Lindungi Anak-Anak Kita!

Terkuaknya grup whatsapp LGBT di satu sekolah dasar di Pekanbaru, Propinsi Riau, yang diikuti pelajar SD menambah pekerjaan bagi sekolah dan terutama orang tua di rumah. Kita, masyarakat Indonesia, khususnya kaum muslimin disadarkan bahwa gelombang ancaman kelompok LGBT jauh lebih besar dan berbahaya ketimbang yang dibayangkan.

Selama ini orang tua dan para pendidik berpikir bahwa hanya kalangan dewasa atau remaja yang disasar, namun temuan di Pekanbaru memperlihatkan bahwa kelompok LGBT mulai menyasar kelompok usia paling bawah; anak-anak. Alasan kuat mereka melakukan ini adalah untuk menghancurkan pemikiran paling mendasar bahwa manusia diciptakan sebagai lelaki dan perempuan. Kaum LGBT ingin sedari dini merusak pandangan masyarakat bahwa gender dan orientasi seksual adalah pilihan, bukan natural. Bila ini berhasil, maka mereka bisa menciptakan generasi yang tidak kenal lagi ‘lelaki’ dan ‘perempuan’.

Kondisi lebih mengenaskan lagi di Amerika Serikat, bahasan LGBT sudah masuk ke dalam kurikulum sekolah dasar. Rencana ini sudah dilakukan sejak lama. Tahun 2011, pemerintah negara bagian California sudah merancang materi tentang LGBT masuk ke dalam kurikulum pendidikan, diantaranya bertujuan agar para pelajar mendapatkan tokoh panutan dari kalangan gay. Dalam kurikulum tersebut para siswa juga dibebaskan berbicara soal gender, orientasi seksual sampai soal masturbasi!

Rancangan ini seperti mendapat angin. Menurut berita ABC News lebih 6 dari 10 warga AS menentang pengesahan pemerintah yang melarang pelajaran tentang gender dan orientasi seksual di sekolah dasar (elementary school). Konten tentang LGBT untuk anak-anak sudah demikian marak di AS lewat bacaan dan terutama film-film. Film Spiderman terbaru (2023); Across The Spider Verse, sudah diributkan karena ada propaganda LGBT di dalamnya.

Setelah disahkan, mulailah berbagai agenda LGBT masuk ke sekolah. Mulai dari para pengajar yang transgender lengkap dengan pakaian mereka. Karnival-karnival LGBT yang melibatkan anak-anak masif diadakan.

Namun beruntung masih ada keluarga di AS yang waras. Sebagian orang tua dengan marah menolak kurikulum tersebut. Mereka berdemonstrasi dengan seruan menyelamatkan anak-anak mereka; #PrideMonth LEAVE OUR KIDS ALONE!

Alasan lain mengapa kampanye LGBT masif dilancarkan di kalangan pelajar adalah soal hasrat seksual. Sulit untuk mengingkari realita bahwa anak-anak lelaki sering jadi target kaum gay. Tahun 2018, seorang pria pedofil ditangkap kepolisian dengan jumlah korban 87 anak lelaki.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia menyatakan anak-anak lelaki justru lebih rentan menjadi korban kaum pedofil. KPAI merilis data sepanjang tahun 2017 ada 1.234 (54 persen) anak laki-laki menjadi korban dan pelaku kekerasan berbentuk pornografi. Sementara, korban dan pelaku berjenis kelamin perempuan ada 1.064 (46 persen) orang.

Tahun 2016, kepolisian membongkar prostitusi untuk kaum homo di kawasan Bogor. Aparat menemukan ada 99 anak lelaki di bawah umur yang sudah dijadikan pekerja seks komersil untuk sejenis. Prostitusi ini sudah berjalan setahun dan memang dikhususkan untuk kaum gay.

Prancis sempat digegerkan pada tahun 2021 dengan terungkapnya skandal pelecehan seksual terhadap sekitar 330.000 anak oleh pastor dan pejabat Gereja Katolik Prancis selama tujuh dekade terakhir. Kejahatan seksual mengerikan oleh para rohaniawan ini terjadi sejak tahun 1950 sampai 2020. 80 persen korban adalah anak lelaki.

Karenanya, kaum LGBT mendesakkan kampanye dan kurikulum ke level anak-anak bukan sekedar penanaman nilai, tapi patut dicurigai juga sebagai agenda keji untuk ‘memetik’ daun-daun muda. Mengerikan.

Di tanah air kaum LGBT ini masih terbatasi ruang geraknya karena rakyat Indonesia yang mayoritas muslim masih mudah disadarkan tentang keharaman perilaku ini. Masih banyak keluarga muslim dan muslim di tanah air yang berpegang pada ajaran agama bahwa perilaku gay, lesbian dan trangender dilarang agama. Selain itu, dakwah Islam yang terus masif juga makin menghambat pergerakan kaum LGBT ini.

Hal ini yang diakui oleh seorang pengkhotbah Kristen Mell Atock yang mengatakan bahwa terhambatnya gelombang LGBT di Indonesia dikarenakan mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam. Beda dengan Amerika Serikat dan Eropa dimana banyak gereja dan tokoh-tokohnya yang justru mulai menerima keberadaan kaum LGBT. Bahkan ada uskup yang gay, dan gereja juga sudah diberikan izin menikahkan pasangan sejenis.

Karena itu satu-satunya cara untuk memudahkan pergerakan kaum LGBT adalah menyingkirkan Islam atau memberikan tafsir baru tentang paham LGBT dalam Islam. Dua hal ini yang dilakukan oleh sejumlah kalangan seperti kaum sekuleris dan liberalis agar eksistensi kaum pelangi ini bisa diterima. Agenda pertama adalah menaikkan isu bahaya radikalisme Islam, di antara ciri kelompok radikal adalah menolak demokrasi dan kebebasan yang didalamnya adalah kebebasan orientasi seksual. Sehingga siapa saja yang menolak LGBT bisa dikategorikan sebagai kelompok radikal untuk selanjutnya dibanned.

Adapun yang kedua mengangkat pemikiran para tokoh Islam liberal untuk memberikan penafsiran tentang kisah kaum Nabi Luth dan pandangan fikih yang batil seputar hukum liwath. Bermunculanlah tokoh-tokoh seperti Irshad Manji atau Musdah Mulia yang mengkampanyekan LGBT. Di beberapa negara sekelompok muslim yang menyimpang membangun komunitas gay muslim bahkan membangun masjid untuk kaum gay.

Maka, tak ada yang bisa menyelamatkan negeri ini, bahkan dunia, kecuali kaum muslimin yang berpegang teguh pada ajaran Islam. Bencana LGBT ini hanya bisa dihadang oleh orang-orang yang punya pemikiran yang lurus, kuat hujjahnya, dan punya metodologi untuk menghilangkannya.

Tak ada kata lain untuk keluarga muslim selain wajib meningkatkan pemahaman Islam dan semangat dakwah. Kewaspadaan saja tak cukup bila orang tua tidak punya pemahaman Islam. Sekedar pemahaman Islam juga tidak efektif bila tidak dituangkan dalam gerak dakwah di masyarakat.

Karenanya, berdakwah adalah kewajiban setiap keluarga muslim. Dakwah mengajak umat ini menuju kehidupan Islam yang kaffah. Dimana ada perlindungan untuk anak-anak kita dari penyimpangan perilaku seksual.

Anak-anak kita harus dibekali pemahaman yang benar tentang gender atau jenis kelamin. Tata cara pergaulan dan tujuan penciptaan lelaki dan perempuan. Serta tentu saja ketaatan penuh pada Allah Swt.

Sungguh ini bagian dari pekerjaan besar, karena perlindungan untuk anak-anak dan keluarga takkan sempurna dalam masyarakat sekuler-liberal. Agama termasuk Islam memang tetap eksis, tapi budaya liberalisme akan terus mencoba menggerus kaum muslimin agar terlepas dari ikatan agamanya. Keluarga muslim harus berjuang menyelamatkan diri di tengah budaya ini sambil berjuang untuk membangun kehidupan Islam yang utuh dalam naungan syariat.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.