Menunggu Atau Menjemput Perubahan?

revolusiSama sekali tidak bermaksud melakukan selebrasi atas pergantian tahun baru Masehi yang najis itu, atau menjadikannya sebuah momentum yang sakral padahal nista, tapi sekedar mengingat nikmat masa dan zaman. Allah SWT. telah menjadikan waktu sebagai ukuran sebuah perubahan. Pertambahan umur yang mengubah penampilan fisik kita sudahkah mengubah peradaban kita?

Andai tidak takut disebut kufur nikmat, aku ingin menuliskan gema perubahan itu nyaris hening. Di malam pergantian tahun baru yang ‘mugholadzah’ itu echo perubahan tenggelam dalam lengkingan terompet dan gelegar mercon yang memabukkan rakyat jelata nan awam. Tadi pagi aku menyaksikan di layar kaca liputan ibu-ibu menggendong anak-anak mereka yang masih bayi berkerumun sepanjang malam pergantian tahun. Tanpa takut anaknya akan sakit dan tidak takut anaknya mengalami sakit jiwa karena racun peradaban Barat yang nista. Maka adakah perubahan itu?

Yang aku saksikan kebrutalan para politisi sekuler dalam menggadaikan agama mereka semakin menjadi-jadi. Atas nama kebebasan mereka menikam Islam dengan menuduh umat yang cinta pada agamanya adalah kelompok yang tidak toleran dan bengis. Ketika ada segelintir muslim yang resah jiwanya karena kemaksiatan yang merajalela lalu karena ketidaksabaran dan kekhawatiran keluarga mereka akan bejat moralnya bertindak, tuduhan anarkis pun disematkan.

Atau saat ada warga muslim yang melihat pembangunan rumah ibadah umat lain berdiri tanpa izin semestinya, lantas mengajukan protes, tudingan intoleran pun dilemparkan.

Amboi, lalu para politisi muslim yang dalam ktp-nya masih memilih Islam dalam kolom agama, dan yang wanitanya kerap berkerudung, lebih ridlo menjadi pengidap ‘katarak’ akut lantas diam melihat pemurtadan menggila di tengah umat, kemuliaan agama Muhammad dihina, dan kebejatan moral orang-orang yang lebih hina dari anjing yang bersetubuh dianggap sebagai tindakan mulia. Ekspresi jiwa orang merdeka.

Mereka menolak syariat Allah dengan alasan klise; cinta tanah air, nasionalisme dan kesatuan bangsa. Padahal di ujung jari mereka kekayaan alam ini dijual murah kepada imperialis Barat dan hanya menyisakan kotoran untuk saudara-saudara kita di Papua dan kerusakan alam di Jaya Wijaya. Di ujung lidah kaum yang mengaku nasionalis ini mereka tebar undang-undang yang 76 persen-nya adalah pesanan asing.  Nasionalisme? True or false?

Kaum yang menyatakan nasionalis ini juga yang penuh sukacita menjual murah rakyat sendiri sebagai budak di jaman modern dalam fase industrialisme kepada pengusaha asing. Jangankan mendapat tunjangan gaji yang layak, untuk menutup hutang saja mereka tidak sanggup. Adakah perbudakan yang lebih kejam di jaman kekaisaran Romawi atau Kisra Persia dimana gaji seorang buruh harus melayang karena izin buang air kecil? Nasib anak bangsa yang merdeka lebih sekarat di alam perbudakan modern ketimbang baut-baut tua dalam mesin bubut yang lapuk.

Mereka bukan pecinta tanah air, tapi komprador yang diorder asing untuk melawan kegigihan umat Islam yang ingin menyelamatkan negeri ini dari cengkraman para mister-nya. Pengkhianatan mereka yang menjijikkan ini membuat bumi pertiwi tidak akan sudi menelan air kencing mereka yang mereka tumpahkan di atasnya.

Para alim di negeri ini pun terkooptasi kekuasaan dan dilanda kebingungan. Bak ABG yang galau, mereka kebingungan mencari pembenaran atas kezaliman yang dilakukan para penguasa. Mereka berani memfatwakan bahwa pemilu adalah wajib hukumnya, tapi suara mereka tertelan kerongkongan sendiri ketika pemimpin yang telah terpilih memelihara kelaliman. Bahkan fatwa Natal yang telah absah bertahun-tahun pun diputar-putar agar tidak menyalahkan perilaku para penguasa negeri. Sebagian ulama hari ini seperti aparat penegak hukum kepolisian dan kejaksaan; tajam ke bawah tapi tumpul ke atas. Benarlah pernyataan Penghulu umat ini, Muhammad saw. yang mengatakan bahwa kerusakan umat ini disebabkan dua golongan; orang jahil dan ulama fasik.

هلاك أمتي : عالم فاجر ، وعابد جاهل ، وشرار الشرار ، شرار العلماء ، وخير الخيار خيار العلماء

“Umatku rusak oleh dua golongan; orang alim yang jahat dan orang bodoh yang rajin beribadah, dan seburuk-buruknya keburukan adalah kejahatan ulama, dan kebaikkan yang terbaik adalah sebaik-baik ulama,”(HR. Dailamiy).

Maka yang kutakutkan adalah firman Allah melanda semua mahluk penghuni negeri ini.

 

“Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. dan ketahuilah bahwa Allah Amat keras siksaan-Nya.”(QS. al-Anfal: 25).

Kupercaya harapan itu masih ada tapi manakala kita menjejakkan kaki di atas jalan lurus yang ditunjukkan Allah SWT. tidak berpaling ke kanan dan ke kiri, terus melangkah ke depan dan halau semua rintangan. Tidak menjadikan kemaslahatan sesaat sebagai kesempatan untuk tawar menawar perjuangan. Bila itu kita lakukan, maka ridho dan pertolongan Allah kan menjelang.

Maka jangan menunggu perubahan tapi jemputlah ia. Seretlah ia ke dalam genggaman kita dan raih kemenangan. Jangan pedulikan apa kata orang, karena jannah Allah yang kita harapkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.