Apa Yang Membuat Kami Bertahan 12 Tahun?

bertahanApa yang Anda rasakan ketika usia pernikahan Anda sudah (atau baru?) menjalani usia yang keduabelas? Perasaan kami, alhamdulillah, semakin mantap. Dengan kehadiran empat orang anak (sementara ini), ada sebuah saung untuk berlindung, dan sebuah motor yang bisa mengantar kami ke mana saja, rasanya tidak ada yang tidak bisa kami syukuri. Everything is wonderful. Subhanallah!

Kami juga percaya kalau pernikahan yang menyenangkan — bahasa agamanya sakinah, mawaddah, wa rahmah — ternyata tidak ditentukan oleh ukuran-ukuran fisik. Ketampanan, kecantikan juga keberlimpahan materi. Awal menikah, kami masih menumpang di rumah mertua. Bagi saya, seorang suami, tentu bukan sebuah cita-cita untuk menyusahkan orang tua dan mertua. Penghasilan saya sebagai kepala rumah tangga belum memungkinkan untuk membeli sebidang tanah, atau membeli sepetak rumah. Subhanallah, kami bisa bertahan dengan segala kekurangan sampai akhirnya Allah membuka rizki dan menganugerahi sebuah rumah mungil yang kami bangun dengan bertahap.

Alhamdulillah, pernikahan kami tidak mati muda seperti Kim Kardashian dan Kris Humphrey, yang orang mungkin bilang ‘apalagi yang kurang’? Wanitanya cantik dan seksi, popular, yang mungkin 11 dari sepuluh pria di AS memimpikannya sebagai teman kencan. Yang prianya ganteng, popular dan juga kaya. Tapi cukup 72 hari saja pernikahan itu bertahan!

Mungkin pernikahan kami masih muda, baru 12 tahun, tapi kami merasa perlu untuk membagi sejumlah pengalaman batin kami yang bisa menyatukan kami sepanjang ini. Kami merasa berbahagia bila apa yang kami share ini bisa memberi andil untuk kebersamaan Anda dan pasangan.

– Landasi pernikahan dengan niat ibadah, bukan untuk semata menautkan ikatan cinta. Ada yang lebih penting dan berharga dibanding cinta, yakni mardhotillah. Ketika Anda berbuat baik pada pasangan karena mengharapkan ridloNya tak akan pernah ada kata sesal meski ia tidak membalasnya atau melupakannya.

– Selalu samakan visi dan misi semua aspek berumah tangga; tinggal dimana? Berapa putra yang diinginkan? Pola pendidikan anak dan pola belanja, dsb.

– Redam ego. Pernikahan bukan untuk menguasai pasangan, tapi untuk membangun kebersamaan. Untuk bisa bekerja sama maka perlu kerendahan hati untuk menerima masukan dari pasangan.

– Bangun cinta, bukan jatuh cinta. Membangun cinta berarti menumbuhkan dalam diri kita segala hal yang bisa membuat kita terus bertambah mencintainya. Ketika putra kami lahir, saya semakin sayang pada istri karena ketelatenan dia mengurus anak-anak kami.

– Try to be always listening, always understanding. Ini bukan iklan jasa asuransi asing, tapi begitulah hidup bersama. Jadilah pendengar yang baik dan memahami perasaan pasangan. Hindarilah sekedar jadi pembicara yang baik yang selalu ingin didengarkan.

– Tolong menolong. Para suami, jangan sungkan menceboki dan memandikan anak, mengajaknya bermain sementara istri memasak atau mencuci. Saya terus berjuang membuang gengsi ‘kelelakian’ saya untuk bisa meringankan pekerjaan rumah tangga istri saya.

– Menyempatkan waktu untuk bercengkrama berdua. Saat putra kami sudah bertambah, semakin susah mencari waktu untuk bisa berdua.

– Jadikan syariat Islam sebagai solving problem atas semua persoalan. Tidak ada solusi terbaik selain dari Islam. Saat kita kembali pada syariat Allah, pasti Allah akan memberikan jalan keluar.

– Banyak bertaqarrub pada Allah dan berdoa agar keluarga kita senantiasa dirahmati Allah. Hampir setiap hari kami sekeluarga menegakkan shalat dhuha dan membaca al-Quran, karena kami percaya hanya Allah yang bisa menyatukan hati-hati kami.

Mungkin ada yang mau menambahkan? Saya percaya Anda dan pasangan bisa melakukan lebih dari apa yang sudah kami lakukan. Semoga Allah menyatukan hati kita dan pasangan dalam naungan ridho Allah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.