Bogor Dalam Dekapan Syahwat

kebun rayaBeberapa waktu lalu Kota Bogor dikejutkan dengan beredarnya video mesum seorang pelajar putri sekolah Islam dengan kekasihnya. Kejadian tersebut menambah lagi deretan video mesum yang beredar di kawasan Kabupaten dan Kota Bogor, setelah sebelumnya sebuah hotel digerebek karena terbukti menjadi lokasi syuting film porno.

Dekadensi Moral
Bicara pergaulan bebas di kalangan kawula muda, sebenarnya Bogor sudah masuk taraf memprihatinkan. Banyak bursa seks di kota maupun kabupaten yang berjalan undercover. Masyarakat seperti sudah mendapatkan rahasia umum bahwa di mall ‘anu’ bisa didapatkan pelajar dan mahasiswi bispak, atau di mall lain ada komunitas lesbian dan gay.

Tidak bisa dipungkiri Bogor dan sekitarnya sudah menjadi salah satu tujuan wisata seks bagi turis lokal maupun mancanegara. Fenomena kawin kontrak dengan konsumen turis dari Timur Tengah sudah sering diangkat di media massa cetak maupun elektronik.

Bila tahun 80-an kita jarang mendapati pasangan yang bermesraan di muka umum, kini banyak tempat di Kota Bogor yang menjadi ajang bermesraan pasangan belum menikah tersebut. Ada sebuah jembatan yang bahkan dikenal dengan nama ‘jembatan cinta’. Pasalnya di jembatan itu sejak sore hingga larut malam banyak pasangan ilegal bermesraan di atas motor atau di trotoar di tengah kegelapan malam.

Menurut ketergangan warga, lampu penerangan jalan di sekitarnya sengaja dirusak oleh mereka sehingga perbuatan mesum mereka sepintas tidak tampak.

Kejadian lain yang membuat bulu kuduk berdiri adalah penemuan tumpukan alat kontrasepsi di underpass Kebun Raya Bogor. Proyek Pemkot seharga 3 miliar rupiah itu sia-sia bahkan disalahgunakan oleh para budak syahwat, baik pasangan muda-mudi, PSK maupun waria.

Hal lain yang membuat kita prihatin, perilaku seperti itu juga dilakukan oleh kaum muslimah yang berkerudung. Kita mungkin sering melihat remaja putri berkerudung yang asyik bermesraan seperti berpelukan dengan pacarnya. Bahkan sebagian dari mereka masih mengenakan seragam sekolah. Karenanya kejadian video mesum dengan pelaku siswi sebuah madrasah itu bukan hal yang mengherankan.

Hilangkan Penyangkalan
Beberapa tahun silam penulis pernah terlibat diskusi dengan seorang kyai dari sebuah ponpes di pinggiran Bogor. Beliau menyatakan bahwa Indonesia jauh lebih baik dibandingkan Arab Saudi. Dengan penuh keheranan dan rasa terkejut penulis sampaikan bahwa Arab Saudi memang dikenal dengan penyiksaan ataupun pemerkosaan kepada para TKW asal Indonesia, tetapi Indonesia juga tidak kalah buruknya dengan Saudi. Bahkan penulis sampaikan pada Beliau khusus kawasan Bogor Raya perilaku seks bebas termasuk prostitusi sudah memprihatinkan. Kala itu beliau terdiam.

Penulis memaklumi bila keluar pernyataan seperti demikian, karena lingkungan tempat beliau beraktifitas yakni pesantren relatif lebih terjaga ketimbang masyarakat umum. Pada bagian inilah penulis mengajak para pendidik juga alim ulama dan para asatidz untuk tidak tinggal di menara gading, tapi membumi. Penyakit sosial di masyarakat sudah begitu meruyak, khususnya di kalangan muda.

Apalagi diketahui kemudian jumlah kasus atau warga yang terinveksi HIV/AIDS Kota Bogor menempati peringkat ketiga di Jawa Barat. Jumlah tersebut lebih sedikit setelah Bandung dan Bekasi. Berdasarkan data KPAD Kota Bogor periode Oktober 2011, jumlah kasus HIV/AIDS sebanyak 2.029 kasus. Jumlah itu terdiri dari 1.332 orang terinfeksi HIV, 697 orang positif AIDS dan 56 orang meninggal karena AIDS.

Hilangkanlah penyangkalan dan berpikir bahwa kota kita tercinta ini baik-baik saja. Lebih baik kita berpikir waspada ketimbang lengah dan akhirnya kebablasan. Apalagi dalam ushul fikih ada kaidah “menolak kemudharatan lebih utama ketimbang mendatangkan kemaslahatan”. Sudah saatnya ada tindakan nyata dari aparat dan para alim ulama untuk menghentikan fenomena perbuatan mesum di kota Bogor.

Para aparat lebih sigap lagi menertibkan warga, khususnya kawula muda dari tindakan mesum di muka umum serta melakukan pengawasan di tempat-tempat wisata maupun di tempat-tempat penginapan.

Sementara itu para alim ulama melakukan dakwah yang membumi ke masyarakat. Menyampaikan dakwah Islam yang membumi sesuai dengan problematika umat kekinian. Tidak berdiri di menara gading sekedar menyampaikan seruan moral. Tapi mulai melakukan kajian-kajian yang komprehensif yang menyentuh persoalan umat yang telah mengalami dekadensi moral.

Semoga kota Bogor tidak seperti Kota Pompei yang dalam sejarahnya dikubur lahar panas dari letusan Gunung Vesuvius akibat perilaku warganya yang terkenal dengan berbagai tindakan mesum termasuk dimuka umum. Na’uzubillah min dzalik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.