
Photo by Ann H: https://www.pexels.com/photo/emoticons-with-different-expression-7313447/
Dewasa dalam mengelola emosi bukan semata kemampuan mengendalikan amarah. Kedewasaan mengelola emosi juga ditampakkan dalam kemampuan menghadapi masalah, menyelesaikan konflik, dan independen dalam mengambil keputusan.
Kematangan emosi pada suami istri begitu penting dalam menciptakan suasana pernikahan yang bahagia. Sebab pernikahan adalah relasi yang memang harus melibatkan emosi dan mesti menciptakan ikatan emosional. Rasa cinta, kasih sayang, pengorbanan, saling membantu, saling memaafkan adalah bagian dari ekspresi emosi seseorang yang harus selalu mengisi ’tanki’ cinta dalam pernikahan.
Islam sedari awal sudah mengingatkan kaum muslimin untuk berusaha untuk memiliki kendali emosi yang baik dan penuh kasih sayang. Bahkan Nabi Saw sendiri adalah pribadi tidak mudah marah dan kaya akan kasih sayang. FirmanNya:
Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. (TQS. At-Taubah [9]: 1128).
Prof Dr Wahbah Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir, dalam kitab tafsirnya menjelaskan makna ra’uf sebagai berikut; ”Ra’fah itu lebih lembut dari rahmah, yang mana disertai dengan kelemah lembutan yang mampu menghilangkan sebab suatu musibah. Dan rahmat itu di dalamnya mengandung kebaikan dan pemberian”.
Kendali emosi begitu ditekankan Nabi Saw dalam pergaulan suami istri. Allah Swt dan Rasulullah Saw selain memerintahkan para suami agar berlaku lemah lembut pada istri, juga agar tidak mudah marah apalagi sampai memukul. Lelaki yang terbaik disifati oleh Nabi Saw sebagai suami yang tidak (sembarangan) memukul istrinya. Sabda beliau:
لَنْ يَضْرِبَ خِيَارُكُمْ
Orang-orang terbaik diantara kalian tidak akan memukul [istrinya]. (HR Al-Hakim).
Sementara itu Allah Swt mengingatkan para suami agar senantiasa berlaku ma’ruf dalam kehidupan rumah tangga. FirmanNya:
Pergaulilah mereka secara baik. (TQS An-Nisa [4]: 19)
Tentang ayat ini penafsiran yang luar biasa dari Imam As-Shâwi. Beliau menegaskan, berbuat baik terhadap istri termasuk akhlak mulia meskipun mereka justru berbuat buruk terhadap suaminya. Wallâhu a’lam. (As-Shâwi, 1424 H/2004 M: I/280).
Namun Rasulullah Saw juga menunjukkan teladan sebagai pribadi yang punya karakter kepemimpinan kuat dalam pernikahan. Beliau pun tidak segan menasihati dan menegur istri-istrinya bila berlaku tidak ma’ruf. Di luar itu, Nabi Saw adalah pribadi yang pandai menyenangkan istri-istrinya.
Maka, kedewasaan dalam mengelola emosi bukan semata kemampuan mengendalikan amarah. Kedewasaan mengelola emosi juga ditampakkan dalam kemampuan menghadapi masalah, menyelesaikan konflik, dan independen dalam mengambil keputusan.
Tentang pentingnya mengelola emosi dengan sehat juga ditekankan para penasihat pernikahan. Dr Susan Heitler , psikolog dan konsultan pernikahan dari Rose Medical Centre, Denver, Amerika Serikat mengatakan, “Kemampuan untuk mengelola emosi dengan baik adalah kunci dalam menjaga hubungan pernikahan yang sehat.”
Ketidakmatangan Emosi
Karena itu salah satu penyebab hubungan dalam pernikahan menjadi bermasalah adalah ketidakdewasaan dalam mengelola emosi. Sayangnya, tidak semua orang menyadari bila mereka punya persoalan dalam pengelolaan emosi. Akibatnya, relasi dalam rumah tangga seperti roller coaster; naik turun. Jarang tercipta ketenangan.
