Menantang Ulama

Kepalan TanganSiapa orang yang lebih takut kepada Allah di seantero alam raya? Ulama! Allah SWT. menyifati ulama sebagai sosok yang tidak punya rasa gentar kepada apapun kecuali kepada Rabbnya. Ketika manusia lain mengemis dan meminta pertolongan kepada sesama mahluk; berhala, alam, raja dan penguasa, sosok ulama mengenyahkan selain Allah dan menghempaskan jiwa mereka sendiri hanya kepada Raja yang sejati, Malik yawm ad-din (Yang Menguasai Hari Pembalasan).

Para sahabat adalah generasi ulama terbaik. Perpaduan gelimangnya ilmu, keluhuran akhlak, dan keberanian singa padang pasir, melekat pada diri para sahabat. Sejarah pun bergetar saat Zaid bin Datsinah – semoga Allah meridloinya — akan dibunuh kaum musyrik Quraisy di Mekkah, Abu Sufyan bertanya kepadanya: “Hai Zaid, aku telah mengadukanmu kepada Allah. Sekarang, apakah engkau senang jika Muhammad berada di tangan kami menggantikan tempatmu, lalu engkau memenggal lehernya dan engkau kembali kepada keluargamu?” Maka dia menjawab: “Demi Allah! Aku tidak rela Muhammad menempati suatu tempat yang akan dihantam jerat yang menyiksanya, sementara aku duduk-duduk dengan keluargaku.” Abu Sufyan amat terkejut dan berkata: “Aku tidak pernah melihat seseorang yang mencintai sahabatnya seperti kecintaan sahabat-sahabat Muhammad kepada Muhammad.” Kemudian Zaid pun dibunuh.

Atau bagaimana juga ketegaran Khubaib radliallahu anhu yang ditawan kaum musyrik Quraisy lalu diseret untuk disalib. Khubaib berkata kepada mereka: “Jika kalian hendak menyalibku hingga aku bisa shalat dua raka’at terlebih dahulu maka lakukanlah.” Mereka memenuhi permintaannya hingga dia shalat dua rakaat dengan sempurna dan bagus. Kemudian dia menghadap mereka lalu berkata: “Demi Allah, ada pun seandainya kalian tidak menduga bahwa aku telah memanjangkan shalatku agar dapat mengulur waktu dari pembunuhan, sunguh aku akan memperbanyak shalat.” Mereka kemudian menyeret Khubaib dan menaikkannya ke atas panggung untuk disalib. Di atas panggung, menjelang eksekusi matinya, Khubaib radliallahu ‘anhu, meneriakkan doa: “Ya Allah, sesungguhnya telah sampai kepada kami risalah Rasul-Mu, maka besok sampaikan kepadanya apa yang membuat kami demikian. Ya Allah, hitunglah jumlah mereka dan bunuhlah mereka dengan sekali lumat, dan janganlah Engkau biarkan hidup seorang pun dari mereka!” Mendengar teriakan Khubaib, mereka menjadi gemetar, kemudian mereka tetap membunuhnya.

Duhai, adakah jiwa-jiwa seperti itu yang mengisi ruang batin mereka yang disebut ulama pada masa sekarang ini? Yang tidak pernah gemetar lutut mereka dan bercucuran air mata mereka melainkan hanya karena Allah? Yang dengan ketakutan hanya-kepada-Allah mendorong mereka tidak pernah gentar mengucapkan kalimatul haq sekalipun raga didera siksa dan nyawa diregangkan hingga berpisah dengan alam dunia? Yang malam sama dengan siang mereka jadikan waktu untuk memikirkan nasib umat dan bekerja untuk menjadi penjaga dan pengaman dienullah yang terakhir ini?

Memang banyak orang yang bisa menangis saat shalat atau ketika bermuhasabah, tapi seandainya air mata mereka yang mengalir dari kelopak mata bagaikan air bah tetap tidak akan sebanding dengan satu tetesan air mata para ulama. Banyak orang hari ini yang semata menangisi diri sendiri. Sedangkan para ulama mencucurkan air mata karena menangisi keadaan diri yang merasa berat untuk menjaga warisan dari habibullah, Rasulullah saw., agama ini dan umatnya. Hati para ulama diisi dengan ghirah semata memburu keridloan Rabb mereka.

Maka mereka menjauhi dunia demi mengejar mardlotillah, meski dunia kerap memburu mereka. Dunia dalam kehidupan para ulama berada di telapak tangan dan bukan dalam hati mereka, agar mudah mereka pindahkan kepada siapa saja yang membutuhkannya.

Karenanya sejarah mencatat kebesaran Imam Abu Hanifah yang meneladani kemuliaan Nabi Yusuf as. yang merintih kepada Rabbnya, “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh.”(QS. Yusuf: 33). Penjara pun dirasa lebih mulia oleh Abu Hanifah demi mempertahankan kehormatan diri, ketimbang menjadi pejabat negara tapi meludahi kemuliaan agama Allah. Hingga racun pun akhirnya disarangkan ke lambung ulama yang mulia ini karena keputusasaan penguasa lalim yang tak mampu menyeret sang imam ke pentas kekuasaannya yang berlumur kezaliman.

Duhai, adakah permata hari ini yang lebih mulia dibandingkan hati Abu Hanifah itu? Yang kulihat hari ini banyak orang jahil berlomba ingin mendapatkan gelar ulama agar bisa mencicipi dunia meski hanya satu jilatannya saja. Mereka merangkak ke kaki-kaki para penguasa agar bisa bersanding di sisi mereka meski hanya satu langkah saja. Menjadi alas kaki dan centeng penguasa yang kotor hari ini pun mereka rela. Lalu mereka menyebut diri mereka sebagai penjaga umat, penjaga negara, dan penjaga agama.

Di antara mereka ada yang berseru kalau tidak memilih pemimpin sekalipun dungu adalah haram. Lebih baik punya pemimpin sekalipun dungu dan pelacur agama ketimbang tidak punya pemimpin sama sekali. Pilihlah mereka yang paling cerdas di antara yang dungu, dan yang paling terhormat di antara pelacur-pelacur agama yang ada.

Lupakah mereka, bahwa seorang pelacur sejati hanya merusak dirinya dan suami orang, atau merusak rumah tangga wanita lain. Tapi pelacur agama merusak agamanya sendiri dan menyesatkan berjuta-juta orang. Mereka pun mengesahkan ‘pernikahan’ umat dengan pemimpin yang dungu dan penuh khianat ini. Padahal, seorang saksi saja disyaratkan haruslah mereka yang adil “disaksikan oleh dua orang yang adil di antara kamu,”(QS. Al-Maidah: 136). Lalu bagaimana bisa mereka mengesahkan seorang yang berjiwa pengkhianat mengangkangi umat ini?

Apa yang mereka lakukan ketika para pelacur agama itu menampakkan kebiasaan mereka sebagai pelacur? Para pemburu gelar ulama ini bungkam. Mereka bersembungi di balik sarung-sarung mereka, di balik mimbar khutbah, di belakang meja majlis taklim atau di balik munajat-munajat berjamaah. Ada yang merasa cukup menyeru umat agar berdoa agar para para zuama yang telah menyesengsarakan umat ini diberi hidayah. Seraya menyerukan umat agar bersabar tidak membangkang. Bukankah doa adalah ‘senjata orang beriman’ tutur mereka menyitir hadits Nabi yang mulia? Mereka adalah seburuk-buruknya pengecut, jauh lebih buruk ketimbang para preman yang menjadi calo angkutan kota di terminal-terminal yang suram.

Sebagian lagi ada yang terus setia bermakmum di belakang pantat para pengkhianat umat sekalipun terus menebarkan bau busuk. Tapi Allah telah membutakan penginderaan para pemburu gelar ulama ini sehingga sebusuk apapun mereka baui sebagai kesturi dan mereka tetap merasa sah bermakmum di belakangnya. Mereka berdalih dengan kerusakan yang teringan di antara sekian kerusakan. Lebih baik punya imam ketimbang munfaridan.

Duhai, itukah dalih kalian yang disebut ulama? Ataukah sebenarnya kalian mencari hilah (tipu daya) dalam syariat Allah agar bisa menjilati remeh-remeh dunia muntahan para penguasa yang kalian sembah? Tidakkah kalian takut dengan peringatan Allah SWT.:

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” Berkatalah ia: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?” Allah berfirman: “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan.” Dan demikianlah Kami membalas orang yang melampaui batas dan tidak percaya kepada ayat-ayat Tuhannya. Dan sesungguhnya azab di akhirat itu lebih berat dan lebih kekal.”(QS. Thaha: 124-127).

Aku bertanya, apakah arti gelar ulama bagi kalian semua? Apakah itu gelar adalah kegenitan jiwa yang mengharapkan pujian banyak orang? Ataukah itu titian hidup kalian agar mendapatkan recehan dunia?

Aku menantang para ulama agar berdiri membela kehormatan Rasulnya layaknya Zaid bin Datsinah rela berlumur darah ketimbang Rasulullah yang dicintainya ditukar dengan dirinya.

Aku menantang kalian para ulama agar berjiwa semulia Abu Hanifah yang lebih merasa nyaman berada di penjara ketimbang duduk di kursi singgasana dan hamparan karpet megah tapi menjadi alas kaki para penguasa lalim.

Aku menantang kalian para ulama agar menunjukkan diri sebagai sebenar-benarnya pewaris nabi yang tidak punya rasa takut kecuali hanya kepada Allah, Yang Maha Menghidupkan dan Maha Mematikan.

Aku menantang kalian agar berdiri memimpinku berjuang menegakkan syariat Allah, mencampakkan sistem batil, berjuang merengkuh khilafah rasyidah yang dijanjikan RasulNya menuju izzul Islam wal muslimin.

Aku menantang kalian! Aku percaya Allah bersama kita!

Incoming search terms:

  • avatar orang islam
  • gambar orang mnantamg
  • yaa sattaaru sattir uyun

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *