosa yang mengundang kemurkaan Allah SWT. Bahkan dua orang utusan Allah itu sampai melaknati kaumnya sendiri.

Baginda Nabi saw. pun berulangkali memperingatkan kaum muslimin agar jangan pernah mendiamkan kemungkaran karena akan mendatangkan dua hal; siksa Allah dan tidak terijabahnya doa.

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنِ الْمُنْكَرِ أَوْ لَيُوشِكَنَّ اللَّهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْهُ ثُمَّ تَدْعُونَهُ فَلَا يُسْتَجَابُ لَكُمْ

“Demi jiwaku yang berada di tanganNya, hendaklah kalian bersungguh-sungguh memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar, atau niscaya Allah mendatangkan atas kalian siksa dariNya, kemudian kalian berdoa kepadaNya maka tidak dikabulkan untuk kalian.”(HR. Tirmidzi)

Bukan hanya itu, Nabi saw. juga mengingatkan tabiat buruk kaum Bani Israil dalam nahi mungkar, yakni mereka melakukan nahi mungkar tapi mereka juga tetap berkumpul atau berkoalisi dengan para pelaku kemungkaran. Sabdanya:

إِنَّ الرَّجُلَ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَ إِذَا رَأَى أَخَاهُ عَلَى الذَّنْبِ نَهَاهُ عَنْهُ تَعْذِيرًا ، فَإِذَا كَانَ مِنَ الْغَدِ لَمْ يَمْنَعْهُ مَا رَأَى مِنْهُ أَنْ يَكُونَ أَكِيلَهُ وَخَلِيطَهُ وَشَرِيبَهُ ، فَلَمَّا رَأَى ذَلِكَ اللَّهُ مِنْهُمْ ضَرَبَ بِقُلُوبِ بَعْضِهِمْ عَلَى بَعْضٍ ، وَلَعَنَهُمْ عَلَى لِسَانِ نَبِيِّهِمْ دَاوُدَ ، وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ، ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ

“Sesungguhnya seseorang dari Bani Israil jika melihat saudaranya berbuat dosa ia mencegahnya, akan tetapi keesokan harinya ia tidak mencegahnya apa yang ia saksikan, malah ia makan, bergaul dan minum bersamanya, lalu Allah menutup hati mereka satu dengan yang lain dan melaknat mereka melalui lisan Nabi mereka Daud dan Isa as., hal itu karena perbuatan maksiat dan mereka melampaui batas.”(HR. Ibnu Abi Hatim).

Bagaimana dengan kita pada hari ini? Berbagai kemungkaran telah terjadi oleh individu maupun oleh penguasa? Akankah berdiam diri dari semua kemungkaran tersebut? Dan tidak ada kemungkaran yang paling besar selain berdiam diri dari amal menegakkan hukum-hukum Allah dalam naungan khilafah Islamiyyah.
Selama tidak ada penegakkan hukum-hukum Allah dan institusi Khilafah yang menjadi pelaksananya, ribuan kemungkaran dan kemaksiatan, perkara bid’ah, khurafat, dan perbuatan syirik tak akan bisa dicegah di muka bumi ini. Musibah besar bila kita mendiamkan kebatilan besar ini.

Firman Allah dalam surat al-Maidah itu memberikan pertanyaan besar bagi kita; bila Bani Israil dilaknat menjadi kera dan babi karena mendiamkan kemungkaran, lalu bagaimana dengan umat Muhammad ini? Apakah kita merasa aman dari kemungkaran yang sekarang terjadi? Padahal Allah SWT. telah berfirman:

“Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dan azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.”(QS. al-A’raf [7]: 99)

Incoming search terms:

  • iwan kera

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *