Dendam Menguras Hati

DendamBayangkan bila Anda dimusuhi oleh saudara-saudara kandung, mereka bukan saja mengucilkan Anda tapi juga membuang Anda ke dalam sumur yang membuat jalan hidup Anda lalu penuh derita; dijual sebagai budak, difitnah oleh wanita yang bernafsu kepada Anda, dan masuk penjara dalam waktu yang lama. Apa yang akan Anda lakukan?

Emosi kita mengajarkan untuk membalas dendam. Tapi Nabi Yusuf as. memilih cara yang lain; memberi maaf. Kepada saudara-saudaranya yang pernah mengkhianatinya, Yusuf as. tidak melampiaskan kejengkelannya pada mereka, padahal ia sanggup melakukannya. Tapi ia malah berkata:

“Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu), dan Dia adalah Maha Penyayang diantara para penyayang.”(QS. Yusuf: 92)

Melepaskan amarah tidak membuat hati menjadi tenang, justru akan memicu kemarahan berikutnya yang jauh lebih besar. Inilah yang akan terjadi jika kita memelihara rasa dendam pada orang lain;

1. Menciptakan pembalasan yang lebih kejam. Ketika kita disakiti oleh orang lain maka tindakan balas dendam yang kita lakukan bisa jauh lebih kejam.

Di dunia maya orang bisa melepaskan kekesalan hati mereka pada orang lain dengan mencaci makinya lewat jejaring sosial semacam facebook atau twitter, menelanjangi dosa-dosanya lewat tulisan di blog agar bisa dibaca oleh semua orang. Saat itu kita ingin agar semua kawan kita juga memusuhinya. Padahal permusuhan itu hanya antara kita dengan dia, tidak melibatkan orang lain. Itulah yang sering dikatakan orang, pembalasan itu lebih kejam.

2. Membuat kita bersikap tidak adil pada orang lain. Pernah membaca atau mendengar berita orang yang sampai tega memutuskan hubungan dengan orang tuanya, karena dendam permusuhan? Atau menolak mengakui anak kandungnya sendiri karena kecewa?

Dendam permusuhan bisa menutup nurani kita untuk bersikap adil. Mata kita seperti tidak melihat ada sedikit pun kebaikan pada orang yang kita benci. Kita seperti interogator yang terus menerus mencari-cari kesalahan orang lain. Kita tidak bisa terima bila ia melakukan kebaikan. Semakin kita tahu kesalahan mereka, semakin ‘berbahagia’lah diri kita. Bukan hanya love is blind tapi hate is blind too.

Pada saat seperti itu kita sudah menduplikasi sifat syaitan. Bukankah syaitan senang menyaksikan kesalahan anak-anak Adam yang ayah mereka – Nabi Adam as. – telah menyebabkan ia terusir dari surga?

Mereka yang memilih hidup dengan dendam sebenarnya sedang merusak kebahagiaan hidup mereka sendiri. Menjadi pemaaf dan mengabaikan kesalahan orang-orang bodoh jauh lebih menenangkan karena membuat kita hidup tanpa beban memikirkan orang lain. Maka al-Quran mengajarkan sebuah doa yang indah untuk kita amalkan agar tidak ada dendam di antara sesama orang-orang beriman.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آَمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.”(QS. Al-Hasyr: 10)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.