Penting Dan Indahnya Deep Talk (III): Persiapan Diri Sebelum Deep Talk

 

 

Tidak semua orang bisa dengan mudah melakukan deep talk. Apa lagi untuk pasangan yang baru menikah. Maksud hati merekatkan hubungan, eh deep talk malah jadi pemicu keributan. Karena itu, siapkan diri agar proses deep talk berjalan dengan baik dan merekatkan hubungan.

 

Deep talk itu bukan sekedar bicara, apalagi basa basi. Deep membutuhkan rasa, ketenangan berpikir, prasangka baik, dan spirit membangun kebersamaan. Ternyata tidak semua pria ataupun wanita bisa dengan mudah melakukannya. Ditambah lagi, sebagai pasangan yang baru menikah, masih ada saja hal yang harus saling dipahami dan dimengerti.

Sebagai lelaki, seringkali saat istri menyampaikan harapan agar suaminya dapat berubah lebih baik, malah muncul ketersinggungan. Menganggap istri tidak menghargai suami. Eh, pas suami juga menyampaikan blak-blakan pandangannya tentang pernikahan, istri malah baper. Dinilai gagal sebagai pendamping hidup.

Jadi siapa bilang bicara itu tidak membutuhkan ketrampilan dan seni. Kalau hanya cuma berkomentar itu perkara mudah, tapi berbicara untuk membangun kebersamaan sambil menenggang perasaan pasangan itu membutuhkan ketrampilan.

Agar deep talk bisa berjalan lancar, menyenangkan, merekatkan hubungan, dan bila ada konflik  bisa segera diselesaikan, maka ada beberapa hal yang penting untuk disiapkan.

1. Awali dengan niat baik untuk membangun kebersamaan, bukan adu pencapaian

Semua amal ditentukan oleh niatnya. Ridho Allah akan datang ketika kita dan pasangan sama-sama menjalankan deep talk untuk memantapkan pernikahan. Niat baik pula yang harus jadi rem ketika deep talk sudah mengarah pada perdebatan. Jadi mulaikan deep talk dengan bersama-sama memiliki niat baik.

2. Lakukan dengan jarak keintiman

Penting untuk memperhatikan jarak saat deep talk dengan pasangan. Menurut para pakar komunikasi jarak ideal komunikasi yang akrab dan mesra adalah tidak lebih dari 50 cm. Barengi dengan sentuhan dan tatapan yang menunjukkan kebersamaan dan kasih sayang.

3. Siap mendengarkan dan menjauhkan diri dari perdebatan

Rasulullah Saw adalah pribadi yang tidak menyukai perdebatan yang tidak perlu. Beliau juga mengingatkan umatnya agar menjauhkan diri dari kebiasaan berdebat. Sabdanya:

يَا بُنَيَّ، إِيَّاكَ وَالْمِرَاءَ، فَإِنَّ نَفْعَهُ قَلِيلٌ، وَهُوَ يُهِيجُ الْعَدَاوَةَ بَيْنَ الْإِخْوَانِ

Wahai Anakku, tinggalkanlah mira’ (mendebat karena ragu dan menentang, debat untuk menjatuhkan) itu, karena manfaatnya sedikit. Dan ia membangkitkan permusuhan di antara orang-orang yang bersaudara. (HR. Baihaqi).

Jadilah pendengar yang baik meskipun yang disampaikan pasangan sesuatu yang dirasa kurang berkenan. Berikan penjelasan bila pasangan keliru dalam memandang diri Anda, namun tetap dalam niat baik menjalin kebersamaan.

Hal yang sering terjadi adalah salah satu atau keduanya lebih mau didengarkan ketimbang mendengarkan. Akhirnya deep talk berubah jadi perdebatan tajam.

4. Fokus dan tidak diselingi dengan aktivitas lain

Deep talk membutuhkan konsentrasi dan kesiapan mental. Maka siapkan slot waktu yang pas untuk melakukan deep talk. Cari waktu yang sama-sama senggang dan kondisi fisik cukup bugar. Bukan namanya deep talk kalau diselingi dengan aktivitas lain seperti memainkan gawai, mengasuh anak, atau sambil memasak.

5. Ketahui apa tema dan kalimat yang sensitif untuk dibahas

Cari tahu kata-kata atau kalimat juga tema yang sensitif untuk dibahas. Gunakan kata atau kalimat lain dengan tanpa mengurangi maksud pembicaraan. Sehingga bisa mengurangi resiko konflik dengan pasangan. Untuk tema yang sensitif awali dengan perkataan “maaf” atau “aku mau kita bahas ini, tapi kamu janji jangan marah/tersinggung”. Lalu mulai pembicaraan.

Bila dilihat pasangan tidak siap membahas tema sensitif ini, maka tunda, cari waktu lain yang Anda dan pasangan siap untuk membahasnya dengan kepala dingin.

6. Gunakan kata-kata kebersamaan

Para penasihat pernikahan sering mengingatkan kita untuk menggunakan kata-kata yang menunjukkan kebersamaan ketimbang ekspresi ego diri apalagi penyesalan. Na’udzubillah min dzalik hindari kalimat seperti; ”kamu selalu begitu” atau ”kamu memang gak pernah bisa ngertiin aku”. Apalagi kalimat yang menunjukkan penyesalan seperti ”kamu tuh penyesalan terbesar dalam hidupku”, ”orang lain lebih baik daripada kamu”, apalagi sampai terlontar tuntutan perceraian.

Sebaiknya gunakan kata-kata atau kalimat yang mendekatkan hubungan dan kebersamaan, seperti ”Menurut aku, langkah kita sudah benar selanjutnya menuju level lebih baik lagi”, atau ”Aku ingin kita selalu tumbuh bersama, bukan sendiri-sendiri”, atau ”aku sadar punya banyak kekurangan, tapi aku percaya kamu bisa mengajari aku untuk menjadi tim selalu bisa belajar kebaikan”.

Pesan Rasulullah Saw:

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

Seorang Muslim adalah orang yang selamat dari lisan dan tangannya. (HR. Bukhari)

7. Kebal diri, kurangi baper

Belajarlah menjadi pribadi yang tidak mudah baper, tapi kebal diri dari masukan dan respon pasangan. Bukan berarti kita jadi sosok yang tone deaf, alias tidak peduli. Namun jadi pribadi yang bisa lebih sabar dan mau menerima masukan dari pasangan. Ucapan yang kurang pas atau dirasa nyelekit bisa  keluar dari pasangan karena ketidaktahuan dia, atau bisa jadi kita yang terlalu baper. Obatnya adalah jalani deep talk dengan kesabaran dan motivasi untuk menjadi lebih baik lagi. Termasuk sambil belajar berbicara yang lebih baik lagi, dan jadi pribadi yang kuat mental.

8. Jangan lupa memuji dan berterima kasih pada pasangan

Berikan pujian tulus pada pasangan di akhir deep talk serta ucapan terima kasih. Ini menunjukkan kita memang menghargai dirinya, juga merasa hepi bisa berbicara dengannya dan dia mau mendengarkan apa yang kita sampaikan. [selesai]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.