
Photo by Peggy Sue Zinn on Unsplash
Seperti wabah musiman, setiap kali pemilu umat melihat selalu ada figur oportunis. Selalu mengikuti peluang dan kesempatan. Berpindah dari satu partai ke partai lain, dari satu kubu ke kubu lain. Termasuk dari perjuangan Islam menuju perjuangan yang lain.
Ada di satu masa seorang figur yang dekat dengan ulama, keras dalam membela Islam, tapi dalam masa berikutnya berada di barisan yang malah keras pada Islam dan tega pada ulama. Ada era dimana bermunculan figur muda harapan umat bak bunga bermekaran memberi harapan akan indahnya zaman, tapi tidak sampai separuh abad sudah layu ditelan kelam. Memilih untuk berkembang di kubu pendukung kezaliman. Bahkan keras terhadap terhadap perjuangan Islam.Puja-puji umat yang semula disematkan padanya berubah jadi keheranan bahkan cacian.
Ada juga partai yang mengaku Islam tapi mencla mencle, berpindah sikap dan haluan, walau tetap melabeli diri dengan simbol dan nama keislaman. Di satu hari ikut serukan tolak pemimpin kafir, tapi di tempat lain berkolaborasi bahkan mendukung calon kepala daerah yang kafir.
Apa yang terjadi? Demi strategi? Demi kepentingan pribadi supaya karir dan pundi kekayaan bertahan atau malah meninggi? Ataukah tersandera kasus sehingga takut hilang marwah dan citra diri?
Ada juga yang berubah haluan bahkan kiblat karena tidak sabar; tidak sabar menjemput kemenangan. Merasa perjuangan ini terasa lama dan hanya begini-begini saja. Ada juga yang tidak sabar karena perjuangan seperti menjadi penjara untuknya mencicipi kenikmatan dunia yang manis.
Sebenarnya semua persoalan ini datang dari hal yang sama-sama sudah kita ketahui; keimanan. Mengimani tak ada yang terbaik dalam hidup kecuali mendapat ridho Allah. Sedangkan ridhoNya yang terbesar diraih dari istiqomah dalam perjuangan.
Para sahabat radliallahu anhum memahami dan meyakini itu semua sehingga menjadikan hidupnya untuk perjuangan, melebihi kesungguhan mereka untuk mencicipi kenikmatan dunia. Mereka bukan mencari ridho Allah bersama dunia, tapi menukarkan kenikmatan dunia untuk ditransaksikan dengan ridho Allah. Khalid bin Walid ra mengatakan: “Tidaklah satu malam dilimpahkan kepadaku pengantin wanita yang aku mencintainya, atau aku digembirakan dengan kelahiran anak lelaki, lebih aku sukai dibandingkan dengan satu malam yang amat dingin menggigit kulit dalam ekspedisi menyerang musuh di pagi hari (Kitab Jihad, Ibnu Mubarak).
Atau bagaimana Abu Bakar ash-Shiddiq ra mendapatkan gelar al-‘Atiq/sang pembebas karena amalnya membebaskan para budak muslim — termasuk Bilal ra. — yang lemah dan mereka tidak mampu membayar kembali uang pembebasan dari Abu Bakar. Sampai-sampai ayahnya, Abu Quhafah menyesalkan perbuatan anaknya dengan mengatakan, “Bukankah sebaiknya kamu membebaskan budak-budak yang kuat, lalu kamu jadikan mereka penjagamu?” Namun Abu Bakar menjawab dengan nada yang lembut, “Ayah, aku melakukan ini semata-mata karena Allah.”
Al-Qur’an-lah yang membalas amal Abu Bakar dengan ayatnya dalam QS Al-Layl sehingga harumlah semesta raya sahabat Nabi ini:
Akan dijauhkan darinya (neraka) orang yang paling bertakwa, yang menginfakkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkan (diri dari sifat kikir dan tamak). Tidak ada suatu nikmat pun yang diberikan seseorang kepadanya yang harus dibalas, kecuali (dia memberikannya semata-mata) karena mencari keridaan Tuhannya Yang Mahatinggi. Sungguh, kelak dia akan mendapatkan kepuasan (menerima balasan amalnya). (TQS. Al-Layl: 17-21).
Jabatan dan kekayaan itu impian setiap orang. Termasuk keinginan para pejuang Islam. Namun disanalah pilihan harus dibuat. Dan sebenarnya semua tahu; muslim harus memilih ridho Allah dan akhirat. Tapi sinyal keimanan itu yang akan menentukan kuat lemahnya pilihan bertahan dalam ketakwaan dan perjuangan. Sebagian dari pejuang dan keluarganya memilih ada di jalan terjal dan berbatu, melepaskan kesempatan menggenggam dunia. Itu (lagi-lagi) karena kuatnya sinyal iman menggerakkan sel-sel di otak yang selanjutnya menggerakkan raga ini untuk bertahan dalam ketaatan.
Barangsiapa menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambahkan keuntungan itu baginya, dan barangsiapa menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian darinya (keuntungan dunia), tetapi dia tidak akan mendapat bagian di akhirat. (TQS. Asy-Syura: 20)
Bicara kemenangan, maka kewajiban pejuang adalah berikhtiar mengikuti jalan perjuangan yang telah dicontohkan qudwah kita, Nabi Saw. Tanpa berbelok ke kanan atau kiri, tetap lurus mengikuti setiap titik yang dicontohkan beliau. Tanpa mengkompromikan diri dengan kebatilan, atau masuk ke area abu-abu sambil berdalih mencari pembenaran. Tugas kita bukan berhitung kapan kemenangan akan diraih. Tugas para pejuang adalah beramal, beramal dan beramal.
Beramallah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan. (TQS. At-Taubah: 105).
Karenanya, di penghujung risalah sederhana ini, marilah merefresh kembali keimanan kita. Mereview kembali perjalanan perjuangan diri ini dan hidup ini. Bila kaki ini terlalu melebar pada dunia, kembalikan pada jalan marwah agama. Bila hati ini meragu pada rizki, ketuk kembali dengan asmaNya Ar-Razaq, Al-Ghaniy wa Al-Mughniy. Bila akal ini mencari pujian dari manusia, ingatkan kembali bahwa kebesaran dan kemuliaan hakiki itu hanya milik Allah.
Jangan juga merasa aman dan takabbur bahwa diri sudah benar-benar dalam perjuangan. Hisablah diri ini. Bandingkan dengan keimanan para sahabat dan ulama yang menjadikan siang dan malam mereka berkhidmat pada umat sambil tidak mengharapkan apapun kecuali rahmat Tuhan mereka.
Lalu bila diri ini telah terseret dalam hawa nafsu, jatuh dalam perbuatan dosa, khawatir disandera untuk kejahatan para penguasa zalim, maka bertaubatlah pada Allah. Akui segala kesalahan dan segera kembali pada jalan perjuangan agamaNya. Sadari manusia bisa khilaf dan keliru, namun jangan menzalimi diri dengan meninggalkan perjuangan yang mulia ini, karena Allah Maha Pengampun.
Apalagi bergabung dengan kezaliman dan berbalik memerangi perjuangan Islam.
Katakanlah, “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang. (TQS. Az-Zumar: 53)
Bila diri sudah merasa lelah dan sakit dalam perjuangan maka hibur dan obatilah dengan shalat malam, tilawah al-Quran, zikir dan doa, mendengar tausiyah dari orang-orang salih. Sembari meyakinkan diri bahwa kelelahan di dunia jauh lebih aman daripada kepayahan di akhirat.
Pada hari itu banyak wajah yang tertunduk hina, *(karena) bekerja keras lagi kepayahan*, mereka memasuki api yang sangat panas (neraka), (TQS. Al-Ghasiyyah: 3-5)
Bukankah kemuliaan dan segala karunia itu datang dan milik Allah, maka datangilah Ia dengan jalan perjuangan, niscaya Allah karuniakan dan muliakan para pejuang di jalanNya. Jadikanlah, pesan nabi ini sebagai zikir penguat iman para pejuang:
لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ اللَّهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ وَلَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ
Tiada sesembahan yang hak selain Allah semata yang tiada sekutu bagi-Nya, Ya Allah, tiada yang bisa menghalangi apa yang Engkau berikan, dan tidak ada yang bisa memberi apa yang Engkau cegah, dan tidak memberi faidah orang yang memiliki kekayaan, dari-Mu lah kekayaan itu. (HR. Bukhari)

Leave a Reply