Duhai Amr bin Yasir, Kami Malu Kepadamu!

Obama    Amr bin Yassir ra. terhenyak menyaksikan kedua orang yang dicintainya meregang nyawa, menyongsong syahid di tangan kaum kafir Quraisy. Sumayyah bin Khayyat ra. bunda tercinta, dan Yasir bin al-Mughirah sang ayahanda gugur di jalan dakwah. Bagi Abu Jahal, teror ini selain untuk mengurangi pendukung Muhammad juga psy-war yang ditujukan untuk merontokkan semangat juang dan dakwah kaum muslimin.
Amr bin Yassir ra juga tak luput dari penyiksaan berat. Tubuhnya dicambuk dan dibakar dengan api. Amar bin Hakam menceritakan apa yang dialami oleh Amr bin Yassir, “Ammar itu disiksa sampai-sampai ia tak menyadari apa yang diucapkannya.”
Pada saat itu Abu Jahal menekan Amr bin Yassir untuk memuji-muji berhala-berhala mereka. Siksaan yang berat membuat sahabat mulia ini terpaksa mengeluarkan kalimat-kalimat yang sebenarnya dibenci dari lubuk hati yang terdalam.

Ketika Rasulullah SAW menemui sahabatnya itu didapatinya ia sedang menangis, maka disapunyalah tangisnya itu dengan tangan beliau seraya berkata, “Orang-orang kafir itu telah menyiksamu dan menenggelamkanmu ke dalam air sampai kamu mengucapkan begini dan begitu?”
“Benar, wahai RasuIullah,” ujar Ammar.
Rasulullah tersenyum berkata, “Jika mereka melakukannya lagi, maka ulangi apa yang kau lakukan!”

Nasihat Rasulullah saw. ini terkait dengan firman Allah SWT. yang membenarkan sikap Amr bin Yassar ra. FirmanNya:

مَنْ كَفَرَ بِاللَّهِ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالإيمَانِ وَلَكِنْ مَنْ شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِنَ اللَّهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

“Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar.”(QS. an-Nahl [16]: 106).

Tragisnya saat ini kita mengambil sikap untuk menyembunyikan kebenaran dengan dalih perbuatan Amr bin Yasir. Padahal apa yang kita alami jauh dari apa yang diterima oleh Amr bin Yasir. Sekedar untuk mengatakan ‘haram’ atas sebuah kemungkaran, lidah kita merasa kelu dan hati dicekam kecemasan.

Ada pula yang berdalih menyembunyikan kebenaran dengan maksud agar dakwah diterima oleh khalayak. “Kalau kita bicara terus terang, nanti masyarakat bisa kabur meninggalkan kita,” alasan mereka.

Pertanyaannya, apakah itu yang dilakukan Nabi saw. berhadapan dengan Abu Lahab di atas Bukit Shofa? Apakah Nabi bermanis muka di hadapan uskup Najran untuk mengambil hati mereka agar menerima dakwah Islam? Ternyata Beliau tidak pernah melakukan hal itu.

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan para ulama telah bersepakat ihwal kebolehan seorang muslim melakukan perkara yang dibenci atas kekufuran demi mempertahankan jiwanya, dan boleh juga ia memilih untuk terbunuh untuk mempertahankan keimanannya seperti Bilal bin Abi Rabah ra. Atau seperti Hubaib bin Zaid al-Anshory saat diinterogasi oleh Musailamah al-Kadzdzab: “Apakah engkau bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah?” Hubaib menjawab tegas, “Ya!” Musailamah penasaran, “Apakah engkau bersaksi bahwa aku adalah utusan Allah?” Hubaib menjawab,”Aku tidak mendengar!”. Musailamah lalu mengerat tubuh Hubaib sepotong demi sepotong dan Hubaib tetap berpegang teguh pada keimanannya (Tafsir Ibnu Katsir, juz 4 hal. 606).

Bila yang dijadikan alasan adalah menggalang dukungan atau mendulang suara, sungguh kita pantas malu kepada Amr bin Yasir. Tidak ada pembenaran apapun yang bisa diambil untuk melakukan itu. Seperti saat seorang politisi muslim berkelit saat ditanya apakah akan menerapkan syariat Islam seandainya menjadi kepala daerah. Tidak hanya berkelit malah dengan tegas dia menyatakan tidak akan menerapkan syariat Islam. Sungguh sebuah ironi. Padahal Allah SWT. mencela siapa saja yang menyembunyikan kebenaran.

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dila’nati Allah dan dila’nati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat mela’nati,”(QS. al-Baqarah [2]: 159).

Rasulullah saw. juga mengingatkan kaum muslimin agar tidak menghinakan diri sendiri karena berdiam diri tidak menyampaikan kebenaran padahal dia sanggup melakukannya.

لَا يَحْقِرْ أَحَدُكُمْ نَفْسَهُ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ يَحْقِرُ أَحَدُنَا نَفْسَهُ قَالَ يَرَى أَمْرًا لِلَّهِ عَلَيْهِ فِيهِ مَقَالٌ ثُمَّ لَا يَقُولُ فِيهِ فَيَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَقُولَ فِي كَذَا وَكَذَا فَيَقُولُ خَشْيَةُ النَّاسِ فَيَقُولُ فَإِيَّايَ كُنْتَ أَحَقَّ أَنْ تَخْشَى

“Janganlah seseorang menghinakan dirinya sendiri” Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimanakah seseorang menghinakan dirinya sendiri?” Beliau saw. menjawab, ”Ia melihat satu perintah Allah dan ia bisa mengatakannya namun ia tidak mengatakannya, maka Allah berkata padanya pada Hari Kiamat, ‘apa yang menahanmu untuk berkata begini dan begini?’ orang itu menjawab, ‘aku takut pada orang-orang’ lalu Allah berkata, ‘Akulah yang lebih berhak untuk kamu takuti’”(HR. Ibnu Majah).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.