5 Hal Yang Pantas Disesali Di Masa Tua

Photo by Elias Alex: https://www.pexels.com/photo/elderly-man-in-papua-new-guinea-outdoor-portrait-29629034/

Sesal selalu datang belakangan. Namun dalam hidup ini adalah hal-hal yang memang pantas untuk disesali bila telah berlalu. Perlu untuk direnungkan agar hal itu tak terjadi di usia tua kelak.

 

Ketika bicara umur dan waktu, baik ajaran Islam maupun tokoh dan filsuf dari Barat yang memberikan nasihat penting tentang hal tersebut. Jim Rohn, seorang pengusaha, penulis dan juga motivator mengatakan bila waktu lebih penting ketimbang uang. ”Time is more valuable than money. You can get more money, but you cannot get more time,” nasihatnya.

Tentu saja nasihat paling menakjubkan datang dari Kitabullah. Bagaimana Allah Swt ingatkan kita bahwa umur ini sudah dipanjangkan, dan Allah sudah kirimkan peringatan bagi orang-orang yang mau berpikir.

Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? (TQS Fathir [35]: 37).

Setiap hari yang berlalu adalah kesempatan emas untuk meningkatkan kualitas hidup. Andaikan setiap momen benar-benar kita manfaatkan maka berbagai keindahan hidup akan bisa dirasakan. Namun, sebagai manusia, hawa nafsu seringkali membuat kita abai akan berbagai kesempatan yang sudah Allah beri. Persis sebagaimana nasihat baginda Nabi Muhammad Saw:

نِعْمَتانِ مَغْبُونٌ فِيهِما كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ والفَراغُ

Dua kenikmatan yang kebanyakan manusia tertipu pada keduanya: kesehatan dan waktu luang. (HR. Bukhari).

Waktu dan umur memang baru terasa sebagai kenikmatan saat ia sudah berlalu. Terutama ketika kita menyadari bahwa banyak hal yang seharusnya kita lakukan tapi terlewat begitu saja. Berikut ini ada lima hal yang menurut penulis patut disesali bagi siapa saja yang sudah memasuki usia lanjut.

  1. Menyesal kurang bakti pada kedua orang tua

Terutama untuk para pembaca yang memiliki orang tua penuh kasih sayang dan mengajarkan agama, maka jadi penyesalan besar ketika kita kurang mencurahkan berbakti pada keduanya. Tahu-tahu salah satu atau keduanya sudah tiada. Atau, kita pun disibukkan dengan urusan diri sendiri, keluarga dan pekerjaan. Kesempatan membersamai mereka dan mencurahkan kasih sayang padanya semakin terbatas.

Inilah penyesalan yang patut hadir dalam hati manakala usia kita sudah di atas lima puluh tahun ke atas. Apalagi Nabi Saw mengingatkan dengan tegas akan kerugian seorang anak yang kurang berbakti pada kedua orang tua. Sabdanya:

رَغِمَ أَنْفُهُ ، رَغِمَ أَنْفُهُ ، رَغِمَ أَنْفُهُ ، قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، مَنْ ؟ قَالَ : مَنْ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ عِنْدَ الْكِبْرِ ، أَوْ أَحَدَهُمَا ، فَدَخَلَ النَّارَ

”Celaka orang itu, celaka orang itu, celaka orang itu!” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, siapa itu?” Rasulullah menjawab, “Orang yang celaka adalah orang yang mendapati keduanya masih hidup, atau salah satu darinya, tapi dia masuk neraka (karenanya).” (HR. Bukhari)

  1. Kurang Belajar Agama

Ini penyesalan yang harus ada ketika usia sudah berada di atas lima puluh tahun. Ada dua alasan; pertama, belajar itu membutuhkan kesegaran badan dan akal. Sedangkan pada usia lima puluh tahun keduanya semakin menjauh. Badan sering tidak fit dan kemampuan berpikir semakin menurun.

Alasan kedua mengapa penyesalan ini harus dan benar-benar harus hadir dalam hati, adalah mengingat amal kita selama sekian tahun yang bisa jadi dilakukan tanpa ilmu. Bagaimana nasibnya? Berapa persen kemungkinan diterima Allah Swt?

Selain itu berapa banyak kewajiban dan kesempatan amal salih yang terbuang karena ketidaktahuan kita tentang hukum-hukum Allah? Atau mungkin ada ajaran Islam yang dulu malah kita jauhi karena keawaman kita tentang agama Islam. Sementara itu, usia semakin menua dan kesempatan mengerjakan berbagai amal-amal salih itu semakin terbatas.

