Berlindung Di Balik Kaum Dhuafa

MiskinKami memanggilnya Ustadz Soleh. Orang Sunda, perawakannya kecil dan suaranya lembut. Tampilannya bersahaja, jauh dari ustad-ustad lain yang kerap tampil glamor di layar kaca. Saya pribadi mengenalnya melalui perantaraan ustadz Hasan, guru mengaji saya. Ternyata Ustadz Soleh adalah mengelola pondok pesantren untuk anak-anak yatim dan para janda.
Di pondok pesantrennya yang sederhana kami pernah makan bersama. Dengan hidangan nasi liwet yang bertabur ikan teri dan sayur tumis kacang panjang dihiasi sambel terasi nan lezat. Alasnya pun daun pisang yang sengaja tak dipotong dari tangkainya. Makan bersama khas pesantren di kampung.
Suatu pagi itu, saya bertemu lagi dengan beliau. Saat itu Ustadz Soleh memimpin rombongan ‘santrinya’ – yang terdiri dari anak-anak yatim dan janda-janda tua — menghadiri tasyakuran soft opening sebuah kantor mentereng milik kawan saya.
Ketika beliau diminta memimpin pembacaan doa, ia mengawalinya dengan sebuah penuturan yang membuat saya terhenyak. “Saya sering diminta memimpin doa tapi sebenarnya saya tidak layak memimpin doa dan dimintai doa. Allah tidak pernah menjamin doa seorang ustadz itu terkabul, apalagi ustadz mah banyak dosanya.
Sebenarnya yang lebih mudah dikabulkan doanya oleh Allah adalah orang-orang dhuafa, kaum lemah yang tertindas. Itulah sebabnya saya mengurusi anak-anak yatim dan para janda, karena mereka adalah orang-orang dhuafa, orang-orang yang lebih didengar doanya oleh Allah,” tuturnya. Lalu ia bercerita di pondoknya banyak anak-anak dan kaum wanita yang kehilangan pencari nafkah keluarga. Ada yang memang meninggal, ada yang suaminya pergi begitu saja meninggalkan istrinya yang tengah hamil, dsb.
Dalam keadaan kesusahan seperti itu, Ustadz Soleh menampung mereka, membina keislaman para janda dan anak-anak mereka, serta membagikan rizki Allah yang datang lewat para donatur.
Apa yang dikatakan Ustadz Soleh benar. Allah memang menjamin terkabulnya doa orang-orang yang teraniaya.

وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ ، فَإِنَّهَا لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ
“Takutlah terhadap doa orang teraniaya, karena sesungguhnya tidak ada penghalang antaranya dengan Allah.”(HR. Bukhori)

Tindakan Ustadz Soleh berkebalikan dengan apa yang sering dilakukan kebanyakan orang. Kita lebih mendahulukan perkawanan dengan pejabat, pengusaha, orang kaya, tokoh masyarakat, selebritis ketimbang dengan kaum dhuafa. Kita berpikir bahwa pergaulan dengan mereka akan menaikkan status dan memudahkan segala urusan kita. Kenyataannya tidak. Allah justru lebih mudah mengabulkan permohonan kaum dhuafa ketimbang seorang ustadz sekalipun.
Penuturan dan perbuatan ustadz nan sederhana itu menggugah saya untuk memperbanyak perkawanan dengan kaum dhuafa. Karena dari lisan mereka yang teraniaya ternyata Allah memudahkan terkabulnya doa. Subhanallah!

Incoming search terms:

  • gambar kaum dhuafa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *