
Photo by Mike van Schoonderwalt: https://www.pexels.com/photo/bald-man-covering-ears-with-his-fingers-5511605/
Melburn McBroom adalah seorang bos yang otoriter, perangainya menakutkan siapa saja yang bekerja dengannya. Kenyataan tersebut barangkali tidak akan diketahui seandainya McBroom bekerja di sebuah kantor atau pabrik. Tetapi, McBroom adalah seorang pilot perusahaan penerbangan.
Pada suatu hari dalam tahun 1978, pesawat McBroom tengah mendekati Portland, Oregon, ketika ia merasakan ada masalah dengan gigi pendarat. Oleh karena itu, McBroom mencoba berusaha mengitari lapangan udara pada ketinggian yang cukup tinggi sementara ia mengotak-atik mekanisme pendaratan.
Sewaktu McBroom sibuk dengan peralatan pendarat itu, alat pengukur persediaan bahan bakar sedikit demi sedikit mendekati titik nol. Tetapi, kopilot-kopilotnya sedemikian ketakutan terhadap amarah McBroom sehingga mereka diam saja, meskipun malapetaka tampak di depan mata. Akhirnya, pesawat itu terhempas, menewaskan sepuluh orang.
* * * * *
Cerita di atas saya ambil dari buku Emotional Intelligence karya Daniel Goleman dalam bab Manajemen Berlandaskan Perasaan. Sekarang, kisah pendaratan itu dijadikan sebagai peringatan dalam latihan keamanan untuk pilot-pilot perusahaan penerbangan. Pelajaran yang diberikan dari kisah itu adalah betapa pentingnya kerja sama dalam setiap pekerjaan – khususnya di dalam kokpit -. Ketidakkompakkan ternyata bisa berakibat fatal.
Dari sudut lain, kisah McBroom di atas bisa menjadi pelajaran kalau menjadi orang yang keras kepala – apalagi otoriter — itu bisa membahayakan orang lain. Bahkan bisa ‘membunuh’ orang lain.
Seringkali kita mengeluhkan pasangan, kawan, atasan, pengurus masjid, yang keras kepala. Sulit menerima masukan dan nasihat dari orang lain. Bisa jadi orang di sekitar kita juga mengeluhkan sikap kita yang kepala batu. Tidak bergeming atas masukan dan pendapat dari orang lain.
Hal seperti itu membuat orang akhirnya menjauh dan tidak mau lagi memberi nasihat atau masukan. Memang tidak ada kewajiban menerima saran dan usulan orang lain, tapi bukankah dengan menerima masukan orang lain, apalagi banyak orang berpikiran serupa, bisa menjadi kebaikan bersama dan menjaga kekompakan?
Salah satu penyebab orang sulit mendengarkan nasihat orang lain adalah karena kita seringkali dibuat terpukau dengan berbagai kecanggihan public speaking, ketrampilan bicara, namun lupa membekali diri menjadi pendengar yang baik. Padahal, bila kita perhatikan bukan tanpa hikmah Allah menciptakan pada manusia dua telinga dan satu mulut; agar kita lebih sering mendengarkan ketimbang bicara. Namun, penyakit manusia adalah lebih senang bicara dan didengarkan ketimbang mendengarkan kalam orang lain. Padahal Nabi Saw banyak mengingatkan akan beratnya pengendalian lisan.
Sahabat Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu anhu pernah bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Apakah kita juga akan disiksa karena apa yang kita ucapkan?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:
ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَا مُعَاذُ، وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلاَّ حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ.
“Wahai Mu’adz! Semoga ibumu selamat. Tidak ada yang membuat manusia tertelungkup di atas wajahnya di neraka, melainkan disebabkan hasil lidah mereka.” (HR. Ahmad)
Jauh-jauh hari Imam Abu Hamid Al-Ghazali dalam kitab Ayyuhal Walad mengingatkan kalau menerima nasihat itu memang pahit, tulis beliau:
أَيُّهَا الْوَلَدُ..!!النَّصِيْحَةُ سَهْلَةٌ، وَالْمُشْكِلُ قَبُوْلُهَا، لِأَنَّهَا فِي مَذَاقِ مُتَّبِعِي الْهَوَى مُرَّةٌ
“Duhai anakku, nasihat itu mudah, persoalannya adalah menerimanya, karena nasihat itu pada orang yang mengikuti hawa nafsu terasa pahit.”
Kita sering diingatkan bahwa menyampaikan kebenaran adalah pahit, tapi ternyata menerima nasihat kebenaran itu jauh lebih pahit. Terutama ketika diri ini dikuasai hawa nafsu.
Bukan saja orang awam, tapi pengemban dakwah dan orang alim pun bisa terkena penyakit ini. Berapa banyak orang di atas mimbar bisa berapi-api memberikan tausiyah yang menggugah perasaan orang banyak, tapi dirinya sendiri tak tergugah atas sebuah nasihat dari orang lain.
Berapa banyak orang yang ketika disampaikan nasihat malah bersemangat mematahkan nasihat orang lain. Persis seperti yang digambarkan Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin, “Tapi kemudian kita tidak senang dengan orang yang mengingatkan perihal ahlak tercela…kita justru sibuk menentang orang yang menasihati kita dengan membalikkan perkataannya.”
Menurut beliau, penyebab munculnya rasa pahit menerima nasihat adalah kebanyakan dosa yang sumbernya adalah kelemahan iman. Maka butuh iman yang kuat untuk bisa menerima nasihat karena memang nasihat hanya bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.
وَذَكِّرْ فَاِنَّ الذِّكْرٰى تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِيْنَ
“Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang mukmin.” (TQS. Adz-Dzariyat: 55)
Bagi orang beriman, nasihat itu seperti peringatan dari seseorang kalau di bajunya ada binatang berbisa, maka dia akan senang menerima nasihat itu dan segera menyingkirkan binatang berbisa dari bajunya. Bukan malah mematahkan nasihatnya apalagi menghardik orangnya.
Setiap kita perlu khawatir sikap menolak nasihat adalah indikasi arogansi dalam diri. Sementara arogansi adalah salah satu sifat yang dicela Rasulullah Saw. Sabdanya:
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ
Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya ada kesombongan sebesar biji debu. (HR. Muslim). Kemudian Nabi menjelaskan ciri-ciri sombong;
الكِبر: بَطَرُ الحق وغَمْطُ الناس
Sombong itu menolak kebenaran dan merendahkan manusia.
Jadi, tidak ada kebaikan sama sekali dari menutup telinga atas nasihat orang lain. Di langit dicela, di dunia bisa celaka seperti si keras kepala McBroom.

Leave a Reply