HOPELESS SEORANG SUAMI

bunga mawarCerpen ini saya ambil dari kumpulan cerpen Membunuh Orang Gila karya Sapardi Joko Damono dan saya taruh di buku saya Bukan Pernikahan Cinderellah. Met nyimak dan semoga ada ibrohnya

Saya seorang suami yang, setidaknya menurut pendapat saya, tidak banyak menuntut yang bukan-bukan. Istri saya seorang yang bergerak di bidang bisnis sedangkan saya pegawai negeri biasa, golongan tiga. Selama ini kehidupan perkawinan kami biasa-biasa saja, sampai kira-kira setengah tahun yang lalu ketika saya mulai menyadari bahwa saya kurang mendapat perhatian dari istri saya. Soalnya, kalau saya pulang dari kantor, istri saya sering tidak ada di rumah. Mula-mula memang saya memahami hal itu, sebab ia seorang yang sibuk berbisnis, tetapi lama-kelamaan saya menjadi sedikit curiga dan sakit hati. Bukankah seorang suami itu berhak mendapatkan perhatian dari istrinya; setidaknya diterima dengan salam atau ditanya apa saja yang saya lakukan hari itu? Saya sadar bahwa rumah tangga kami boleh dikatakan sepenuhnya bergantung pada penghasilan istri, namun apakah memang sama sekali tidak tersedia waktu bagi istri saya untuk, katakanlah, mengurus saya – misalnya menemani makan atau sekedar menyediakan minuman. Tidak usahlah ia melepaskan sepatu saya seperti yang dikerjakan nenek saya terhadap suaminya beberapa puluh tahun yang lalu, atau mencium saya seperti yang sering kita saksikan di sinetron.

Kalau saya memberanikan diri untuk bertanya, jawabnya enteng saja, “Saya ngurus bisnis dengan Bu Dadap atau Pak Waru; Ayah mesti maklum, dong.” Ia memanggil saya Ayah, meskipun kami belum punya anak dan menginginkan kehadiran seorang bayi yang mungil. Jika kebetulan saya sudah pulang pun, ia sering sekali minta izin untuk pergi ke rumah Bu Anu mengurus bisnis; “Dekat saja, kok. Paling setengah jam.” Dan ia baru pulang dua atau tiga jam kemudian. Saya tidak berhak mengusut apa-apa meskipun ada juga rasa cemburu jangan-jangan ia telah begini atau begitu.

Penghasilan saya sebagai pegawai negeri memang kecil dibanding dengan pendapatannya berbisnis ke sana kemari, tetapi lama kelamaan saya tidak bisa menerima keadaan serupa itu. Saya tidak menuduhnya main ini atau main itu, tetapi hanya mengharapkan sedikit memberi perhatian pada saya. Jika saya kemukakan hal itu jawabnya enteng juga, “Saya kan sudah menyediakan makan untuk untuk Ayah. Makan dululah, saya nanti saja kalau urusan dengan Pak Anu sudah selesai.” Dan ia pun kabur begitu saja. Ia memang tidak begitu suka memasak, jadi kami makan rantangan.

Istri saya memang tidak pernah menyinggung pekerjaan saya sebagai pegawai negeri, apalagi merendahkan gaji saya yang memang rendah. Saya juga tidak pernah memasalahkan kegiatannya sebagai makelar. Tetapi, entah karena apa, akhir-akhir ini saya suka merasa sangat tersinggung, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa terhadap istri saya. Tidak usah diperdebatkan, saya mencintainya. Hanya saja sisi perasaan saya yang lain tidak bisa juga disembunyikan, dan tidak mungkin dibendung jika sudah meluap. Mungkin saya ini seorang suami berpandangan kuno, tidak begitu memahami perubahan zaman. Jadi, saya merasa sampai pada jalan buntu. Saya akhirnya memendam keinginan yang hampir tak terbendung untuk membunuhnya saja supaya masalahnya beres. Saya benar-benar mencintainya dan karenanya tidak bisa berpisah darinya, tetapi juga tidak rela diperlakukan demikian. Jadi biar saja ia mati di tangan saya agar saya dijatuhi hukuman mati. Bunuh diri? Maaf, saya tidak memiliki nyali untuk itu, bukan terutama perkara dilarang agama. Dan membunuhnya akan menandakan bahwa lelaki mahluk yang lemah, bukan? Namun, kalau saya terus-terusan diam saja begini, apa itu bukan tanda lebih jelas lagi bahwa lelaki memang mahluk yang lemah?

Ini masalah pribadi, namun dengan menyampaikannya kepada Anda saya setidaknya bisa merasa agak lega –jadi tidak begitu perlu Anda menjawab surat ini. Biar sajalah segala sesuatunya berlangsung seperti ini seperti yang sudah direncanakan-Nya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.