Berikut sejumlah sifat yang menandakan bahwa seseorang belum matang secara emosi. Semua tanda-tanda ini patut untuk diluruskan agar rumah tangga menjadi sakinah:
- Minim kesadaran diri
Pernah melihat orang berpakaian seenaknya di acara-acara formal? Begadang main game atau di kafe padahal deadline tugas kuliah atau pekerjaan sudah mepet? Nah, itu beberapa tanda belum matangnya pengelolan emosional pada diri seseorang. Minim kesadaran diri. Malas, tidak respek pada orang lain, tidak menghormati yang tua, ingin dirinya didahulukan atau diistimewakan, suka memanfaatkan kedudukan dirinya atau orang lain untuk keuntungan sendiri, dsb.
- Impulsif
Seperti anak-anak, pribadi yang belum dewasa dalam mengelola emosi sering bertindak tanpa berpikir panjang. Mereka jarang memikirkan dampak perbuatan yang dilakukan, FOMO (Fear Of Missing Out). Apa yang sedang tren langsung mereka lakukan. Shopping tanpa berpikir apakah sesuai kebutuhan, juga tidak berpikir itu menghabiskan uang bulanan.
- Sulit berempati
Pribadi yang secara emosional belum matang biasanya sulit untuk berempati. Dalam pernikahan ada istri yang tidak mau memahami kesulitan suami dalam mencari nafkah. Melulu berpikir kewajiban suami adalah memberi nafkah.
Suami yang miskin empati juga membuat pernikahan menjadi sulit. Suami seperti ini jarang turun tangan membantu pekerjaan rumah istri atau mengasuh anak. Dia merasa itu kewajiban istri, sedangkan kewajiban dia hanya mencari nafkah .
- Mudah Marah Dan Baperan
Ini jelas tanda ketidakmatangan seseorang secara emosional. Perbedaan pendapat justru memicu pertengkaran. Ketika orang lain memberikan saran apalagi kritik, alih-alih mendengarkan dengan seksama ia malah merasa teritori kekuasaannya diserang. Akibatnya sering memicu konflik dengan orang lain.
Selain mudah marah, orang seperti ini juga mudah tersinggung. Baperan atau terlalu sensitif. Selain menunjukkan sikap marah, biasanya mereka memilih menarik diri dari circle pergaulan. Kadangkala sulit bagi mereka untuk pulih karena memendam perasaan marah atau kecewa.
- No Solusi, Tapi Lari
Ketidakmatangan seseorang juga terlihat saat ia memilih menghindari masalah dan bukan berusaha mencari solusi. Akibatnya berbagai persoalan yang dihadapi tidak kunjung selesai. Ia kesulitan untuk duduk bersama dan berpikir jernih memecahkan persoalan yang dihadapi. Sampai pada akhirnya ia tertekan habis-habisan, atau mati rasa dalam menghadapi hidup.
- Posesif
Cemburu dalam pernikahan itu harus, tapi cemburu yang berlebihan menjadikan pribadi yang posesif pada pasangan. Ini juga ciri ketidakmatangan dalam mengelola emosi. Pribadi yang posesif ini berpikir tidak boleh ada yang dianggap terlalu dekat dengan pasangannya, termasuk keluarganya sendiri.
- Bergantung Pada Orang Lain
Sebagian orang yang tidak matang dalam menata emosinya punya sifat begitu bergantung pada orang lain. Ini bisa dialami suami ataupun istri. Ada suami yang tidak bisa ambil keputusan sendiri tapi harus dibantu oleh orang tuanya atau saudaranya. Padahal hal yang sedang dihadapi berkaitan dengan internal keluarganya.
Ada juga istri yang sampai menikah sulit hidup bersama dengan suami, karena merasa masih bergantung pada orang tuanya. Bahkan memilih LDR dengan suami ketimbang harus meninggalkan kedua orang tuanya.
Bagaimana? Bila ada sebagian dari tanda-tanda di atas, maka sudah saatnya kita membenahi diri. Mulai belajar mematangkan kemampuan mengelola emosi. Apalagi untuk para pembaca yang belum menikah, menjadi amat penting untuk bisa mendewasakan diri sebelum melangkah ke jenjang pernikahan.
Kepribadian yang dewasa dalam menata emosi, bukanlah takdir Allah seperti rupa wajah dan warna kulit kita. Menjadi pribadi yang dewasa adalah pilihan yang bisa dibentuk seorang muslim dan muslimah. Caranya adalah belajar dan bersabar dalam menghadapi beragam dinamika kehidupan.
Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. (TQS. Asy-Syams [91]: 8). []

Leave a Reply