  1. Kurang menjaga hubungan dengan keluarga

Di usia produktif banyak orang yang begitu keras mengejar karir. Ya semua demi nafkah dan kualitas hidup. Namun sayang seringkali hubungan dengan keluarga justru dikorbankan. Banyak orang jarang hadir dalam kehidupan pasangan, anak dan keluarga besar. Sampai kemudian di usia lima puluh tahun, saat jelang usia pensiun, makin terasa hidup ini membutuhkan orang-orang yang tulus mencintai kita.

Orang-orang yang tidak menjaga hubungan baik dan kebersamaan dengan keluarga bisa merasa jauh. Ikatan emosi dengan pasangan lemah. Kesalahpahaman bisa makin menjadi. Sedangkan anak-anak sudah dewasa dan punya kehidupan masing-masing; kuliah, bekerja dan membangun keluarga. Sementara rekan-rekan kerja sudah pensiun, sulit untuk berkumpul, atau satu persatu sudah tiada. Bukankah pada usia seperti itu kita justru cinta dan kasih sayang dari orang-orang terdekat adalah enerji besar untuk melanjutkan hidup?

  1. Tidak menciptakan habit positif

Sering melihat bapak-bapak lansia berangkat ke masjid untuk salat subuh berjamaah? Teman, hal seperti itu tidak mudah dilakukan kecuali bila sudah menjadi habit sejak muda. Berbagai kegiatan positif dan amal salih yang dilakukan orang-orang di usia lima puluh tahunan adalah buah konsistensi sejak muda. Kata ulama dalam kitab Nasaih Al-’Ibad; siapa yang di waktu muda biasa terbiasa pada sesuatu, maka terus akan demikian.

Karenanya hal yang pantas disesali adalah di usia lima puluh tahunan adalah ketika di usia muda tidak membiasakan diri dengan amalan salih. Tidak membangun habit positif. Sebab, sungguh tidak mudah menciptakan ritual amal kebaikan di saat usia sudah tidak muda lagi.

  1. Tidak menjaga kesehatan sejak muda

Dunia kesehatan tanah air dikejutkan dengan temuan banyak penduduk usia muda harus mendapatkan perawatan cuci darah. Semua disebabkan pola makan dan gaya hidup mereka yang tidak sehat. Hari ini banyak penduduk Indonesia usia muda bahkan anak-anak terbiasa mengkonsumsi makanan berbahan pengawet dan minuman berpemanis buatan. Hasilnya, ledakan pasien cuci darah di usia muda.

Banyak orang berusia lima puluhan yang semakin sering sakit-sakitan. Semua berawal dari mengabaikan penjagaaan kesehatan. Sering begadang, makan tidak teratur, kurang olahraga, dsb. Dampak dari pola hidup seperti itu baru terasa di usia berikutnya.

Islam mengajarkan kita untuk menjaga kesehatan fisik. Semua bagian dari syukur nikmat. Meski sakit adalah qadha dari Allah Ta’ala, namun sebagai muslim ada perintah untuk menjaga kesehatan. Merawat kesehatan dan pola makan adalah investasi untuk kita di usia tua kelak. Nabi Saw bersabda:

مَا مَلَأَ ابْنُ آدَمَ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنِهِ حَسْبُ ابْنِ آدَمَ أَكَلَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ فَإِنْ كَانَ فَاعِلًا لَا مَحَالَةَ، فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ وَثُلُثٌ لِنَفَسَهِ

Tidak ada wadah yang penuh dan lebih buruk dari perut manusia. Cukuplah untuk memakan makanan yang dapat memberikan energi bagi tubuh, jika manusia melakukannya maka tidaklah mengapa. Sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman dan sepertiga lagi untuk udara. (HR. Ahmad).

Syekh Wahbah al-Zuhaili dalam kitab Fiqh al-Islami wa adillatuhu Juz III hal 505 menerangkan, “Islam sangat memperhatikan kesehatan jiwa dan raga. Oleh karenanya, Islam mewajibkan untuk memakan asupan standar atau pokok baik makanan maupun minuman untuk menjaga kehidupan, mencegah kerusakan jiwa, melakukan kewajiban-kewajiban agama seperti shalat, puasa dan yang lainnya”.

Bila Anda belum berusia lima puluh tahunan, mulailah hal-hal positif dan amal salih dalam hidup. Agar tak banyak hal yang disesali kelak.[]

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.