Saudi Diberi Pelajaran, AS Meninggalkan Mereka

thomas-ashlock-EHZM5faHsY8-unsplash.jpg

 

Saudi ibarat kena scam dari AS. Miliaran dolar belanja senjata dari AS tak berdaya hadang serangan Houthi. Bantuan pun tak diberikan Gedung Putih. Saatnya tinggalkan AS menuju persatuan dunia Islam

 

Para penguasa Saudi kalut. Serangan militer milisi Houthi yang berpusat di Yaman membuat negeri yang dikuasai dinasti Saud kalang kabut. Sebagaimana diketahui sejak awal Agustus lalu milisi Houthi melancarkan serangan ke sejumlah kawasan strategis milik Kerajaan Saudi. Mereka mengklaim serangan yang menimpa kilang minyak milik perusahaan Saudi, Aramco, di Jazan. Serangan ini dianggap sebagai balasan serangan drone Saudi ke wilayah Saada dan Hajjah.

Konflik militer ini adalah bagian dari eskalasi konflik Iran-AS-Israel. Serangan Iran bukan diarahkan ke Israel, tapi juga menyasar sejumlah pangkalan militer milik AS yang berada di sejumlah negara Arab, termasuk ke Saudi Arabia. Houthi terlibat dalam serangan karena keberpihakan mereka pada Iran serta perlawanan terhadap operasi militer dan embargo yang dilakukan Saudi terhadap Yaman sejak tahun 2014. Serangan Saudi dimulai setelah sebagian besar wilayah Yaman, termasuk ibu kotanya Sana’a, dikuasai Houthi.

Eskalasi serangan Houthi meningkat terutama pada tanggal 13 September kemarin. Saat itu drone misil milik Houthi menyerang pangkalan militer Saudi di Sharurah (Sharurah base) di selatan Arab Saudi. Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, menyatakan serangan menargetkan gudang senjata serta pusat komando dan kendali di pangkalan tersebut.

Serangan Houthi berlanjut ke sejumlah kota di Saudi. Bahkan milisi Houthi sudah menguasai Selat Bab al-Mandab, kawasan yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan Samudra Hindia. Selat yang berarti Gerbang Mata Air ini salah satu jalur pelayaran paling sibuk dan strategis di dunia. Houthi sebelumnya juga telah mengumumkan blokade laut terhadap Arab Saudi, eksportir minyak terbesar di dunia. Penguasaan atas Selat Bab el-Mandeb berpotensi semakin mengisolasi negara-negara produsen minyak di kawasan Teluk dari jalur utama pengiriman mereka.

Saudi juga terpaksa menutup pipa East-West akibat serangan drone Houthi. Pipa sepanjang sekitar 1.200 kilometer merupakan jalur penting bagi ekspor minyak Saudi karena memungkinkan pengiriman minyak ke Laut Merah tanpa melewati Selat Hormuz. Pipa itu dalam beberapa bulan terakhir mengalirkan sekitar 4 juta-5 juta barel minyak per hari. Angka tersebut setara sekitar 4-5% pasokan minyak global.

Perkembangan itu membuat Saudi menghadapi tekanan dari dua arah. Selat Hormuz terganggu akibat konflik dengan Iran, sementara jalur Laut Merah yang menjadi alternatif kini berada di bawah ancaman Houthi.

 

Ditipu Dan Ditikam Amerika Serikat

Kondisi chaos yang dialami Saudi adalah ironis. Sebagai sekutu Amerika Serikat yang loyal, penyedia pangkalan militer untuk mereka, juga getol berbelanja peralatan perang dari AS, kini kelabakan mencegah serangan milisi Houthi yang mengandalkan persenjataan murah.

Saudi adalah pembeli senjata terbesar dari AS di kawasan Timur Tengah dengan nilai total penjualan 12% dari total transaksi perdagangan senjata asal AS di seluruh dunia. Pada bulan Mei tahun lalu Amerika Serikat dan Arab Saudi resmi menandatangani kesepakatan penjualan senjata senilai 142 miliar dolar AS (Rp2,35 kuadriliun). Kesepakatan tersebut juga membolehkan AS memasok peralatan untuk memperkuat kapabilitas angkatan udara dan antariksa serta pertahanan udara dan rudal Arab Saudi.

Di awal September tahun ini, pemerintah Amerika Serikat mengumumkan persetujuan penjualan bom, perangkat pemandu, dan peralatan militer lainnya senilai US$5 miliar (setara Rp 88 triliun) ke Arab Saudi.

“Penjualan yang diusulkan ini akan meningkatkan kemampuan pertahanan udara Arab Saudi untuk melawan ancaman regional saat ini dan di masa mendatang, memperkuat pertahanan dalam negerinya, dan meningkatkan interoperabilitas dengan sistem yang dioperasikan oleh pasukan AS dan mitra kawasan Teluk lainnya,” kata Departemen Luar Negeri AS dalam sebuah pernyataan, dilansir kantor berita AFP, Sabtu (5/9/2026).

Penjualan ini juga ditujukan untuk memperkuat dominasi AS di kawasan Teluk, sebagaimana pernyataan resmi Gedung Putih. ”Mendukung tujuan kebijakan luar negeri dan tujuan keamanan nasional Amerika Serikat dengan meningkatkan keamanan Sekutu Utama non-NATO,” kata departemen tersebut.

Namun seperti yang dialami Israel, berbagai alat pertahanan asal AS itu ternyata tidak bisa melindungi Saudi. Dalam konflik kemarin milisi Houthi mengklaim mereka sukses menjatuhkan jet tempur F-15 milik Saudi dengan roket lokal.

Andaikan klaim ini benar jelas tamparan keras untuk Saudi dan Amerika Serikat. Pasalnya, pesawat tempur F-15SA Arab Saudi, yang merupakan varian paling canggih dari F-15E, memiliki harga pembelian perunit sekitar Rp5,4  triliun.

Sekarang Saudi mencoba menarik dukungan dari dunia Islam dengan melemparkan opini bahwa Houthi menargetkan serangan ke dua kota suci; Mekah dan Madinah. Namun rupanya permainan opini ini gagal. Houthi membantah tuduhan tersebut. Apalagi di era kecanggihan dan kecepatan berita, berbagai kabar bisa segara diklarifikasi oleh publik lewat media sosial.

Selain itu, ketidaksukaan umat Muslim terhadap Dinasti Saud – terutama pada era Pangeran Salman – makin menjadi. Kaum muslimin melihat Saudi semakin liberal, berdiam diri terhadap genosida di Gaza, dan malah bersekutu terang-terangan dengan Amerika Serikat yang menyokong zionis Yahudi.

 

Dikelabui AS

Dalam kasus serangan Houthi, Saudi kena sial dua kali. Sudahlah persenjataan AS dan pangkalan militernya seperti tak berguna, mereka pun beresiko ditinggalkan sendiri menghadapi gempuran Houthi. Padahal selama ini Amerika Serikat adalah andalan mereka menghadapi berbagai krisis politik dan terutama keamanan di kawasan.

Gedung Putih dilaporkan menyatakan menolak terlibat dalam konflik Saudi-Houthi. Menurut laporan Axios yang mengutip dua pejabat AS, Saudi disebut dua kali menelepon Presiden AS Donald Trump pada Kamis (10/9), terkait serangan itu. Laporan itu menyebut Trump menolak permintaan Saudi dan para pejabat AS menyatakan pihaknya tidak berniat mengambil tindakan militer langsung terhadap Houthi untuk saat ini.

Bahkan pejabat Amerika Serikat (AS) diketahui bertemu dengan pemimpin Houthi di Kedutaan Besar AS di Muscat, Oman, pada akhir pekan lalu. Pertemuan itu disebut melahirkan “kesepahaman” yang membuat pemerintahan Presiden AS Donald Trump tidak melakukan intervensi militer untuk membantu Arab Saudi menghadapi serangan Houthi.

Sebagaimana dilansir The Guardian, Rabu (16/9/2026), Houthi menjanjikan kepada pemerintahan AS bahwa pelayaran AS dan internasional tidak akan terdampak di Laut Merah. Hanya kapal yang terkait dengan Arab Saudi yang menjadi sasaran karena blokade yang diberlakukan Riyadh terhadap Yaman. Kelompok bersenjata yang didukung Iran itu juga meyakinkan pihak AS bahwa kesepakatan gencatan senjata dengan Arab Saudi yang dicapai pada 2025 masih berlaku.

 

Pecah Belah Dan Lemah

Apa yang terjadi dalam krisis di Teluk belakangan ini adalah gambaran dunia Islam belum beranjak dari skenario Barat; pecah belah dan bergantung pada para penjajah. Para penguasa negeri-negeri Islam, terutama dunia Arab, masih mempertahankan ego nasionalisme mereka. Padahal paham ini secara politik menjadikan dunia Islam lemah dan tidak sanggup memecahkan berbagai krisis yang terjadi.

Secara syariat paham nasionalisme juga haram tanpa kompromi. Rasulullah Saw marah saat mendengar seruan-seruan kesukuan di tengah-tengah kaum Anshar dan Muhajirin. Kemudian bersabda:

دَعُوهَا فَإِنَّهَا مُنْتِنَةٌ

Tinggalkan karena sesungguhnya itu adalah busuk! (HR. Bukhari)

Eksistensi negara-negara nasionalisme juga memudahkan kaum imperialis menjadikan mereka proksi dalam berbagai konflik. Baik untuk menyingkirkan kompetitor mereka dari sesama negara penjajah, ataupun untuk menghantam sesama negeri muslim untuk mendapatkan kepentingan kaum penjajah.

Dalam konflik Saudi-Houthi dan Iran, kepentingan Amerika Serikat adalah menundukkan kepentingan Iran agar tetap menjadi negara satelit mereka. Mencegah pengembangan teknologi nuklir Iran dan melindungi negara zionis sebagai aset penting AS di kawasan. Sebab, berkembangnya Iran menjadi ancaman bukan saja bagi Israel, tapi juga untuk negara-negara Teluk yang menjadi sekutu AS.

Padahal fakta sekarang AS semakin melemah. Mereka tidak sanggup melindungi sekutu-sekutu mereka di Timur Tengah. Perang melawan Iran sudah menguras anggaran Pentagon sebanyak 38,1 miliar dollar AS (Rp 674,4 triliun) per Agustus. Sementara di dalam negeri mereka juga menghadapi persoalan ekonomi. Pemerintahan Trump juga semakin rapuh karena berbagai kebijakan dan keterlibatannya dalam kasus perdagangan perempuan oleh kawannya, Epstein.

Sebenarnya ini adalah momentum kuat untuk menyerukan persatuan kaum muslimin. Menghapuskan penjara imajiner nasionalisme. Mengajak kaum muslimin untuk berada dalam satu kepemimpinan, Khilafah Islamiyyah. Ini adalah satu-satunya solusi untuk menyelesaikan beragam krisis di dunia Islam.

Dengan sumber daya yang besar, baik manusia maupun alamnya, juga geostrategis yang luar biasa seperti Selat Hormuz dan Selat Bab Mandab, kaum muslimin bisa memainkan peran politik besar dan memimpin dunia. Inilah solusi terbaik untuk dunia Islam []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.